OPINI  

Catatan Kecil tentang Jalan Sunyi Uskup Paskalis

Dr Leo Kleden SVD, Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores. Foto: Istimewa

Oleh Dr Leo Kleden SVD

Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores

SESUDAH membaca dengan teliti laporan panjang (98 halaman) dari Tim Pencari Fakta Tercecer dan Tersembunyi di balik pengunduran diri Uskup Bogor, Ditekan, Dibiarkan Sendiri, saya memahami dengan penuh empati tindakan Uskup Paskalis (Uskup Emeritus Keuskupan Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM-pen).

Karena ada perpecahan di tengah umat lantaran gossip jahat yang disebarkan beberapa pastor ditambah dengan tekanan dari Ketua KWI dan Kardinal Suharyo, beliau dengan ikhlas dan gembira mengundurkan diri meskipun penyelidikan kanonik oleh Visitator Apostolik sudah menyatakan bahwa Uskup Paskalis tidak bersalah.

Beliau dengan rendah hati memilih jalan sunyi, jalan pemuridan Yesus Tuhan dan Gurunya, yang rela disalibkan meskipun dia tidak bersalah. Dalam kata perpisahannya dengan umat, beliau dengan tegas mengungkapkan bahwa menurut hasil penyelidikan kanonik oleh Visitator Apostolik beliau tidak bersalah dalam semua point yang dituduhkan.

Namun, demi cintanya pada Gereja, khususnya untuk umat di Keuskupan Bogor beliau rela mengundurkan diri. Beliau menulis, “Saya mundur bukan karena saya bersalah tetapi karena saya mengasihi persatuan Gereja khususnya Keuskupan Bogor ini, seperti  Kristus yang diam di hadapan para pengikut-Nya”.

Beliau yakin bahwa pada akhirnya kebenaran akan menang, dan beliau mengutip kata-kata Yesus: “Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8 : 32). Tim Pencari Fakta perlahan menguak apa yang tersembunyi.

Perkiraan saya: beliau mengundurkan diri dengan harapan bahwa akan ada pengganti yang lebih kapabel menyatukan umat dengan cara yang lebih cocok dengan konteks budaya Jawa/Sunda.

Kasusnya mirip sekali dengan Hamba Allah Gabriel Manek yang difitnah oleh sejumlah imam, konfraternya sendiri, dengan gosip jahat yang disebarkan di tengah umat waktu itu.

Ketika beliau sangat menderita dan kesehatannya menurun, beliau mengundurkan diri karena tidak mau terjadi perpecahan di tengah umat karena ulah para klerus yang tak bertanggung jawab.

Namun beliau yakin bahwa Tuhan sendiri akan membela nasibnya dan menunjukkan kebenaran. Kepada Suster Pemimpin Umum PRR waktu itu beliau berpesan: “Sekarang keadaannya gelap gulita, tapi nanti akan menjadi terang benderang”.

Jauh kemudian Hamba Allah yang memilih jalan sunyi itu mengalami “kemuliaan kebangkitan” ketika jenasah beliau dibawa pulang dari Amerika dan disambut umat dengan meriah di Jakarta, di Denpasar, di Kupang, Atambua, Lahurus, dan akhirnya di Larantuka.

Semoga Tuhan berkenan memuliakan hamba-Nya ini dalam proses beatifikasi. Dan semoga jalan sunyi Uskup Paskalis menjadi kesaksian iman yang meruntuhkan kemunafikan klerikal kaum Farisi di tengah umat dewasa ini.