Isak Tangis Pecah di Rumah Sakit Sint Carolus, Besok Pagi Jenazah Vebian Magal Tiba di Bandara Timika

Buguwin Magal, Simon Magal, dan Paul Kemong serta para kerabat usai doa dan pamitan di Rumah Duka Rumah Sakit Sint Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2). Doa dan pamitan dilaksanakan sebelum jenazah eks Direktur YPMAK periode 2019–2024 Vebian Magal akan dibawa ke Bandara Soekarno Hatta untuk selanjutnya menuju Timika, Papua Tengah. Foto: Odiyaiwuu.com

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Isak tangis Buguwin Magal dan Simon Magal serta ponakan dan kerabat Vebian Magal, Rabu (4/2) sekitar pukul 14.00 WIB pecah di Rumah Sakit Sint Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Para handai taulan, mahasiswa dan mahasiswi asal Papua Tengah, khususnya dari Mimika tak kuasa menahan haru saat peti jenazah Vebian Magal, eks Direktur Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) periode 2019–2024, akan dibawa dari Lantai 6 Ruangan Gabriel ke lobi Rumah Duka RS Sint Carolus, Jakarta.

“Kami sungguh kehilangan Pak Vebian Magal, sosok pintar dan rendah hati dalam keluarga kami. Almarhum tipikal pekerja keras dan bertanggung jawab dalam setiap tugas yang dipercayakan,” ujar Paul Kemong, kerabat dekat Almarhum Vebian Magal dalam sambutannya melepas jenazah di RS Sint Carolus, Jakarta Pusat, Rabu (4/2).

Paul juga tak kuasa membendung air mata saat menyampaikan kata-kata pamit melepas keberangkatan jenazah Vebian Magal. Dua kakak kandung Almarhum, Buguwin Magal dan Simon Magal serta mahasiswa dan mahasiswi asal Papua Tengah juga menangis haru.

“Kami berdoa dan berharap semoga teladan dan semangat kerja keras semasa hidup menjadi warisan bukan hanya bagi kami keluarga besar tetapi juga adik-adik generasi muda yang tengah menimba ilmu di lembaga pendidikan, baik di tanah Papua maupun di luar,” kata Paul Kemong lebih lanjut.

Menurut ponakan Almarhum Vebian Magal, jenazah dibawa dengan ambulance menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangeran, Banten. Jenazah menurut rencana akan tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, Kamis (5/2) pagi.

“Keberangkatan ke Bandara Soekarno Hatta dipercepat agar semua proses di bagian chargo lebih cepat sehingga memudahkan perjalanan selanjutnya menuju Bandara Mozes Kilangin,” kata keponakan Almarhum Vebian Magai.

Sedangkan Paul menambahkan, setiba di Timika, jenazah akan disemayamkan di kediaman pribadi untuk memberikan kesempatan kepada keluarga dan masyarakat serta kenalan berdoa sekaligus memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dikebumikan.

“Setelah tiba nanti jenazah disemayamkan untuk memberikan kesempatan kepada keluarga berdoa dan memberikan penghormatan terakhir. Kita tahu, Almarhum bukan sekadar milik keluarga tetapi juga milik masyarakat mengingat beliau pernah mengabdi di YPMAK dan seorang tokoh muda Papua Tengah,” kata Paul Kemong.

Media ini sebelumnya memberitakan, Direktur YPMAK periode 2019–2024 Vebian Magal, Selasa (3/2) pukul 14.15 WIB meninggal di Rumah Sakit Sint Carolus, Jalan Salemba Raya, Jakarta.

Jenazah Vebian, tokoh muda Papua asal Mimika, Provinsi Papua Tengah berusia 44 tahun, kemudian disemayamkan di Lantai 6 Ruangan Gabriel RS St Carolus. Suasana haru tampak terasa saat Selasa (3/2) sekitar pukul 21.15 WIB jenazah Vebian Magai disemayamkan dalam Ruangan Gabriel.

Dua kakak kandung Vebian, Buguwin Magal dan Simon Magal serta ponakan dan kerabat dekat tak mampu menahan air mata. Puluhan mahasiswa dan mahasiswi asal Mimika dan Papua Tengah, kerabat, dan kenalan juga menangis haru atas berpulangnya Vebian menghadap Tuhan, sang Pencipta.

Wakil Bupati Kabupaten Mimika Emanuel Kemong tampak hadir di Lantai 6 RS St Carolus sebelum jenazah dibawa Ruangan Gabriel untuk disemayamkan. Begitu pula Pembina Yayasan Yayasan Bina Teruna Indonesia Bumi Cenderawasih (Binterbusih) Semarang Paul Sudiyo.

Selain itu, hadir juga penggagas utama noken Papua sebagai Warisan Budaya takbenda Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) Titus Pekei dan tokoh muda Papua Tengah Petrus Pugiye.

Wakil Bupati Emanuel mengenang Almarhum Vebian Magal sebagai pribadi yang tenang dan pekerja keras semasa masih sekolah hingga kuliah. Saat menjadi pembina asrama di Timika yang menampung anak-anak dari gunung seperti Kampung Tsinga, Oya, Arwarnop, dan sekitarnya, Vebian tergolong salah seorang anak asuh yang baik dan pekerja keras.

“Saat itu, PT Freeport Indonesia bangun satu asrama di Kwamki Lama dan sya sebagai pembina asrama. Anak-anak dari gunung, termasuk Vebian, tinggal dan sekolah di SD di Kwamki Lama sebelum sekolah itu pindah ke Timika. Kemudian beliau lanjut SMP hingga tamat dan masuk SMA Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara,” ujar Emanuel di RS St Carolus, Jakarta, Selasa (3/2) malam.

Emanuel menambahkan, setelah menyelesaikan kuliah di Jakarta Vebian kembali ke Timika dan mengabdi di YPMAK. Saat itu, Emanuel mengaku mempercayakan Vebian menangani urusan pendidikan di YPMAK.

“Selama bekerja di YPAM prestasi Vebian sangat bagus sehingga akhirnya sempat menjadi Ketua Pengurus YPMAK. Beliau sosok muda, energik, dan memiliki kemampuan lebih. Mimika dan tanah Papua sesungguhnya sangat merindukan sosok beliau ke depan. Namun, Tuhan lebih membutuhkannya meski keluarga dan kami semua sangat mengasihinya,” kata Emanuel.

Sementara itu, Paul Sudiyo menyampaikan duka mendalam berpulangnya Vebian Magal di usia yang sangat muda. Paul mengaku, Almarhum Vebian Magal adalah salah satu tokoh muda asal Mimika yang potensial dan berbakat. Namun, belum lama mengabdikan diri demi kemajuan masyarakat dan daerah keburuh dipanggil Tuhan.

“Berpulangnya Vebian Magal adalah sebuah kehilangan besar. Vebian adalah salah satu di antara sosok anak muda Mimika potensial yang sedianya akan menggantikan generasi tua malah berkurang. Beliau sejak kecil sangat disiplin, aktif mengembangkan potensi dirinya melalui berbagai pembinaan sehingga usai kuliah dalam waktu yang tidak lama langsung berkembang dengan baik,” ujar Paul di RS Sint Carolus, Jakarta, Selasa (3/2) malam.

Paul juga mengaku, Vebian Magal juga merenda karir di YPMAK mulai dari staf biasa, kemudian kepala biro Pendidikan hingga dipercaya menjadi direktur. Semua tahapan itu, kata Paul, dijalankan Vebian dengan tekun dan sungguh-sungguh.

“Kami semua sungguh kehilangan karena sosok seperti Almarhum diharapkan menjadi pemimpin bukan hanya di YPMAK tetapi di berbagai bidang pengabdian yang lain di tanah Papua. Tetapi, sebagai umat beragama tentu kita semua mengikuti apa kehendak Tuhan itulah yang terbaik bagi kita,” kata Paul. (*)