Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)
Pendahuluan
Di Indonesia, konflik di Timur Tengah sering dibicarakan dengan keyakinan yang terlalu percaya diri. Negara-negara yang sedang porak-poranda justru dipuja seolah sedang menorehkan kejayaan besar. Kekalahan dibantah, kehancuran ditutupi, dan penderitaan rakyat dikesampingkan tanpa rasa bersalah. Yang penting rasa bangga kolektif tetap terjaga. Fakta hanya diterima jika tidak mengganggu emosi. Beginilah kebodohan tampil berani di ruang publik.
Kebodohan ini tidak lahir dari ketiadaan informasi, melainkan dari penolakan sadar terhadap kenyataan. Laporan tersedia, data mudah diakses, dan analisis akademik berlimpah. Namun semua itu dianggap tidak penting bila tidak sejalan dengan keyakinan emosional. Akal sehat diperlakukan seperti tamu tak diundang. Keraguan dicurigai sebagai ancaman identitas. Maka kebodohan dipelihara bersama-sama.
Glorifikasi sebagai Ganti Berpikir
Konflik politik di Timur Tengah kerap disederhanakan menjadi drama iman. Negara diperlakukan seperti simbol suci, bukan entitas politik yang bisa gagal. Rezim dimuliakan seolah kebijakannya tidak pernah keliru. Kritik dianggap serangan moral yang berbahaya. Pertanyaan dinilai tidak sopan. Dalam iklim ini, berpikir menjadi aktivitas yang tidak diharapkan.
Ketika Palestina, Iran, Irak, atau Suriah disebut, nalar seolah mengambil cuti panjang. Diskusi berubah menjadi ritual emosional yang berulang. Struktur negara, nasib rakyat, dan hasil perang tak lagi relevan. Semua dilebur dalam satu narasi besar tentang perlawanan. Negara gagal tetap dipuja karena label identitasnya.
Dalam logika ini, fakta selalu diposisikan sebagai pengganggu suasana. Data dianggap dingin dan tidak “empatik”. Laporan lapangan dicap sebagai “agenda” pihak tertentu. Statistik ditolak karena merusak imajinasi kemenangan. Fakta hanya diterima bila menguatkan keyakinan awal. Jika tidak, ia dianggap tidak berguna.
Akhirnya perang dipahami sebagai tontonan moral dari kejauhan. Kekalahan disebut manuver jangka panjang. Kehancuran disebut ujian iman. Negara runtuh disebut sedang “dimatangkan sejarah”. Bahasa dipelintir agar rasa bangga tidak bocor. Indonesia menonton sambil bertepuk tangan dan merasa menang.
Penderitaan yang Dijadikan Panggung Emosi
Dalam kebodohan ini, rakyat Timur Tengah jarang hadir sebagai manusia utuh. Mereka tampil sebagai gambar, video, dan kutipan pilu yang dipilih selektif. Mayat menjadi alat legitimasi emosi. Reruntuhan menjadi latar pembenaran moral. Penderitaan berubah menjadi konsumsi publik. Semakin tragis, semakin dianggap mulia.
Tidak ada minat serius memahami hidup mereka setelah kamera mati. Tidak ada rasa ingin tahu tentang trauma jangka panjang yang tersisa. Tidak ada perhatian pada masa depan yang terpotong oleh perang. Yang ada hanyalah luapan emosi sesaat. Setelah itu, perhatian pindah ke tragedi berikutnya. Penderitaan pun habis dikonsumsi.
Kebiasaan ini sesungguhnya lebih banyak bicara tentang Indonesia sendiri. Ia memantulkan rasa kecil yang tidak mau diakui. Banyak orang merasa kalah posisi dalam tatanan global. Mereka merasa tidak berpengaruh dan tidak diperhitungkan. Maka kemenangan simbolik negara jauh dijadikan hiburan. Perasaan terangkat menggantikan analisis.
Ketika mereka “melawan”, kita merasa ikut gagah. Ketika mereka “menang” dalam narasi, kita merasa besar. Padahal tidak ada perubahan nyata di sini. Tidak ada dampak konkret bagi kehidupan sehari-hari. Yang berubah hanya suasana hati. Kebodohan memberi ilusi kekuatan tanpa kerja berpikir.
Elite yang Ikut Menepuk Punggung Kebodohan
Kebodohan ini tidak tumbuh liar, melainkan dirawat dengan tekun oleh elite. Ulama mencampur iman dengan propaganda geopolitik. Jurnalis mengejar emosi, bukan verifikasi. Politisi memanen sentimen sebagai panggung moral. Semua ikut bersorak dan merasa berjasa.
Yang paling menggelikan adalah peran akademisi. Mereka yang seharusnya dingin, metodologis, dan skeptis justru ikut hanyut. Gelar panjang tidak mencegah pemujaan pendek. Metode ditinggalkan, peer review dilupakan, dan kata “konteks” dipakai seperti jimat. Rasionalitas berfoto bersama euforia. Akademisi pun ikut tampak bodoh.
Di ruang publik, kebenaran akhirnya ditentukan oleh identitas, bukan argumen. Jika seidentitas, dipercaya tanpa syarat. Jika berbeda, dicurigai sejak awal. Isi argumen menjadi hiasan. Yang penting adalah siapa yang berbicara. Akal sehat tersingkir perlahan.
Keraguan dicap sebagai iman yang lemah. Berpikir kritis disamakan dengan pengkhianatan. Pertanyaan dianggap merusak persatuan. Inilah intellectual surrender yang dipoles sebagai kesalehan. Kebodohan tidak lagi malu-malu. Ia berdiri di podium utama.
Penutup
Kebodohan Indonesia ini bukan karena kurang cerdas, melainkan karena malas berpikir. Lebih mudah memuja daripada memahami kenyataan. Lebih nyaman percaya daripada memeriksa data. Glorifikasi memberi rasa hangat yang instan. Meski palsu, rasa itu tetap dicari. Kebodohan pun terasa akrab.
Selama perang dijadikan hiburan moral dan fakta dianggap pengganggu, kebodohan ini akan terus bertahan. Realitas akan terus menertawakannya tanpa lelah. Indonesia tampaknya tidak keberatan dengan tawa itu. Sebab kebodohan ini ramai, emosional, dan menyenangkan. Dan di situlah ironi itu menetap.







