WAMENA, ODIYAIWUU.com — Festival Sekolah Adat Hugulama ke-1 Tahun 2026 secara resmi ditutup Sabtu (31/1) di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Acara penutupan dihadiri pemerintah pusat hingga kampung. Penutupan ditandai dengan dengan Misa Penutupan dipimpin Pastor Paroki Budna Maria Pikhe Gregorius Atu Wea OFM.
Dalam kesempatan tersebut hadir juga Kepala Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (BP3OKP) Provinsi Papua Pegunungan Hantor Matuan, SIP, Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Pegunungan, Kepala Distrik Itlay Hisage, Kepala Kampung Yogonima dan Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua.
Hantor Matuan dalam sambutan mengatakan, bahwa pihaknya mendukung pendirian, pengelolaan dan penyelengaraan sekolah adat. Festival itu dapat membantu semua pihak untuk mengembangkan bahasa, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat. Karena itu pihaknya akan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
“Dalam waktu dekat akan dibangun koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, baik bupati, gubernur, kepala dinas pendidikan, kepala dinas kebudayaan dan parawisata untuk mendukung proses pengakuan dan ijin operasional,” ujar Hantor Matuan di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (5/2).
Selain itu, lanjut Hantor Matuan, akan dilakukan koordinasi dengan dinas Pekerjaan Umum dan Balai Sungai untuk meningkatkan akses pembangunan jalan, pendirian sarana dan prasarana sekolah adat serta membangun air bersih bagi pendududk lokal, termasuk kawasan sekolah adat.
Sedangkan MRP Papua Pegunungan mendukung agar Sekolah Adat Hugulama dikembangkan di seluruh wilayah aliansi masyarakat adat di Lembah Hugulama serta delapan kabupaten di Papua Pegunungan.
Wakil Ketua II MRP Papua Pegunungan Benny Mawel mengharapkan agar semua pihak yang hendak membangun sekolah adat, sekolah budaya, sekolah alam dan sekolah rakyat melalui satu pintu, yakni Yayasan Sekolah Adat yang dimulai dari Kampung Yogonima.
MRP mengarahkan semua persiapan sekolah adat berada pada satu payung agar membangun komunikasi dan koordinasi kerja lebih mudah. Itu juga dianggap baik supaya secara umum. dari aspek manajemen, metode belajar mengajar dan kurikulum dapat diseragamkan.
Pelaksana Tugas Kepala Distrik Itlay Hisage Marius Hisage juga menegaskan, dirinya siap mendukung program Sekolah Adat Hugulama yang didorong oleh masyarakat adat sendiri. Hal tersebut urgen karena sangat relevan dengan program pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.
“Sekolah adat sejalan dengan program Presiden Prabowo tentang sekolah rakyat. Namun dalam konteks daerah, sekolah adat ini sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah yang mendorong Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang bekerjasama dengan Gasing Center dari Yohanis Surya,” kata Marius Hisage.
Hal ini dapat dilihat dari kehadiran akademisi Universitas Papua (Unipa) Manokwari Dr Agus Sumule, dan pelatihan dari Gasing bagi guru dan peserta sekolah adat selama dua minggu di Yogonima. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa terdapat benang merah untuk kedepan sekolah adat berjalan bersama dengan pemerintah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Kampung Yogonima Patris Itlay berkomitmen agar ke depan menjadikan Kampung Yogonima berbasis pendidikan adat. Sebuah kampung dimana semua pihak datang memperlajari bahasa, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal di tengah zaman modernisasi ini.
“Kampung Yogonima hendaknya menjadi proyek perncontohan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan berbasis adat. Sehingga anak-anak kedepan tidak hanya belajar tentang bahasa, budaya dan nilai-nilai hidup dari luar, melainkan juga mengenali dari sendiri dari karanya, termasuk melalui sekolah adat ini,” kata Patris Itlay.
Rektor ISBI di Tanah Papua Prof Dr St Hanggar Budi Prasetya, S.Sn, M.Si dalam sambutannya mengatakan, ia berkomitmen untuk bekerjasama dengan Sekolah Adat Hugulama dalam mempertahankan identitas masyarakat adat di Indonesia paling timur ini.
“Salah satunya, dalam waktu dekat kami akan mengirim maahasiswa dan mahasiswi ISBI di tanah Papua ke kampung Yogonima untuk praktik, magang dan kuliah kerja nyata,” kata Budi Prasetya.
Akhir dari oservasi, dan dialog dengan masyarakat akan mendorong festival-festival budaya. Itu merupakan ajang dari karya bersama mahasiswa/i ISBI dan Sekolah Adat Hugulama. Selanjutnya, sekolah adat boleh mengirim siswa/i untuk kuliah di ISBI di Tanah Papua.
Ketua Panitia Yeremias Hisage mengatakan, Festival Sekolah Adat Hugulama adalah program tahunan sekolah. Hingga kegiatan yang sama akan dilakukan pada awal Januari 2027. Pihaknya akan membentuk panitia baru untuk menyelenggarakan kegiatan berikut.
Festival sekolah adat Hugulama adalah festival tahunan untuk masyarakat adat, termasuk siswa dan siswi di sekolah adat mengekspresikand diri. Sehingga diharapkan ke depan dapat bekerjasama dengan masyarakat adat, pihak gereja dan pemerintah daerah. (*)










