Dunia Pendidikan Papua Tengah Berduka, Kepala SMA Sentra Timika Meninggal: Ini Sekilas Profilnya

Kepala SMA Sentra Pendidikan Mimika Almarhum Yohanes Napan Labaona, S.Pd. Yohanes meninggal di RSUD Mimika, Papua Tengah, Senin (8/9) pukul 06.00 WIT. Foto: Istimewa

TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Dunia pendidikan Provinsi Papua Tengah, teristimewa Kabupaten Mimika berselubung duka. Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Sentra Pendidikan 5 atau SMA Sentra Yohanes Napan Labaona, S.Pd, Senin (8/9) pukul 06.00 WIT meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika.

Rasa duka mendalam dialami istrinya, Rufina Hungan serta anak-anaknya, Elen Labaona, Novi Labaona, dan Paul Labaona serta keluarga besar dan kerabat. Duka juga dirasakan para guru, murid, staf, dan orangtua SMA Sentra karena kehilangan sosok kepala sekolah yang total mendedikasikan tenaga dan pikirannya di lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak asli suku Amungme dan Kamoro serta suku-suku kekerabatan di Papua Tengah dan tanah Papua.

“Kami sangat kehilangan Bapa Yan Napan Labaona, orangtua dan sesepuh kami dari kampung halaman. Hari (Senin, 8/9) beliau menghembuskan nafas terakhir. Istri dan anak-anak serta kami semua merasa kehilangan. Tuhan punya rencana indah untuk Almarhum,” ujar Yohanes Ena (Yoman) de Ona saat dihubungi di RSUD Mimika, Papua Tengah, Senin (8/9).

Sementara itu, Rufina Hungan, istri Almarhum Yohanes Napan Labaona mengatakan, suaminya sempat dirawat di Rumah Sakit Charitas lalu sehat dan kembali ke rumahnya. Yohanes kemudian sakit lalu dirawat lagi di RSUD Mimika beberapa pekan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

“Selamat malam, Puji Tuhan. Bapa sudah ada perubahan sudah keluar dari ruang ICU ke bangsal RSUD Mimika. Doakan agar bapa lekas sembuh,” ujar Rufina Hungan dari Timika, Papua Tengah, Jumat (5/9). 

Yohanes Napan Labaona lahir 16 April 1967 di Desa Atawai, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ia masuk SDK Atawai, Nagawutun hingga tamat tahun 1980. 

Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Lamaholot Boto, (kini SMPN 2 Nagawutun) Lembata dan tamat tahun 1990 dan tamat SMA PGRI Swasthika Lewoleba, Lembata tahun 1996. Yohanes juga menyelesaikan kuliah di FKIP Universitas Flores (Unflor), Ende, Pulau Flores.

Dalam buku Jejak dari Rantau (2021) karya Ansel Deri, Yohanes menceritakan, usai menyelesaikan kuliah sejarah di Unflor, Ende, ia merantau ke Timika. Demi masa depan anak-anak tanah Papua, ia mendedikasikan tenaganya di SMA Sentra Timika. 

Selama kepemimpinannya bersama para guru dan staf di SMA Sentra, banyak lulusan putra-putri asli tanah Papua ‘menjadi orang’. Mulai dari kepala dinas, anggota TNI, pilot, bidan, guru, dan profesi lainnya. “Anak-anak Papua sangat cerdas,” kata Yohanes Napan dalam buku itu.

Yohanes juga mengaku, saat mengenang masa kecil di kampung halamannya, ia kerap jatuh air mata. Sang ayah, Yohanes Napan Labaona, meninggal saat ia masih dalam kandungan ibunda terkasih, Helena Gelu Ketoj (Almarhumah).

Merasa tak kuat menyaksikan sang bunda bolak-balik rumah-kebun sendirian, Yohanes malah menyusul ibunya dan bertahan di Targofot, kebun warisan sang ayah tak jauh dari Atawai, kampung yang berbalut rimba di kaki gunung Labalekan di bagian selatan Pulau Lembata. SDK Atawai terasa melumpuhkan semangatnya setelah ia tahu sang ayah sudah berpulang; tak ada gairah untuk melanjutkan sekolah.

“Pak guru Viktor Oseama de Ona setiap pagi menyampari ibu saya di kebun. Beliau mengajak saya agar kembali ke sekolah, tak boleh bertahan di kebun bersama ibu membersihkan rumput agar padi, jagung, ubi, pisang dan tanaman lain tumbuh subur. Setiap kali saya tidak masuk kelas, Pak Viktor akan segera menyusul saya di Targofot. Saya diajak baik-baik agar bisa melanjutkan sekolah. Saya merasa tak punya kekuatan lagi setelah belakangan tahu ayah saya sudah meninggal sejak saya masih dalam kandungan ibu.Toh, Tuhan menggerakkan hati saya. Kemudian saya memenuhi ajakan guru saya Pak Viktor untuk masuk kelas lagi,” kata kisah Yohanes.

Meski kerap sekolah Senin atau Kamis, toh, Yohanes berhasil menyelesaikan sekolah dasar. Jasa Viktor Oseama dianggap sangat besar membantu ia menguras semangat untuk sekolah di tengah keterbatasan. Dua tahun usai tamat SDK Atwai, Yohanes malah ikut aktif dalam kegiatan Muda Mudi Katolik (Mudika) Stasi Santo Rafael, Paroki Sant Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka.

Melalui wadah Mudika, ia menempah diri dan berusaha menghilangkan rasa sedih karena kepergian ayah menghadap Tuhan. Ia malah aktif mengikuti gemohing, kerja bakti secara bergantian membersihkan rumput rekan-rekan sesama anggota Mudika.

Namun, suatu pagi di kebunnya di Targofot ia sadar kemudian berpikir. Kalau bertahan menjadi petani seperti ibunya berarti kelak ia tumbuh menjadi orang yang tak memiliki ilmu pengetahuan meski memiliki keterampilan sebagai petani. Banyak anak petani sukses karena mendapat kiriman uang dari orangtua atau kerabat yang merantau di Malaysia atau Brunei Darussalam. Ini sesuatu yang menyemangatinya.

“Masuk SMP Lamaholot Boto, saya tergolong siswa paling tua dari segi usia. Saya kerap merasa minder dengan teman-teman. Tapi, saya sudah bertekad agar mampu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dari sini, saya perlahan mulai melupakan peristiwa tragis yang menimpah ayah saya. Setamat dari SMP Lamaholot Boto dan SMA PGRI Swasthika Lewoleba, saya berhasil menyelesaikan studi sarjana di Universitas Flores,” katanya.

Menurut Labaona, sejak di SMP, SMA maupun kuliah di jurusan Sejarah FKIP Universitas Flores, ia tak pernah membayangkan berangkat ke Papua. Pilihannya adalah mengabdikan tenaganya sebagai guru di pedalaman Kalimantan. Suara hati lebih dominan mendorongnya menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit dengan mimpi gaji besar.

Namun, akhirnya tahun 1998 ia bertolak ke Timika. Ia membayangkan, Timika kala itu bakal tumbuh pesat menjadi kota yang maju berkat kehadiran PT Freeport Indonesia, anak perusahaan Freeport Mc-Moran and Coppers, Inc, raksasa tambang dunia yang berbasis di Arizona, Amerika Serikat, milik James R Muffet.

Sejak 2005 Yohanes diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS). Kala itu, Bupati Mimika Klemen Tinal melalui Kepala Dinas Pendidikan Ausilius You mengangkat Yohanes sebagai Kepala SMA Sentra. Lembaga pendidikan ini adalah khusus untuk anak-anak asli Papua menata masa depannya. 

Selamat jalan menuju rumah Bapa di Surga, reu (sahabat) guru Yohanes Napan Labaona. Selamat jalan, pahlawan tanpa tanda jasa. Damailah di sisi-Nya. Amolongo, Nimao, Witimi, Saipa, Amakane, Koyao. Wa wa wa…………….. (*)