JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Sutradara Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Cypri Jean Paju Dale, Ph.D, Jumat (29/5) pukul 20.00 WIB, 21.00 WITA, 22.00 WIT atau 15.00 waktu Roma akan tampil dalam acara talkshow bertajuk Di Mana Kita dalam Film Pesta Babi?
Selain Cypri Dale, antropolog yang lama meneliti isu-isu sosial kemasyarakatan di tanah Papua, dalam talkshow terkait film dokumenter tersebut, tampil pula Fransiska Gondro Mahuze, aktivis perempuan Marind Merauke, Papua Selatan.
Selain itu, tampil juga Sekretaris Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD Marthen LP Jenarut, Pr. Talkshow tersebut hasil kerja sama KatolikanaTV, Veritas Indonesia, dan Katolikana Time.
Pemimpin Redaksi Veritas Indonesia Kasmir Nema mengatakan, Gereja Katolik dipanggil untuk membaca tanda-tanda zaman, termasuk ketika ketidakadilan sosial, perampasan ruang hidup, dan luka masyarakat adat hadir di depan mata.
“Film dokumenter Pesta Babi membuka ruang refleksi tentang tanah Papua, masyarakat adat, pembangunan, ekologi, dan suara-suara yang sering tidak cukup didengarkan,” ujar Kasmir melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/5).
Dalam talkshow terkait film dokumenter tersebut akan dibedah sejumlah pertanyaan kritis. Misalnya, apa yang sebenarnya hendak disuarakan film Pesta Babi. Berikut, bagaimana Gereja Katolik memaknai realitas Papua dalam terang iman, keadilan sosial, dan ensiklik Laudato Si’.
“Dalam talkshow itu juga akan dibedah narasumber mengapa suara masyarakat adat perlu didengarkan dalam setiap proyek pembangunan. Juga, di mana posisi kita sebagai umat Katolik, media, dan warga bangsa,” kata Kasmir lebih lanjut.
Aktivis pendidikan dan pemerhati Papua Samuel Tabuni sebelumnya menyebut, Film Pesta Babi merupakan film dokumenter berisi kritik sosial yang tajam. Film itu merupakan bentuk koreksi nasional terhadap cara pemerintah dan masyarakat memperlakukan Papua dalam proses pembangunan.
“Mungkin istilahnya bisa diperdebatkan dan framing-nya tidak sempurna. Tetapi inti dari film tersebut tetap penting menyangkut konflik tanah dan sumber daya alam, hak masyarakat adat, dinamika relasi kekuasaan serta suara orang Papua yang selama ini sering terabaikan dan tidak didengar,” ujar Samuel Tabuni di Jayapura, Papua, Kamis (14/5).
Menurut Samuel, tokoh muda tanah Papua dan Master jebolan The Henrew University of Jerusalem, Israel, publik terlalu sibuk memperdebatkan terminologi ‘pesta babi’ sehingga abai pada persoalan yang lebih besar dan mendesak: yakni konflik agraria.
“Konflik agraria melibatkan klaim tanah dan hak atas sumber daya alam, ketimpangan kuasa yang memperlihatkan ketidakadilan struktural serta perasaan kehilangan identitas dan budaya masyarakat adat,” kata Samuel.
Selain itu, lanjut Samuel, ada juga aspek militerisme dan tekanan dari aparat keamanan yang semakin memperkeruh situasi. Kecemasan masyarakat Papua yang mendalam tidak akan hilang hanya karena masyarakat tidak menyukai film dokumenter itu.
“Biarkan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bersuara bagi rakyat Papua di dunia, mencari jalannya sendiri,” ujar Samuel lebih lanjut. (*)










