Pegiat Literasi Jadi Pembicara dan Salurkan Buku Karyanya Saat Diskusi Solidaritas Pelajar Papua

Ketua Umum Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan (GLMANPP) Sepi Wanimbo bersama para pengurus dan anggota Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP) saat usai diskusi bertema Pentingnya Tanah di Sekretariat SPWP, Jalan Hom-hom, samping Kantor Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (24/9). Foto: Istimewa

WAMENA, ODIYAIWUU.com — Fakta menunjukkan, Papua adalah tanah yang sangat kaya. Sumber daya alam (SDA) melimpah baik di atas tanah maupun di dalam perut bumi Melanesia. Tuhan menempatkan orang asli Papua di atas tanah leluhurnya agar mengelola SDA itu demi kelangsungan hidup di atas tanah itu.

Ketua Umum Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan (GLMANPP) Sepi Wanimbo mengatakan, Tuhan menganugerahkan orang asli Papua tanah yang kaya raya. Sejak dahulu tidak pernah ada cerita nenek moyang orang asli Papua meninggal akibat kelaparan di atas gelimang kekayaan alamnya.

“Tanah Papua kaya raya. Kekayaan itu merupakan karunia Tuhan bagi orang asli Papua. Sejak jaman dulu leluhur dan orangtua hidup aman, damai, harmonis dan selaras alam,” ujar Sepi Wanimbo saat tampil sebagai pembicara diskusi bertema Pentingnya Tanah yang diselenggarakan Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP) di Jalan Hom-hom, samping Kantor Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (24/9).

Menurut Sepi, Tuhan menempatkan orang asli Papua yang berambut keriting dan kulit hitam agar hidup harmonis, berkarya, beranak cucu, dan berkembang biak dalam satu honai besar yaitu dari Sorong-Merauke. Di luar Pulau Papua, orang asli Papua tidak akan pernah hidup damai.

Sepi menambahkan, merujuk Kitab Suci, Tuhan memerintahkan Musa memakai tongkat di tangannya sebagai senjata menyelamatkan umat Tuhan yang sedang ditindas Firaun sehingga umat-Nya diselamatkan. Keteladan Musa menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari bagi orang asli Papua.

“Saar ini di tanganmu orang asli Papua sudah ada modal kecerdasan, keterampilan, kemampuan, ketelandanan, kejujuran, kesetiaan, dan lain-lain. Modal itu harus kita jadikan sebagai senjata untuk mendidik, saling menolong, dan mencerdaskan sesama orang Papua,” ujar Sepi.

Sepi mengingatkan, ilmu pengetahuan yang diperoleh anak-anak muda Papua selama di bangku kuliah jangan jadi modal menjual kekayaan sumber daya alam seperti tanah atau modal membunuh sesama manusia. Ilmu itu kita gunakan untuk mengolah tanah, merawat, dan menikmati hasilnya dengan sanak saudara yang tinggal di atasnya,” kata Sepi.

Sepi mengatakan, data statistik menunjukkan penduduk paling miskin di Indonesia adalah Provinsi Papua Pegunungan. Namun, sebagai anak terdidik ia menegaskan bahwa orang Papua bukan miskin tetapi dimiskan oleh pengambil kebijakan di daerah, provinsi hingga pusat.

“Saya melihat hari ini budaya baca buku kita di Papua sangat rendah sehingga melalui momen ini saya mengajak para pelajar membudayakan kebiasaan membaca buku di mana saja kita berada, baik di kota maupun di kampung halaman,” kata Sepi.

Melalui membaca buku akan terbentuk moral, karakter, integritas serta kejujuran. Tanpa membaca buku ibarat berada dalam lorong gelap. Mereka yang mengisi waktu membaca memiliki sumber ilmu pengetahuan.

“Orang yang jarang membaca buku akan mudah tertipu oleh orang lain yang mempunyai kepentingan. Bahasa ibu, sejarah, budaya Papua yang Tuhan kasih untuk orang Papua saat ini sudah terkikis oleh budaya luar. Kita wajib belajar dan memahami bahasa ibu, sejarah dan budaya sebagai jati diri untuk masa depan yang baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sepi juga menyerahkan buku karyanya berjudul Tanah Kami, Masa Depan Kami. Dalam buku tersebut, Sepi mengingatkan, manusia diciptakan Allah dari tanah, hidup di atas tanah hingga meninggal dan akan kembali jadi tanah.

“Tanah adalah ibu, mama kita. Tanah juga ibarat apotik dan ATM kita yang menghidupi manusia Papua lintas generasi. Manusia paling kaya di dunia adalah mereka yang memiliki tanah, gunung, sungai, dan hutan. Mereka yang tidak punyai tanah, hutan atau sungai adalah mereka yang paling miskin di dunia,” ujar Sepi. (*)