Oleh Kasdin Sihotang
Dosen Etika Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia
SELAIN kata “viral”, kata “artificial intelligence (AI)” atau kecerdasan buatan merupakan istilah yang sering muncul mengglobal akhir-akhir ini. Kecerdasan ini begitu banyak dibicarakan, baik di dunia akademik maupun di dunia sehari-hari. Tingginya intensitas diskursus demikian dipicu oleh pengaruh AI yang begitu luar biasa besar dalam berbagai bidang seperti profesi, pendidikan, ekonomi, dan bidang kesehatan.
Henry A Kissinger, dkk dalam The Age of AI and Our Human Future (2022) memperlihatkan bagaimana pengaruh yang begitu dahsyat itu terjadi. Ia menyatakan bahwa penggunaan AI yang masif dan meluas demikian membawa berbagai implikasi bagi eksistensi dan masa depan manusia, serta caranya menghayati hidup. Implikasi itu menjadi tantangan bagi kemanusiaan yang harus dijawab.
Pergeseran Paradigma
Manakah tantangan kemanusiaan yang dimaksudkan? Menjawab pertanyaan ini penulis melihat tantangan itu hadir minimal dalam empat hal berikut. Pertama, pergeseran peran dan fungsi manusia. Henry Kissinger, dkk dalam bukunya yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, AI telah menggeser fokus perhatian, pekerjaan, bahkan posisi manusia.
Jika di era sebelum kedatangan AI, manusia menempatkan dirinya sebagai pusat sejarah, menggali potensi dirinya, dan memberdayakan akal budinya secara maksimal untuk mengelola kehidupannya, maka di era AI, perhatian pada semua itu mulai berkurang. Fokusnya lebih pada pemanfaatan AI secara maksimal, karena kerja AI lebih cepat, akurat, tingkat keberhasilannyapun tinggi.
Perubahan di atas mengguncang pandangan tentang kedudukan manusia sebagai subjek yang kreatif, inovatif dan bebas. Dalam bukunya, The Coming Wave: AI, Power and the 21st Century’s Greatest Dilemma (2023), Mustafa Suleyman menyebut perubahan itu sebagai gelombang baru yang sedang menghantam manusia. Suleyman lebih lanjut menegaskan bahwa ketergantungan pada Artificial Intelligence menjadi ciri utama homo technologicus (manusia teknologis).
Gelombang baru ini menjadikan manusia sebagai subjek yang pasif, heteronom dan terikat. Implikasi lanjut pergeseran tersebut adalah bertambahnya jalan mengenal dan memaknai dunia. Jika sebelumnya jalan itu hanya iman dan akal budi, sekarang AI menambah deretan itu. Artinya, AI menjadi jalan ketiga bagi manusia teknologis untuk memahami dan menjalani hidup.
Kehadiran AI pun dapat mengubah cara pandang tentang dunia dan tempat manusia di dalamnya serta hadirnya identitas baru, yakni identitas online. Erich Schmidt dan Jared Cohen dalam bukunya, The New Digital Age (2013) sudah meramalkan itu dan memang kenyataan sekarang.
Jejak histori seseorang akan terekam semuanya dalam profil online dan melalui profil jejaring sosial itu seseorang dapat menuai pujian atau pantauan ketat. Jadi perubahan dari identitas yang dibangun di dunia nyata dan terproyeksi di duni maya, menjadi identitas yang dipoles di dunia maya. Artinya, terjadi identitas maya. Bentuk kehidupan nyata bahkan sudah direkayasa menjadi kehidupan artifisial alias kepalsuan.
Kedua, perubahan cara pandang tentang prinsip. Tantangan lain adalah bahwa AI menggugat cara pandang yang lazim tentang prinsip hidup. Karena AI bukan manusia, melainkan seolah-olah manusia, seperti dikatakan oleh Roger Hampson dan Nigel Shadbolt dalam bukunya, As If Human: Ethics and Artificial Intelligence, The Digital Ape: How to Live (in Peace) with Smart (2024).
Padahal dominasi kehadirannya dalam berbagai aspek kehidupan begitu besar, maka konsep tentang nilai yang disasarkan padanya harus berbeda. Artinya, nilai dan prinsip yang diterapkan pada manusia tidak bisa diberlakukan pada kecerdasan buatan. Dalam hal ini manusia ditantang untuk memikirkan sandaran etis baru dalam pemanfaatan AI.
Ketiga, subjek pengambilan keputusan. Tidak hanya dalam pandangan dan prinsip, tetapi juga dalam pengambilan keputusan, AI membawa tantangan baru. Sebelum kehadiran AI, solusi terhadap masalah dicari dengan mengidentifikasi aktor yang bertanggung jawab padanya, yakni manusia.
Dengan kehadiran AI, aktor itu diserahkan pada AI sebagai problem solver. Yang menjadi masalah: bagaimana kalau keputusan itu berhubungan dengan keselamatan hidup manusia? Jika eror terjadi dan mencelakakan manusia, siapa yang harus bertanggung jawab? Ini jelas menjadi tantangan baru yang harus dicari pemecahannya.
Pola Relasi dan Pedagogi Baru
Keempat, pandangan tentang relasi dan pendidikan. Karena kehadiran AI, tidak saja bagi metode pengembangan ilmiah, konsep tentang nilai dan fungsi manusia, tetapi juga pola hubungan dengan diri sendiri dan relasi antar sesama manusia harus berubah.
Di era sekarang masyarakat terpolarisasi dalam dua kelompok, yakni kelompok yang belum/tidak menguasai AI dan kelompok yang menguasai AI. Para orang tua kebanyakan masih tergolong dalam kelompok yang pertama, karena mereka memiliki keterbatasan dalam pengetahuan dan penggunaan AI, bahkan gagap teknologi.
Sementara Gen Z (lahir 1996-2012) dan Gen A (2013-2025) adalah kelompok kedua, yang memiliki kepiawaian yang luar biasa dalam penggunaan AI. Generasi ini memiliki sikap adaptif yang tinggi, dan cekatan dalam mengoperasikannya.
Gap pengetahuan demikian sedikit banyak mempengaruhi kualitas relasi di antara keduanya, padahal keduanya masih memiliki hubungan yang sangat dekat. Pencarian titik tengah demi terjalinnya hubungan yang baik dan humanis diperlukan.
Jika tidak, maka akan terjadi konflik di antara dua generasi ini. Artinya, bentuk dan pola relasi yang dibangun antara orang tua dengan anak perlu berubah, bukan lagi monolog, statis dan top down, tetapi dialog, dinamis dan partnership, bahkan bottom up.
Hal yang sama berlaku dalam pendidikan formal. Kedekatan bahkan kelekatan Gen Z pada AI mengisyaratkan pola pendidikan juga perlu berubah dari sifat konvensional monolog, otoriter ke pola adaptif, dialog, dinamis dan partisipatoris.
Kehadiran AI membuat fungsi pendidik nampaknya bukan lagi sebagai penentu dan sumber satu-satunya pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator dan pendamping. Untuk sampai ke sana cara pandang peran dan posisi perlu berubah.
Perlu Pendasaran Etika
Dari paparan di atas terlihat dengan jelas bahwa kehadiran AI menciptakan sejumlah tantangan baru bagi masa depan manusia. Tantangan-tantangan itu bersentuhan dengan originalitas dan autentisitas. Originalitas terkait dengan karya, sedangkan autentisitas terkait dengan jati diri manusia.
Dominasi peran AI akan membuat kita kesulitan untuk membedakan apakah karya-karya yang hadir di ruang publik atau pekerjaan peserta didik, merupakan hasil karya asli buatan manusia, atau buatan artificial intelligence.
Demikian halnya apakah wajah-wajah yang tampil di ruang publik digital merupakan wajah yang sebenarnya, atau sudah merupakan hasil rekayasa digital. Ini menjadi persoalan mendasar dewasa ini. Kecerdasan buatan membuat manusia dapat kehilangan autentisitasnya. Nampaknya akan muncul dominasi identitas diri digital dalam relasi sosial.
Berhadapan dengan sejumlah tantangan demikian, apa yang perlu dilakukan agar tidak terjadi penggerusan martabat kemanusiaan? Menjawab pertanyaan ini, penulis setuju dengan apa yang dituliskan oleh Angel Marquez dalam bukunya, Autonomy Lost: AI Ethics, Surveillance and the Control of the Digital Age (2024), yakni pentingnya pendasaran etika.
Karena itu penegasan Angel Marquez bahwa “By embracing ethical principles as foundation rather than peripheral to tech design, we can strive for balance. This balance does not mean stifling innovation, nor does it imply a passive acceptance of technology’s reach into our lives; rather it requires active engagement with the values up hold as essential” adalah hal yang sangat tepat.
Pernyataan Marquez di atas menegaskan keharusan manusia untuk berpegang teguh pada nilai-nilai, aktif terhadap AI, dan berjuang menciptakan keseimbangan dalam pemanfaatannya.
Bahwa perlu cara pandang baru tentang prinsip yang diterapkan dalam pemanfaatan AI memang benar, tetapi yang lebih perlu disadari adalah bahwa manusia merupakan subjek di belakang itu.
Bahwa teknologi memberi perspektif baru tentang cara pandang manusia dewasa ini tidak bisa dimungkiri. Akan tetapi pengakuan hakikat manusia sebagai makhluk yang otonom, subjek yang bebas harus dipertahankan dan terus digaungkan termasuk pada generasi Z.
Bagaimanapun AI tetaplah karya manusia. Dia memang bisa mengambil alih fungsi dan pekerjaan manusia, namun itu berdasarkan program dan rekayasa. Sebagai karya cipta buatan manusia, AI hanyalah seolah-olah manusia seperti ditegaskan oleh Roger Hampson dan Nigel Shadbolt.
Karena itu, dalam penggunaan AI, keluhuran manusia harus menjadi nomor satu. Manusia harus tetap merasa bebas di depan AI, karena otonomi adalah hak manusia paling inti miliknya. Hak ini adalah sesuatu yang melekat dan intrinsik bagi martabat manusia. Pendasaran ini harus diteguhkan kembali.
Manusia bukan hanya pengguna AI, melainkan ia juga penciptanya. Sikap yang jelas dan fundasi etis yang kuat merupakan kekuatan yang tak tergoyahkan dalam menjawab ragam tantangan tersebut di atas agar hakikat kemanusiaan tidak tergerus, bahkan tenggelam dalam euforia pemanfaatan artificial intelligence.










