OPINI  

Jangan Ambil Ikan Kecil, Paksa Kailnya untuk Laut Utara: Saran untuk Menteri Bahlil

Max Umbu, Analis Ketahanan Energi. Foto: Istimewa

Oleh Max Umbu

Analis Ketahanan Energi

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Bahlil Lahadalia mendapat telepon manis dari Abu Dhabi. “30 juta barel gratis, Pak! Free kapal tanpa working capital.” Jangan tepuk tangan dulu. Ini bukan sedekah. Ini uang muka.

Di dunia minyak dan gas (migas) tidak ada makan siang gratis. Namun, yang ada adalah product buy product, bukan money buy money. Uni Emirat Arab atau United Arab Emirates (UAE) tahu persis, Indonesia sedang lapar energi, Eropa sedang kedinginan, dan Selat Hormuz bisa tutup kapan saja.

Oleh karena itu, saran penulis kepada Menteri Bahlil: ambil tetapi jangan hanya untuk andaman. Paksa untuk Pantai Utara (Pantura) Jawa. Analogi sederhana: warung dan gudang. Andaman itu seperti warung baru di pinggir jurang. Indah, tetapi setiap saat gempa M9.2 bisa sapu.

Pantura Jawa itu gudang tua di belakang rumah. Isinya 9,9 miliar barel setara minyak, sudah diketahui sejak Belanda, tetapi kuncinya karatan karena takut gempa dan biaya.

UEA datang menawarkan 30 juta barel untuk membuka warung baru. Kita harus bilang: “kalau mau buka warung baru, sekalian buka gudang lama saya. Risikonya kamu tanggung.”

Mengapa? Karena 9,9 miliar di Pantura Jawa adalah angka aman secara geologi, tetapi tidak aman secara teknologi kita. Kita butuh mereka yang punya teknologi floating production, storage, and offloading (FPSO) tahan gempa.

Fair Trade Formula

Pemerintah hitung andaman punya potensi sekitar 500 juta barrel of oil equivalent (BOE) 0,5 miliar. Pantura: 9,9 miliar BOE. Rasio: $9,9 / 0,5 = 19,8$ kali lipat. Jika UEA mau kasih 30 juta barel gratis untuk 0,5 miliar, maka untuk 9,9 miliar, logika fair-nya: $19,8 \times  30.000.000 barel = 594.000.000 barel$ di muka sebagai jaminan eksplorasi Pantura.

Hitung uangnya: pada harga ICP US$80/barel: 594 juta × 80 = US$47,52 miliar; kurs Rp 16.500: Rp 784,08 triliun; penghematan ongkos kirim US$4/barel: US$2,37 miliar atau Rp 39,1 triliun; penghematan working capital 3 bulan bunga 6%: US$2,85 miliar.

Itu belum termasuk waktu. Dengan stok di muka, Indonesia tidak perlu impor mendadak saat La Nina datang, saat Selat Malaka macet, saat kilang Pertamina shutdown. Efisiensi waktu sama dengan efisiensi pertahanan.

Bahlil mau ke India dan China cari bahan bakar minya (BBM). Itu rute yang salah. India 85 persen impornya juga dari Timur Tengah dan Rusia. Dia juga berebut kapal. China? Stoknya besar, tetapi dia tidak akan jual ke kita saat dia bersiap untuk Taiwan.

Lebih masuk akal: barter batubara. India dan China pembangkitnya 70 persen masih batubara. Indonesia produsen batubara terbesar ke-3 dunia. Mereka butuh kalori 4.200 GAR kita untuk nyalakan lampu. Kita butuh molekul BBM mereka untuk nyalakan tank Leopard dan kapal induk kita yang minum 500 ton solar sehari.

Jangan pakai dolar. Dolarnya sedang perang. Pakai batubara bayar BBM. 1 ton batubara kalori 4.200 = 3,8 barel solar. Itu kurs yang adil.

Sinergi Sejati: Energi-Pangan-Kesehatan-Pertahanan

Orang lupa, ketahanan energi itu bukan urusan Pertamina saja. Kapal perang dan 8 frigate kita butuh 2 juta barel setahun. Kalau Selat Hormuz tutup, kapal kita mogok, siapa jaga Ambalat?

Traktor dan pompa pangan butuh solar. Kalau solar langka saat La Nina, gagal panen. Kalau gagal panen, gula darah rakyat naik, stunting naik. Ketahanan kesehatan runtuh. Listrik rumah sakit butuh gas.

Perusahaan Gas Negara (PGN) sudah warning defisit 513 MMSCFD di Jawa-Sumatera pada 2035. Kalau rumah sakit mati lampu, apa artinya punya cadangan minyak? Itulah aksioma: tidak ada ketahanan pangan dan kesehatan tanpa ketahanan energi yang tahan gempa.

Strategis: terima 30 juta barel UEA sebagai strategic petroleum reserve, simpan di Tanjung Uban dan Balongan. Jangan langsung bakar. Jadikan bantalan 45 hari seperti cadangan minyak strategis atau strategic petroleum reserve (SPR) milik Amerika Serikat.

Teknis: syaratkan Mubadala masuk ke dua blok Pantura (North East Java-1 dan Muriah) dengan teknologi seismic ocean bottom node tahan gempa. Risiko gempa mereka yang asuransikan, bukan APBN.

Taktis: untuk India-China, buka desk barter di Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2026 sudah memungkinkan. 10 juta ton batubara = 38 juta barel BBM. Langsung kapal ke kapal di perairan Kalimantan tanpa lewat Singapura.

Jika ini dijalankan, Indonesia tidak hanya dapat minyak gratis. Kita dapat transfer risiko gempa, transfer teknologi, dan transfer mata uang dari dolar ke batubara. 30 juta barel itu bukan akhir. Itu adalah kail.

Jangan ambil ikannya saja, Pak Bahlil! Ambil kailnya untuk memancing di laut kita sendiri yang 9,9 miliar itu. Karena perang di Eropa, perang di Timur Tengah, dan badai La Nina tidak akan menunggu front-end engineering design (FEED) selesai.