Oleh Dr Felix Baghi SVD
Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores
PADA tanggal 14 Maret 2026, dunia filsafat dikejutkan oleh berita wafatnya Jűrgen Habermas, dalam usia 96 tahun. Kepergiannya menandai sesuatu yang lebih dari sekadar berakhirnya kehidupan seorang filsuf. Kepergiannya menandai senjakala suatu tipe intelektual yang hampir lenyap dalam dunia kita: filsuf yang percaya bahwa “nalar publik” (public reason) masih mungkin menjadi fondasi kehidupan bersama.
Di Jerman, gelar “filsuf” tidak diberi begitu saja. Nama-nama seperti Kant, Hegel berdiri di puncak tradisi yang menuntut lebih dari sekadar kecemerlangan akademik. Mereka adalah arsitek cara bagaimana manusia memahami dunia.
Banyak profesor, bahkan intelektual publik yang berpengaruh, tidak pernah memperoleh sebutan itu. Bagi masyarakat Jerman, nama Habermas hampir tanpa perdebatan di ruang publik, karena dia adalah seorang filsuf yang sesungguhnya.
Dikutip dari Le Monde, Habermas sering disebut sebagai “pembela modernitas”, “hati nurani republik”, bahkan “Le dernier philosophe” -“filsuf terakhir”. Julukan “terakhir” di sini, tidak hanya merujuk pada panjangnya usia intelektualnya, tetapi pada posisi unik yang ia tempati dalam sejarah pemikiran filsafat: pembela terakhir proyek besar “Pencerahan” (Aufklärung).
Lahir pada 1929 di Düsseldorf, Habermas bertumbuh di bawah bayang-bayang kehancuran moral Jerman abad ke-20. Pengalaman hidup dalam masyarakat yang kemudian terbukti kriminal, rezim Nazi yang berpuncak pada tragedi Holocaust, menjadi latar belakang historis yang menentukan arah pemikirannya.
Pertanyaan yang membayang sepanjang hidupnya adalah: bagaimana mungkin masyarakat modern, yang mengklaim diri rasional dan maju, dapat jatuh ke dalam kebodohan, barbarisme, kejahatan dan kehancuran?
Sebagai penerus generasi kedua “Frankfurt School,” yang sebelumnya dihidupkan oleh Horkheimer dan Adorno, Habermas mewarisi skeptisisme mendalam terhadap rasionalitas modern. Namun ia juga mengambil jarak dari pesimisme para pendahulunya.
Jika generasi pertama teori kritis cenderung melihat rasionalitas sebagai instrumen dominasi, Habermas justru berusaha menyelamatkan inti emansipatorisnya. Di sini letak keberanian filosofisnya. Alih-alih meninggalkan proyek modernitas seperti yang dilakukan banyak pemikir postmodern, ia justru berusaha memperbaikinya dari dalam.
Karya monumentalnya, The Theory of Communication Action (1981) merumuskan tesis yang kini menjadi salah satu fondasi filsafat sosial kontemporer: “masyarakat tidak bertahan terutama oleh kekuasaan atau oleh uang, melainkan oleh komunikasi.”
Rasio manusia tidak hanya bersifat instrumental, menghitung, menguasai, dan mengendalikan, tetapi juga komunikatif: ia mencari pengertian bersama. Dengan kata lain, masyarakat hanya dapat bertahan jika manusia masih percaya pada kekuatan argumen.
Dalam pandangan Habermas, demokrasi bukan sekadar prosedur elektoral atau mekanisme institusional. Demokrasi adalah sebuah etos diskursus: kesediaan warga untuk berdebat secara rasional dalam ruang publik yang terbuka.
Di sini, lahir apa yang ia sebut ruang publik, arena di mana perbedaan tidak dihapuskan, tetapi dipertemukan melalui dialog. Keyakinan ini membuat Habermas menjadi salah satu intelektual publik paling aktif di Eropa.
Ia berbicara tentang berbagai persoalan zaman: dari etika bioteknologi hingga integrasi Eropa, dari peran agama dalam masyarakat sekuler hingga bahaya populisme kontemporer.
Dalam setiap intervensinya, ia mempertahankan keyakinan yang semakin terasa rapuh dalam dunia modern: bahwa politik masih dapat dibimbing oleh nalar yang baik dan benar.
Karena itu, Habermas juga menjadi pembela gigih proyek integrasi Eropa. Bagi dirinya, pengalaman tragis nasionalisme abad ke-20 menunjukkan bahwa masa depan politik tidak lagi dapat bertumpu pada negara-bangsa semata.
Ia mengusulkan gagasan “patriotisme konstitusional”: kesetiaan bukan pada identitas etnis atau sejarah mitologis, melainkan pada prinsip-prinsip demokrasi.
Dalam visi ini, Eropa bahkan dapat menjadi langkah menuju suatu masyarakat kosmopolitan global. Namun seperti banyak pemikir besar, filsafat Habermas juga berakar pada pengalaman hidup yang sangat personal.
Ia lahir dengan “kelainan langit-langit mulut” (cleft palate) yang membuatnya mengalami kesulitan berbicara pada masa kecil. Pengalaman itu membuatnya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: manusia tidak hanya hidup di dunia melalui tindakan, tetapi melalui kata-kata.
Bahasa bukan sekadar alat menggambarkan dunia. Bahasa adalah ruang tempat dunia bersama dibangun. Kini, dengan wafatnya Habermas, dunia intelektual kehilangan salah satu pembela paling konsisten dari rasionalitas publik.
Di zaman media sosial yang dipenuhi kebisingan opini, di tengah polarisasi politik yang tajam dan krisis kepercayaan terhadap institusi demokratis, gagasan Habermas terasa sekaligus kuno dan mendesak.
Kuno, karena ia masih percaya pada dialog rasional. Mendesak, karena tanpa kepercayaan itu, demokrasi kehilangan fondasinya. Barangkali itulah sebabnya ia sering disebut “filsuf terakhir modernitas”.
Bukan karena setelahnya tidak akan ada filsuf lagi, tetapi karena sangat sedikit yang masih berani mempertahankan keyakinan lama Pencerahan: bahwa manusia, melalui percakapan yang jujur dan rasional, masih mampu membangun dunia bersama.
Karena itu, wafatnya Habermas bukan hanya kehilangan seorang filsuf. Ia juga menjadi pengingat sunyi bahwa proyek pencerahan, keyakinan bahwa rasio dan komunikasi dapat membangun dunia yang lebih adil, masih merupakan tugas yang belum selesai.










