WAMENA, ODIYAIWUU.com — Wakil Gubernur Provinsi Papua Pegunungan Dr Ones Pahabol, SE, MM mewakili Gubernur Dr John Tabo, SE, MBA bersama Bupati Jayawijaya Athenius Murib dan Wakil Bupati Lanny Jaya Fredi Ginia Tabuni, Selasa (20/1) menyambangi dua kelompok warga yang terlibat konflik.
Ketiga pucuk pimpinan daerah itu bertamu kelompok warga suku Yali di Maplima serta kelompok suku Lani di Sinakma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya untuk berdialog sekaligus mencari solusi melalui jalan damai sebagai sesama anak asli tanah Papua.
Wakil Gubernur Ones Pahabol menegaskan, kehadirannya mewakili Gubernur John Tabo bersama Bupati Athenius Murip dan Wakil Bupati Fredi Ginia Tabuni beserta tokoh masyarakat bertujuan meredam ketegangan yang sempat memanas sekaligus memastikan proses perdamaian berjalan dalam semangat kekeluargaan.
“Kehadiran kami merupakan langkah konkret agar konflik tidak berlarut-larut dan stabilitas keamanan Wamena tetap terjaga,” ujar Ones Pahabol di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Selasa (20/1).
Ones di hadapan warga yang terlibat konflik mengingatkan, suku Yali dan suku Lanny memiliki ikatan sejarah serta spiritual yang kuat sebagai satu keluarga besar di tanah Papua. “Kita ini satu tubuh. Masalah ini adalah musibah yang tidak kita inginkan bersama,” kata Ones.
Ones juga mengapresiasi kedua kelompok yang mampu menahan diri dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat merugikan masyarakat luas.
“Saya menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur Papua Pegunungan yang berhalangan hadir karena sedang menjalankan tugas lainnya. Beliau mengutus saya untuk memastikan bahwa pemerintah provinsi hadir sepenuhnya dan turut merasakan duka mendalam atas peristiwa yang telah terjadi,” katanya.
Komitmen damai diperkuat Wakil Bupati Fredi Tabuni yang menyampaikan kesepakatan masyarakat Lanny Jaya untuk menghentikan konflik.
“Kami sepakat, di Wamena tidak boleh ada perang lagi. Kami berkomitmen penuh untuk berdamai,” ujar Fredy Tabuni.
Fredy mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya yang turun langsung merangkul masyarakat.
Sedangkan Bupati Murip menyampaikan bahwa kedua belah pihak telah memiliki kesamaan pandangan untuk mengakhiri konflik.
Menurut Murip, konflik hanya akan merugikan masa depan anak-anak dan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
“Mari kita kembali beraktivitas seperti biasa. Sekolah, perkantoran, dan pasar harus kembali berjalan normal,” ujar Murib.
Perwakilan suku Yali dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemerintah dan berharap mediasi segera membuahkan perdamaian agar tidak ada korban jiwa. “Kami tidak ingin ada korban lagi. Cukup yang sudah terjadi,” ujar perwakilan suku Yali.
Sedangkan perwakilan masyarakat Lanny Jaya berharap konflik segera diselesaikan secara damai demi keamanan bersama.
Pada Senin (19/1), kedua kelompok mengikuti mediasi yang difasilitasi Polres Jayawijaya, namun belum mencapai kesepakatan karena perbedaan pandangan terkait denda adat.
Ketidaksepakatan tersebut sempat memicu ketegangan sehingga massa dari kedua belah pihak masih bersiaga hingga Selasa (20/1). (*)










