DAERAH  

Antisipasi Kabut Asap dan Gangguan Penerbangan, Kodam Cenderawasih Perkuat Penanganan Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Papua menyusul maraknya beberapa titik api yang muncul. Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih terus memperkuat koordinasi guna menangani karhutla. Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih memperkuat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua menyusul maraknya beberapa titik api yang muncul di wilayah Provinsi Papua. Langkah ini diambil guna mengantisipasi pekatnya kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah bandara vital.

Penguatan strategi penanganan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi melalui video conference (Vicon) bersama Kogabwilhan, Rabu (21/10). Koordinasi ini bertujuan memetakan kesiapsiagaan satuan kewilayahan serta menyelaraskan langkah respons cepat sesuai kebutuhan medan di lapangan.

Berdasarkan laporan di lapangan, karhutla melahap kawasan Bukit Alang-Alang —tepat di belakang Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Jayapura dan dekat akses Rumah Sakit Yowari— pada Minggu (11/10).

Dalam insiden tersebut, dua Babinsa Koramil 1701-01/Sentani Serma Samudin dan Serka Alpius Sanggana, bahu-membahu bersama warga memadamkan api menggunakan peralatan seadanya akibat sulitnya akses armada pemadam kebakaran.

Kebakaran juga melanda Kampung Wesakin, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Jumat (16/10). Lahan seluas kurang lebih tiga hektare hangus terbakar, dan hingga kini penyebab pasti timbulnya api masih dalam proses penyelidikan aparat terkait.

Dampak karhutla di wilayah pegunungan kini menjadi perhatian serius. Sebaran kabut asap yang bercampur dengan kondisi cuaca lokal telah mereduksi jarak pandang (visibility) udara secara signifikan.

Berdasarkan data BMKG bahwa gangguan kabut asap yang terjadi di wilayah Papua, disebabkan karena adanya beberapa hotspot yang muncul di wilayah negara tetangga, Papua New Guinea dan dari wilayah Provinsi Papua Selatan.

Akibatnya, operasional di beberapa bandara utama di Papua —seperti Bandara Sentani, Wamena, Oksibil, hingga Dekai— sempat mengalami penundaan (delay) hingga pembatalan penerbangan demi mengutamakan keselamatan penumpang.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto, SIP mengatakan, menghadapi ancaman karhutla pihak Kodam terus mengandalkan kesiapsiagaan personel di tingkat terdepan, khususnya peran aktif para Babinsa di tengah masyarakat.

“Penanganan sejak dini sangat krusial agar dampak kebakaran terhadap lingkungan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat ditekan sekecil mungkin,” ujar Tri Purwanto di Jayapura, Papua, Rabu (21/10).

Selain kesiapan personel, sejumlah Kodim di jajaran Kodam Cenderawasih juga menyiagakan dukungan sarana dan prasarana penunjang, mulai dari mobil pemadam kebakaran, truk tangki air, unit ambulans, hingga kendaraan operasional penjelajah medan sulit.

Pihak Kodam Cenderawasih mengimbau seluruh lapisan masyarakat Papua untuk tidak membuka atau membersihkan lahan pertanian dengan cara membakar. Warga juga diminta tidak meninggalkan titik api sekecil apa pun tanpa pengawasan.

Masyarakat yang menemukan indikasi kebakaran hutan diimbau segera melapor ke Babinsa, Koramil, maupun petugas terkait. Informasi awal yang cepat dan akurat sangat menentukan keberhasilan pemadaman, terutama di lokasi pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Sinergi padu antara masyarakat, TNI, pemerintah daerah, dan instansi penanggulangan bencana menjadi kunci utama dalam mencegah meluasnya Karhutla serta membebaskan langit Papua dari kabut asap. (*)