JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Dewan Gereja Papua mendesak pemerintah Indonesia melalui TNI dan markas pusat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM untuk menghentikan konflik bersenjata di Papua.
Staf Dewan Gereja Papua (DGP) Eneko Pahabol mengatakan, konflik bersenjata dan operasi militer yang dilakukan di wilayah pemukiman telah menyebabkan terjadinya eksodus skala besar dari masyarakat.
“Dari Januari hingga Oktober 2025, di berbagai daerah Papua, kami mencatat ada 103.218 jiwa yang masih mengungsi,” kata Eneko mengutip tempo.co di Jakarta, Senin (15/12).
Menurut Eneko Pahabol, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak di Papua. Catatan Dewan Gereja menyebutkan, hingga Oktober lalu terdapat lebih dari 20 ribu warga Nduga mengungsi di Jayawijaya, Papua Pegunungan akibat kampungnya menjadi palagan konflik.
Kemudian, di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, tercatat lebih 10 ribu pengungsi di Papua. Para pengungsi itu, Eneko mengatakan, tersebar di Jayawijaya, kota Wamena, dan daerah lain. “Pengungsi Nduga di daerah lain seperti Wamena, Mimika, dan Puncak Jaya masing-masing mencapai 5-10 ribu,” kata Eneko.
Jumlah pengungsi hingga Desember ini kemungkinan mengalami penambahan karena intensitas konflik bersenjata di Papua masih kerap terjadi. Di sisi lain, kata Eneko, tim gereja dan relawan belum dapat melakukan aktivitas pendataan jumlah pengungsi lantaran medan, situasi yang tak memungkinkan, hingga risiko terlalu tinggi.
“Kami mendesak pihak yang berkonflik melakukan gencatan senjata pada Natal ini,” ujar Eneko lebih lanjut.
Sementara itu, kata Eneko, daerah lain yang turut mencatatkan jumlah pengungsi adalah Kabupaten Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai di Papua Tengah serta Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yalimo, dan Yahukimo di Papua Pegunungan dan Kabupaten Mamberamo di Papua serta Maybrat di Papua Barat Daya. (*)










