ENAROTALI, ODIYAIWUU.com — Pihak Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah dan Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Paniai, Kamis (5/11) menegaskan sikap keberatan kepada TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Habema/Yonif 2 Marinir memanfaatkan halaman gereja di wilayah Kabupaten Paniai membangun pos militer sementara.
“Kami minta agar pihak TNI segera menghentikan membangun pos sementara di halaman gereja seperti yang terjadi di Gereja Stasi Santo Petrus Tuguwai, Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekanat Paniai, Keuskupan Timika,” ujar Ketua Pemuda Katolik Komcab Paniai Yunus Eki Gobay di Enarotali, kota Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Kamis (5/11).
Sedangkan Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Tengah Tino Mote menegaskan, penggunaan aset dan fasilitas Gereja Katolik dan Protestan di Paniai dan wilayah Papua Tengah tidak boleh terjadi karena akan menimbulkan trauma tidak hanya umat Katolik maupun Protestan tetapi warga masyarakat.
“Kami juga meminta sikap tegas Bapak Panglima TNI dan Bapak Panglima Kodam Mambruk agar memperhatikan keberatan kami ini. Kami memandang serius bahwa penggunaan halaman gereja sebagai pos militer juga akan menimbulkan sikap tidak simpati warga masyarakat, termasuk umat Kristiani di wilayah Meepago,” kata Tino Mote di Nabire, Papua Tengah, Kamis (5/11).
Yunus Gobay juga menambahkan, pada Sabtu (31/10), anggota Satuan TNI (Batalyon Habema) dan Marinir yang berkedudukan di Pasir Putih, memasuki Distrik Aweida, termasuk Desa Tuguwai, yang berada tak jauh dari pos Misi Katolik tanpa izin dari petugas gereja maupun Pemerintah Distrik Aweida.
“Kedatangan pasukan tersebut semakin menimbulkan trauma dan kepanikan mendalam di tengah masyarakat setempat. Saat mendengar aparat TNI memasuki wilayah sekitar gereja, anggota DPRK Paniai bersama Kepala Suku Besar Paniai segera menuju Desa Tuguwai,” kata Yunus Gobay.
Menurut Yunus Gobay, setiba di Desa Tuguwai diketahui bahwa pasukan tersebut sudah tidak berada di lokasi dan telah kembali ke Pos Koramil Komopa. Pasukan sempat berada di Tuguwai selama dua hari.
“Gereja beserta seluruh fasilitas seperti pastoran (tempat tinggal pastor, imam Katolik) merupakan tempat kudus, netral, dan khusus untuk bagi pelayanan rohani, kemanusiaan serta tempat bernaung para pelayan altar dan umat Katolik,” kata Yunus Gobay.
Tino menambahkan, penempatan pos militer dapat menimbulkan rasa tidak aman bahkan memunculkan trauma masa lalu di kalangan masyarakat sipil, terutama umat Kristiani serta mencederai independensi serta netralitas institusi Gereja di Paniai bahkan Papua Tengah.
“Sekali lagi, kami meminta pucuk pimpinan TNI dan pihak Kodam Mambruk agar memperhatikan dengan serius demi menjaga rasa damai di tengah masyarakat sekaligus menjaga semangat warga bekerja mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi bangsa yang tidak sedang baik-baik saja. Pro Ecclesia et Patria – Probono Publico,” ujar Tino. (*)










