OPINI  

Empat Arah Masa Depan Papua

Yakobus Dumupa, Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua. Foto: Dok. Odiyaiwuu.com

Oleh: Yakobus Dumupa
(Pembelajar Hubungan Internasional dan Isu-isu Global, tinggal di Nabire, Tanah Papua)

KONFLIK antara Indonesia dan Papua bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang terbentuk oleh sejarah, kekerasan, dan kegagalan politik. Konflik ini tidak hanya berlangsung di medan bersenjata, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif orang Papua dan negara. Selama puluhan tahun, persoalan Papua lebih sering dikelola daripada diselesaikan. Di saat yang sama, dunia internasional ikut mengamati dengan kepentingannya sendiri. Dari kondisi inilah masa depan Papua bergerak ke beberapa arah yang dapat dibaca secara rasional.

Masa depan Papua tidak berjalan pada satu garis lurus. Ia berada di persimpangan antara kekuasaan negara, perlawanan lokal, dan tekanan global. Karena itu, membaca masa depan Papua tidak bisa dilakukan secara hitam-putih. Yang ada adalah beberapa arah yang mungkin ditempuh, tergantung pilihan politik hari ini. Secara garis besar, terdapat empat arah masa depan Papua yang terus saling beririsan.

Konflik yang Dikelola dan Dinormalkan

Arah pertama adalah konflik yang dikelola secara permanen oleh negara. Papua tetap berada dalam Indonesia, tetapi dengan konflik berintensitas rendah yang dianggap dapat dikendalikan. Pendekatan keamanan berjalan bersamaan dengan pembangunan dan modernisasi wilayah. Kekerasan sporadis terjadi, lalu mereda, lalu muncul kembali. Dalam kondisi ini, konflik menjadi bagian dari rutinitas.

Dalam arah ini, konflik tidak dipandang sebagai masalah politik. Ia direduksi menjadi gangguan keamanan yang harus ditertibkan. Negara berusaha menjaga stabilitas, bukan menyentuh akar sejarah konflik. Dunia internasional mengetahui situasi Papua, tetapi memilih sikap pragmatis. Selama stabilitas kawasan terjaga, konflik dianggap urusan domestik.

Papua dalam arah ini tidak benar-benar damai. Namun ia juga tidak dibiarkan runtuh atau meledak. Konflik dinormalkan sebagai risiko yang dapat ditoleransi. Identitas dan aspirasi politik Papua terdesak perlahan oleh kontrol negara dan logika ekonomi. Inilah arah yang paling lama bertahan hingga saat ini.

Konflik yang Berubah Menjadi Isu Internasional

Arah kedua adalah internasionalisasi konflik Papua. Arah ini muncul ketika kekerasan meningkat dan tidak lagi bisa ditutupi oleh narasi pembangunan. Pelanggaran HAM yang besar atau krisis kemanusiaan mendorong perhatian dunia internasional. Papua mulai dibahas secara serius di forum HAM dan kawasan Pasifik. Isu lokal berubah menjadi isu global.

Internasionalisasi tidak otomatis berarti dukungan kemerdekaan. Dunia lebih sering memberikan tekanan moral dan diplomatik. Papua menjadi persoalan reputasi internasional Indonesia. Negara tetap memegang kedaulatan, tetapi menghadapi tekanan yang makin mahal secara diplomatik. Ruang gerak politik menjadi lebih sempit.

Dalam arah ini, Papua masuk ke dalam global concern. Konflik Papua menjadi bagian dari kalkulasi geopolitik dan kepentingan negara-negara besar. Perhatian internasional bisa naik dan turun mengikuti dinamika dunia. Konflik tidak selesai, tetapi skalanya berubah. Papua tidak lagi sepenuhnya berada dalam ruang domestik.

Konflik yang Dinegosiasikan secara Politik

Arah ketiga adalah rekonstruksi hubungan melalui dialog politik. Dalam arah ini, konflik Papua diakui sebagai persoalan politik, bukan semata urusan keamanan. Negara dan representasi Papua duduk setara membicarakan sejarah, kekerasan struktural, dan masa depan relasi. Tujuannya bukan memenangkan satu pihak, melainkan membangun ulang hubungan. Pendekatan ini menempatkan kemanusiaan sebagai dasar.

Hasil dialog tidak selalu berarti pemisahan. Ia bisa melahirkan otonomi yang benar-benar baru atau pengaturan politik yang lebih adil. Yang berubah adalah cara konflik dikelola. Kekerasan digeser menjadi perdebatan politik terbuka. Proses ini membutuhkan waktu dan kepercayaan.

Arah ini menuntut keberanian politik yang besar. Negara harus bersedia mendengar tanpa senjata, dan Papua harus bernegosiasi tanpa ilusi. Internasional berperan sebagai pengawas moral, bukan penentu hasil. Inilah arah paling manusiawi, tetapi juga paling sulit diwujudkan. Ia sering dibicarakan, tetapi jarang benar-benar ditempuh.

Konflik yang Berujung Penentuan Nasib Sendiri

Arah keempat adalah penentuan nasib sendiri dalam jangka panjang. Arah ini tidak lahir dari romantisme, melainkan dari kebuntuan yang berkepanjangan. Ia muncul ketika pendekatan negara gagal total dan tekanan internasional berlangsung konsisten. Dalam sejarah dunia, arah ini selalu mahal dan penuh risiko. Tidak ada jalan cepat menuju kepastian.

Penentuan nasib sendiri bukan peristiwa instan. Ia merupakan proses panjang yang sarat ketidakpastian politik dan ekonomi. Tidak ada jaminan bahwa hasilnya akan membawa kedamaian segera. Namun selama akar konflik Papua tidak diselesaikan, arah ini tetap hidup sebagai kemungkinan sejarah. Ia terus hadir dalam imajinasi politik Papua.

Arah ini sering ditakuti dan disangkal. Namun ia juga tidak bisa dihapus begitu saja. Ia menjadi cermin dari kegagalan pengelolaan konflik sebelumnya. Semakin lama konflik dibiarkan tanpa penyelesaian politik, semakin besar kemungkinan arah ini terbuka. Sejarah dunia menunjukkan pola tersebut berulang kali.

Penutup

Empat arah masa depan Papua menunjukkan bahwa konflik ini tidak sederhana. Papua dapat terus berada dalam konflik yang dikelola, berubah menjadi isu internasional, dinegosiasikan secara politik, atau bergerak menuju penentuan nasib sendiri. Arah yang ditempuh bukan takdir, melainkan hasil dari keputusan-keputusan hari ini. Negara Indonesia, rakyat Papua, dan dunia sama-sama berperan.

Selama konflik diperlakukan hanya sebagai gangguan keamanan, arah pertama akan terus dominan. Selama kemanusiaan dikalahkan oleh kepentingan, tekanan internasional akan terus muncul. Masa depan Papua pada akhirnya bukan hanya soal wilayah. Ia adalah soal keberanian moral dalam mengelola perbedaan dan sejarah yang belum selesai.