OPINI  

Belajar dari Budaya Papua

Ernest Pugiye, Guru SMAN 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh Ernest Pugiye

Guru SMAN 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah

BUDAYA merupakan ingatan hidup suatu masyarakat. Melalui benda, gambar, ukiran, pakaian, alat musik, dan berbagai karya seni, manusia mewariskan pengetahuan tentang alam, kehidupan bersama, identitas, dan nilai yang dijunjung oleh leluhurnya.

Warisan budaya Papua memperlihatkan bahwa masyarakat Papua telah membangun pengetahuan dan kreativitas melalui pengalaman panjang. Karena itu, mempelajari budaya berarti mengenali kemampuan manusia Papua dalam memahami dunia, mengembangkan kehidupan, dan menjaga keberlanjutan masyarakatnya.

Pentingnya pendidikan melalui budaya terlihat dalam kegiatan Museum Waktu: Mimpi di Tanah Papua yang diselenggarakan Komunitas Satu Mimpi bersama Dinas Pendidikan Kota Jayapura di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Selasa, 31 Maret 2026.

Media Papua yang konsisten menyoroti pembangunan dan perdamaian di Tanah Papua, yakni Jubi, Suara Papua, dan Tribun-Papua.com, menjadi bagian penting dalam penyebaran informasi mengenai pendidikan sejarah dan kebudayaan bangsa kita.

Pada 7 bulan lalu 2026, Tribun-Papua.com melaporkan bahwa kegiatan tersebut melibatkan 600 pelajar, terdiri atas 200 siswa SD, 200 siswa SMP, dan 200 siswa SMA. Materi sejarah disajikan melalui lima zona waktu, mulai dari masa prakolonial, masa kolonial, era Perang Dunia, proses integrasi Papua ke Indonesia, hingga perkembangan pada masa otonomi khusus. Pameran foto, pemutaran film, dan diskusi menjadi sarana belajar sejarah bagi generasi muda.

Kegiatan tersebut dapat diibaratkan sebagai perjalanan menyusuri sungai waktu. Di sepanjang alirannya, setiap foto, benda, dan cerita menjadi batu penanda yang membantu generasi muda mengenali dari mana mereka berasal dan bagaimana masyarakatnya menjalani perubahan zaman.

Jika sungai kehilangan mata air, alirannya akan terputus; demikian pula generasi muda yang kehilangan hubungan dengan sejarah dan kebudayaannya akan kesulitan memahami akar identitasnya. Museum menjadi ruang untuk menemukan kembali mata air pengetahuan itu, sementara sekolah membantu mengalirkannya menuju masa depan.

Dengan demikian, belajar sejarah Papua bukan sekadar mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran agar generasi muda mampu memahami pengalaman masyarakatnya, menghargai perbedaan, dan ikut merawat perdamaian Papua.

Sumber Pengetahuan

Museum memberikan kesempatan kepada siswa untuk berjumpa dengan jejak kehidupan manusia. Mereka dapat mengamati bentuk benda, bahan pembuatannya, fungsi, serta cerita yang menyertainya.

Pengalaman tersebut mempertemukan pengetahuan dari buku dengan bukti visual. Siswa pun belajar bahwa sebuah benda dapat menyimpan informasi tentang keterampilan, hubungan sosial, lingkungan, dan perjalanan masyarakat.

Bagi pendidikan Papua, warisan budaya merupakan sumber pengetahuan yang penting. Noken, ukiran, alat musik, pakaian adat, dan rumah tradisional memperlihatkan kemampuan masyarakat mengolah bahan alam, menciptakan bentuk, dan meneruskan keterampilan antargenerasi.

Karya tersebut memiliki nilai praktis, estetis, sosial, dan budaya. Maknanya perlu dipahami berdasarkan kehidupan masyarakat yang menciptakannya. Dalam pembelajaran seni rupa, siswa dapat mengamati garis, warna, bentuk, pola, tekstur, bahan, dan teknik.

Mereka juga dapat menanyakan alasan suatu bentuk dibuat, bagaimana bahan diperoleh serta keterampilan yang diperlukan untuk menghasilkan karya. Kegiatan tersebut melatih ketelitian, daya cipta, kemampuan bertanya, dan keberanian menyampaikan pendapat berdasarkan pengamatan.

Pembelajaran budaya juga membuka ruang bagi pengetahuan masyarakat. Guru dapat mengajak pengrajin, seniman, pemusik, tetua adat, dan pemilik pengetahuan tradisional berbagi pengalaman.

Cerita mereka membantu siswa memahami bahwa pengetahuan berkembang melalui praktik, pengamatan, dan pewarisan antargenerasi. Sekolah kemudian dapat mengembangkan hasil kunjungan menjadi tulisan, gambar, diskusi, atau pameran karya siswa.

Pengalaman museum waktu memperlihatkan bahwa sejarah dapat dipelajari melalui media visual dan dialog. Namun, keberhasilan kegiatan semacam ini perlu dilihat dari pemahaman yang diperoleh siswa.

Apakah mereka mampu menjelaskan peristiwa, menghubungkan sejarah dengan kehidupan sekarang, dan menyampaikan gagasan berdasarkan informasi yang dipelajari? Pertanyaan tersebut penting agar kunjungan museum berlanjut menjadi proses belajar yang bermakna.

Budaya juga mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan. Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menciptakan keindahan dan memenuhi kebutuhan hidup.

Perbedaan bentuk, bahan, serta teknik tidak semestinya menjadi dasar untuk merendahkan kebudayaan tertentu. Siswa perlu belajar memahami karya berdasarkan fungsi, lingkungan, dan nilai masyarakat pembuatnya. Dengan demikian, pendidikan seni dapat menumbuhkan kepercayaan diri generasi muda Papua.

Mereka dapat menghargai karya masyarakat sendiri, mempelajari pengetahuan yang terkandung di dalamnya, dan mengembangkan kreativitas berdasarkan pengalaman lokal. Sikap terbuka terhadap kebudayaan lain tetap penting, tetapi keterbukaan perlu berjalan bersama penghargaan terhadap identitas sendiri.

Merawat Kedaulatan Budaya

Artefak budaya yang diwariskan selama berabad-abad dan disimpan di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Jayapura, memperlihatkan kesinambungan kehidupan masyarakat Papua. Benda-benda tersebut menyimpan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan pengalaman leluhur dalam membangun kehidupan bersama.

Setiap artefak memiliki asal-usul, fungsi, serta makna yang berkaitan dengan masyarakat pemiliknya. Karena itu, warisan budaya berhubungan erat dengan kedaulatan manusia dan budaya Papua, yaitu hak masyarakat untuk menjaga, menjelaskan, mewariskan, dan menentukan bagaimana kebudayaannya dipahami serta diperlakukan.

Kedaulatan budaya tidak berarti menolak perubahan atau menutup diri dari pengetahuan baru. Masyarakat Papua dapat mengembangkan kreativitas dan menjalin hubungan dengan dunia luar tanpa kehilangan hak untuk menentukan makna warisannya.

Perubahan dapat memperkaya kehidupan apabila menghormati martabat manusia, pengetahuan adat, dan hak masyarakat pemilik budaya. Sebaliknya, pengambilan, pemindahan, pemajangan, atau pemanfaatan artefak tanpa memperhatikan asal-usul, persetujuan, dan makna adatnya dapat melukai hubungan antara benda budaya dan masyarakat yang mewarisinya.

Menyadari pentingnya kedaulatan manusia dan budaya Papua, guru memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan warisan budaya secara benar kepada peserta didik. Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih perlu ditempatkan sebagai sumber belajar penting bagi sekolah-sekolah di enam provinsi di Tanah Papua.

Melalui pembelajaran yang terarah, siswa dapat mengenali asal benda, bahan, teknik pembuatan, fungsi, pembuat, dan masyarakat pemiliknya. Namun, pengenalan tersebut harus menghormati ketentuan adat setiap masyarakat.

Artefak yang dipamerkan tidak boleh langsung dianggap sebagai benda tontonan yang bebas ditafsirkan, difoto, ditiru, atau digunakan tanpa batas. Penghormatan terhadap aturan adat dan persetujuan masyarakat pemiliknya harus menjadi bagian dari kegiatan apresiasi.

Tanggung jawab pendidikan budaya perlu ditanamkan sejak sekolah. Ketika siswa menggambar motif tradisional, mempelajari alat musik, atau mendokumentasikan upacara adat, mereka perlu mengetahui asal-usulnya, memahami maknanya, dan menghormati batas penggunaannya.

Pengetahuan budaya tidak dapat dipisahkan dari hak masyarakat yang mewarisinya. Kreativitas akan lebih bermakna apabila disertai tanggung jawab untuk menjaga martabat pemilik pengetahuan tersebut.

Sekolah-sekolah di Tanah Papua dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan para pelaku budaya melalui kegiatan menulis dan berkarya seni rupa. Guru dapat mengundang seniman, pengrajin, pemusik, dan tokoh adat untuk membagikan pengetahuan tentang warisan leluhur, kemudian membimbing siswa menulis cerita budaya dan menggambar objek yang mereka amati.

Dalam proses tersebut, siswa dapat mengkaji garis pada pola ukiran, bentuk pada noken dan rumah adat, bidang pada susunan motif, warna pada pakaian dan hiasan tradisional, tekstur pada serat bahan alam, ruang pada susunan bangunan dan lingkungan budaya, gelap terang pada objek yang digambar, serta titik sebagai unsur pembentuk pola dan detail karya.

Pengamatan terhadap delapan unsur seni rupa ini membantu siswa memahami karakter visual karya budaya Papua sekaligus mengembangkan daya cipta melalui gambar, ilustrasi, desain motif, dan karya seni baru yang berakar pada pengetahuan lokal.

Tulisan dan karya tersebut perlu disertai keterangan mengenai asal-usul objek, makna budaya, serta sumber informasi yang digunakan. Siswa juga harus menghormati izin dan ketentuan adat masyarakat pemiliknya agar kegiatan berkarya menjadi sarana pembelajaran yang memperkuat kreativitas, pengetahuan, dan penghargaan terhadap kedaulatan budaya Papua.

Tanggung jawab ini sejalan dengan Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, khususnya Pasal 11, 12, dan 31. Ketentuan tersebut menegaskan hak masyarakat adat untuk memelihara, melindungi, mengembangkan, dan mengendalikan warisan budaya, pengetahuan tradisional, serta ekspresi kebudayaannya.

Kode Etik Museum dari Dewan Museum Internasional (ICOM) juga menekankan pentingnya penelitian asal-usul koleksi, dialog dengan masyarakat asal, akses pendidikan yang bertanggung jawab, serta pertimbangan pengembalian benda budaya.

Prinsip-prinsip internasional tersebut menjadi landasan etis bagi pengelolaan dan pemanfaatan koleksi Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih. Penerapannya perlu memperhatikan asal-usul setiap artefak, sejarah perolehannya, makna adat, serta pandangan masyarakat pemiliknya.

Ketentuan khusus mengenai akses, fotografi, dan penggunaan koleksi perlu dikonfirmasi kepada pengelola museum dan masyarakat terkait. Dengan demikian, penghormatan terhadap budaya Papua berjalan berdasarkan pengetahuan yang benar, persetujuan yang layak, dan tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, belajar dari kebudayaan Papua berarti mengakui masyarakat Papua sebagai subjek pengetahuan yang memiliki kemampuan berpikir, menafsirkan pengalaman, dan membangun peradaban melalui sejarahnya sendiri.

Warisan nilai dan tradisi Papua merupakan sumber kebangkitan memori kolektif sekaligus landasan untuk membangun pendidikan yang memanusiakan manusia, membebaskan pikiran, dan mengembalikan generasi bangsa kepada kesadaran akan realitas kehidupan yang damai.

Pertemuan antara peradaban Papua dan ideologi yang berkembang dari Jawa dan pemerintah Jakarta hanya dapat berlangsung secara bermartabat apabila dibangun di atas kesetaraan, pengakuan sejarah, dan penghormatan terhadap hak setiap masyarakat adat untuk menentukan makna kehidupannya.

Generasi bangsa Papua sekarang berhak memahami sejarahnya, sedangkan generasi mendatang berhak menerima warisan kebudayaan tanpa kehilangan kebebasan untuk menafsirkannya kembali.

Dari ruang museum Papua hingga ruang kelas, pendidikan kebudayaan perlu membebaskan manusia dari ketidaktahuan, membuka ruang bagi pertukaran gagasan yang kritis, dan menumbuhkan generasi Papua yang berpengetahuan, percaya diri, kreatif, serta bertanggung jawab atas masa depan kebudayaannya.