Oleh Yoseph Yapi Taum
Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
LAUT Sawu bukan sekadar genangan asin yang memisahkan daratan-daratan di Nusa Tenggara Timur (NTT); ia adalah rahim sekaligus altar persembahan bagi imajinasi para penyairnya. Dalam antologi puisi Ratapan Laut Sawu yang disunting oleh Yoseph Yapi Taum, kita tidak sedang membaca sekadar kumpulan baris berima, melainkan sedang menatap sebuah peta batin yang luas.
Melalui pendekatan analisis korpus digital, wajah NTT muncul bukan sebagai brosur pariwisata yang molek, melainkan sebagai ruang yang religius sekaligus penuh luka. Sastra NTT, sebagaimana terekam dalam antologi ini, adalah sebuah kesaksian atas keteguhan manusia kepulauan dalam menghadapi kerasnya alam dan sejarah.
Antologi ini merupakan sebuah peristiwa budaya yang krusial, menghimpun suara dari 42 penyair yang terbagi ke dalam tiga lapisan generasi. Pemetaan ini bukan sekadar urutan kronologis, melainkan cermin transformasi estetika dan ideologis masyarakat NTT. Dengan menggunakan metode distant reading, kita dapat melihat pola dominan yang membentuk identitas kolektif mereka.
Generasi I: Metafisika Sabana dan Pencarian Tuhan
Generasi pertama, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Dami N. Toda dan Umbu Landu Paranggi, memandang NTT sebagai ruang kontemplatif. Bagi mereka, alam NTT adalah medium komunikasi dengan Yang Ilahi.
Kata-kata dominan seperti “sepi”, “buru”, dan “sabana” menunjukkan bahwa bagi generasi ini, NTT adalah tempat perjumpaan batin yang sunyi. Mereka meletakkan landasan bahwa menjadi orang NTT adalah menjadi manusia yang religius secara eksistensial.
Sabana yang luas bukan sekadar padang rumput, melainkan katedral tanpa dinding tempat doa-doa dilepaskan di bawah terik matahari yang menyengat.
Argumen utama pada generasi ini adalah “manusia adalah bagian tak terpisahkan dari ekologi”. Puisi-puisi mereka tidak menempatkan alam sebagai objek yang eksotis, tetapi sebagai subjek yang bernapas.
Ketika mereka menulis tentang “gunung” atau “debur”, mereka sedang membicarakan detak jantung mereka sendiri. Spiritualitas yang muncul bukanlah spiritualitas yang tekstual, melainkan spiritualitas yang organik, yang tumbuh dari batu karang dan debu jalanan.
Generasi II: Luka Sejarah dan Kritik Sosial
Berbeda dengan pendahulunya, generasi kedua yang dihuni oleh nama-nama seperti Maria Matildis Banda hingga Yoseph Yapi Taum sendiri, mulai membawa “wajah” NTT ke ranah yang lebih politis dan sosiologis.
Melalui analisis hubungan kata (collocation), terlihat pergeseran di mana kata “laut” tidak lagi bersanding dengan keheningan, melainkan dengan “ratapan”, “perempuan”, “darah”, dan “perbatasan”.
Bagi generasi ini, NTT adalah ruang yang sedang berjuang melawan luka sejarah —mulai dari trauma pasca-konflik perbatasan Timor Leste hingga persoalan kemiskinan yang sistemik.
Penyair pada generasi ini bertindak sebagai saksi zaman. Mereka memetakan NTT sebagai “Ibu Tanah” yang sedang menderita namun tetap tegar. Ada kemarahan yang puitis dalam sajak-sajak mereka. Kritik terhadap ketidakadilan sosial dan marginalisasi masyarakat kepulauan disuarakan dengan lantang.
NTT di mata mereka tidak lagi hanya sebuah lokus spiritual, tetapi sebuah medan tempur identitas yang menuntut pengakuan akan martabat kemanusiaan di tengah himpitan ekonomi dan politik nasional.
Generasi III: Estetika Urban dan Ingatan Lokal
Generasi termuda, seperti Mario F. Lawi dan Jonta, membawa wajah NTT ke dalam lanskap yang lebih kontemporer. Meski diksi mereka mulai menyentuh elemen urban seperti “kota”, “mimpi”, dan “sajak”, akar mereka tetap tertanam kuat pada memori kolektif.
Menariknya, analisis korpus menunjukkan bahwa meskipun mereka terpapar arus globalisasi, kata-kata seperti “darah” dan “ibu” tetap muncul dengan frekuensi tinggi. Ini menunjukkan bahwa bagi generasi ketiga, menjadi modern tidak berarti harus mencabut akar dari tradisi lokal.
Bagi mereka, NTT adalah identitas yang dibawa ke mana pun mereka pergi, sebuah “sajak” yang ditulis dengan tinta tradisi namun dalam bentuk yang lebih eksperimental. NTT tidak lagi dipandang sebagai entitas pedesaan yang statis, melainkan ruang dinamis yang terus bernegosiasi dengan modernitas.
Mereka mengeksplorasi bentuk yang lebih beragam, menggunakan metafora yang lebih tajam, namun tetap membawa ingatan akan “tanah” dan “laut” sebagai fondasi utama kreativitas mereka.
Analisis Korpus: Laut sebagai Saksi Penderitaan
Secara sistematis, data digital mengungkapkan fakta yang mengejutkan: kata “laut” hampir selalu dikaitkan dengan nuansa melankolis atau religius, dan sangat jarang dikaitkan dengan “keindahan” yang dangkal.
Hal ini mematahkan persepsi luar yang sering kali melihat laut hanya sebagai tempat wisata. Bagi penyair NTT, laut adalah batas antara hidup dan mati, saksi atas ratapan ibu-ibu yang kehilangan anak, atau nelayan yang bertarung dengan badai.
Personifikasi “Ibu Tanah” dalam korpus ini memperkuat argumen bahwa hubungan penyair NTT dengan tanah airnya bersifat maternal. Tanah bukan sekadar properti, melainkan rahim yang memberi kehidupan dan kubur yang menerima kematian.
Kedekatan ini menjelaskan mengapa puisi-puisi dalam antologi ini terasa begitu intim dan emosional; setiap kata adalah tetesan keringat dan air mata yang nyata.
Antologi Ratapan Laut Sawu ini menegaskan bahwa wajah NTT adalah sebuah paradoks. Analisis digital menunjukkan bahwa meskipun kata “kemiskinan”, “tangisan”, dan “luka” muncul secara signifikan, frekuensi kata “doa”, “harapan”, dan “Tuhan” tetap menjadi pemenang akhir.
Hal ini membuktikan bahwa para penyair NTT, dari lintas generasi, tidak menggunakan puisi sebagai alat untuk meratapi nasib secara pasif. Sebaliknya, mereka memetakan NTT sebagai sebuah wilayah yang memiliki daya tahan (resiliensi) luar biasa.
Antologi ini bukan hanya sekadar buku puisi; ia adalah dokumen sejarah batin yang jujur. NTT di mata para penyairnya adalah sebuah litani panjang yang dirapal di tepi pantai; sebuah wilayah yang religius namun tak pernah menutup mata pada luka sosial.
Laut Sawu, akhirnya dipahami bukan sebagai pemisah antar-pulau, melainkan sebagai “perekat” yang menyatukan ratapan dan harapan menjadi satu identitas kolektif yang utuh.
Sastra NTT adalah suara dari profetik yang justru memberikan cahaya, mengingatkan kita semua bahwa di tengah luka, selalu ada doa yang menguatkan, dan di balik ratapan, selalu ada harapan yang tak pernah padam.










