DAERAH  

Menteri HAM Sebut Sikap Presiden Jadi Juru Damai Perang Iran Merupakan Intervensi Kemanusiaan

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia Natalius Pigai. Sumber foto: detik.com, Senin, 4 Oktober 2021

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia Natalius Pigai menegaskan, inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam perang Iran merupakan bentuk intervensi kemanusiaan.

Menurut Pigai, peperangan merupakan tindakan yang bertentangan dengan nurani manusia, hostis humanis generis). Pernyataan tersebut mencuat merespons eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Situasi perang tanpa akhir tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berdampak luas terhadap kemanusiaan global,” ujar Menteri HAM Natalius Pigai melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/3).

Menteri Pigai mengajak seluruh elemen, mulai dari individu, komunitas, pemimpin prominen hingga negara besar maupun kecil untuk memiliki kepedulian dan tanggung jawab yang sama dalam mendorong intervensi kemanusiaan demi terciptanya perdamaian dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah.

“Semua pihak memiliki kepentingan dan kewajiban moral yang sama untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian,” kata Pigai, Menteri Kabinet Merah Putih putra asli Papua kelahiran Kabupaten Paniai, Papua Tengah.

Oleh karena itu inisiatif Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berkeinginan mengambil peran sebagai juru damai merupakan bentuk intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention).

Menurut Pigai, langkah tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata Indonesia dalam mendorong tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

“Sikap tersebut adalah bagian dari langkah intervensi kemanusiaan. Tentu saja sesuatu yang sangat baik. Siapa pun tidak menginginkan perang karena itu berdampak luas pada kemanusiaan global,” kata Pigai.

Pigai menegaskan tidak ada yang keliru dari upaya Presiden untuk terlibat aktif dalam proses perdamaian. Sikap tersebut dinilai sejalan dengan semangat Indonesia yang saat ini memegang peran sebagai Presiden Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendorong pemajuan dan perlindungan HAM di tingkat global.

“Melalui semangat ini, maka kita jangalah merasa kecil, rendah diri, dan tidak sanggup,” ujar Pigai lebih lanjut. (*)