Puluhan Tahun Tak Diangkat Jadi CPNS Honorer Palang SD Inpres Muliama, Siswa Disuruh Pulang

Para guru honorer kategori 2 (K2) saat memalang SD Inpres Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Selasa (24/2). Aksi itu dilakukan di hadapan para murid akibat kecewa tidak diangkat sebagai CPNS. Foto: screenshot video

MULIAMA, ODIYAIWUU.com — Sejumlah guru honorer kategori 2 (K2) yang mengabdi belasan hingga puluhan tahun, Selasa (24/2) mengambil langkah tegas memalang Sekolah Dasar (SD) Inpres Muliama di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Alasannya, para guru honorer K2 itu sudah mengabdi belasan hingga puluhan namun nasibnya terkatung-katung alias tidak lulus seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2026.

“Selamat siang, adik-adik. Hari ini, Selasa tanggal 24 Februari semua guru yang ada di sini mau palang (sekolah). Bukan berarti ada masalah dengan para murid. Tidak,” ujar Joice —nama rekaan— sebagaimana video singkat yang viral di Jayawijaya, Papua Pegunungan, Selasa (24/2).

Namun, menurut Joice yang didampingi lima honorer lainnya, aksi pemalangan itu berurusan dengan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya. Joice menyebut, para honorer itu sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun di SD Inpres Muliama namun tak lulus CPNS.

“Dua guru yang di ujung sana sudah mengabdi 22 tahun. Lalu ibu guru Sintha sudah mengabdi sebelas tahun mengabdi di sini. Namun, saat pengangkatan CPNS Namanya tidak pernah keluar (muncul). Karena itu, guru-guru mau palang sekolah. Saat pemalangan adik-adik (para murid) tida usa datang sekolah,” kata Joice sembari menujuk seorang guru perempuan dan laki-laki.

Dalam kesempatan itu, Joice meminta Gubernur Papua Pegunungan Dr John Tabo dan Wakil Gubernur Dr Ones Pahabol serta Bupati Jayawijaya Athenius Murip dan Wakil Bupati Ronny Elopere memperhatikan para honorer K2 SD Inpres Muliama yang tak kunjung diangkat jadi CPNS.

“Kami honorer punya mau pemerintah harus turun lapangan (bertemu langsung para honorer SD Inpres Muliama) baru palang dibuka kembali. Jadi mulai sekarang, honorer palang pintu sudah. Sampe Pemerintah Jayawijaya turun baru palang dibuka,” kata Joice. Para honorer langsung bergerak memalang pintu sekolah negeri itu.

Joice menambahkan, para honorer siap mengabdi di sekolah itu tetapi para pahlawan tanpa tanda jasa itu kecewa. Mereka juga manusia. Joice menanyakan para murid apakah sedih memyaksikan langsung langkah pemalangan gurunya, mereka serentak menjawab “sedih”.

“Jadi, pemerintah dengar. Mereka (para murid) sedih. Semoga pemerintah tergerak hati untuk para honorer. Saat Sidang Paripurna DPRD Jayawijaya, kami juga sudah usul (guru-guru honorer diangkat jadi CPNS). Tapi tidak ada jawaban,” ujar Joice.

Di hadapan para murid kesayangannya, Joice mengaku langkah pemalangan itu bukan karena honorer marah kepada murid-murid. Para guru honorer itu sakit hati karena tak kunjung diangkat pemerintah menjadi CPNS.

“Jadi, kalau pemerintah datang di SD Inpres Muliama baru nanti (murid-murid) datang lagi. Da……… Jangan menangis,” kata Joice. Para murid kemudian balik kanan meninggalkan ibu dan bapa guru yang masih melanjutkan memalang sekolah. (*)