Panggilan di Ambang Waktu
SEPEREMPAT Abad yang lalu, di sebuah ruang sunyi yang hangat oleh kerinduan spiritual, sebuah suara bertutur tanpa kata. Bukan gemuruh yang membelah langit. Ia bisikan lembut yang merayap ke dalam relung jiwa terdalam.
Sebuah panggilan suci bergema, mengundang dua hati untuk melangkah keluar dari kenyamanan diri, menanggalkan ambisi manusiawi, dan menyerahkan seluruh jalan hidup ke dalam tangan Tuhan, sang Sabda.
Di tengah ketidakpastian dunia dan dinamika zaman, sebuah jawaban tulus terucap dari kedalaman kalbu: “Ya Tuhan, karena Engkau terus memanggil, maka saya menjawab, Ya.” Jawaban itu bukan sekadar untaian kata yang menggema bersama sang bayu.
Ia ikrar tentang arti terdalam kesetiaan yang dimeteraikan Roh Kudus. Pada 14 Oktober 2001, benih imamat ditanamkan dalam bejana tanah liat. Sebuah rahasia ilahi yang kini menyentuh angka dua puluh lima tahun. Ziarah itu tumbuh menjadi pohon rindang, tempat bernaung bagi ribuan jiwa di atas tanah Papua.
Bukan karena kehebatan jemari manusiawi, bukan pula karena kesempurnaan langkah prajurit Allah, melainkan karena rahmat-Nya yang senantiasa cukup. Langkah demi langkah diayunkan dalam kesederhanaan jubah, menyusuri lorong-lorong waktu.
Mereka menabur benih-benih Kabar Gembira dari sang Sabda. Kedua imam Tuhan itu menghadirkan wajah Kristus yang rahim tanah Melanesia demi umat kesayangan-Nya.
Rencana Damai Sejahtera di Tanah Perutusan
Mewartakan Injil di atas medan pelayanan demi umat-Nya bukanlah jalan tanpa onak dan duri. Ada terik matahari yang membakar dahaga, ada hujan lebat yang membasahi jubah perutusan.
Ada jalan terjal penuh tantangan yang menuntut keteguhan iman dalam kasih-Nya. Namun, di dalam setiap hembusan napas pelayanan dan titik peluh yang menetes, janji Allah senantiasa meneguhkan dan menjadi tumpuan:
“Sebab Aku tahu rencana-rencana yang Aku ada padamu, demikianlah firman Tuhan, rencana damai sejahtera dan bukan rencana kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Dengan membawa warta harapan ini, RP Paulus Tumayang Tangdilintin, OFM dan Pastor Yohanes Djonga, Pr melangkah mantap di atas bumi pertiwi Papua. Mereka tidak berjalan sebagai penguasa, melainkan sebagai sahabat, pelayan, dan gembala yang berjalan bersama umat-Nya.
Dalam setiap usapan tangan yang menguatkan yang berduka, dalam setiap patahan roti Ekaristi yang dibagikan, dan dalam setiap doa pengampunan yang diucapkan, rencana damai sejahtera Tuhan nyata hadir.
Perjalanan waktu hingga merapat pada angka 25 tahun adalah bukti hidup bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya yang setia. Bahwa cinta dan asa yang dipasrahkan pada Kristus tidak akan pernah mengecewakan.
Jejak Pelayanan dan Embusan Kasih
Dua puluh lima tahun adalah rentang waktu yang kaya akan kisah, air mata, tawa, dan pengorbanan. Di bawah naungan Keuskupan Jayapura, kedua hamba Tuhan ini telah mendedikasikan hidup mereka dalam corak perutusan yang indah dan saling melengkapi:
Melalui suara dan media Warta (Komsos dan Gembala Paroki) tangan yang tak lelah merangkul umat di Paroki Santo Fransiskus Asisi APO serta lisan dan media komunikasi sosial yang terus menyuarakan kebenaran, kedamaian, dan persaudaraan.
Mengirimkan gelombang warta sukacita ke seluruh pelosok keuskupan, agar kebaikan Allah dapat didengar dan dirasakan oleh setiap hati yang dahaga.
Melalui kehadiran yang menyatu dari dua imam Tuhan ini, langkah kaki tekun menyusuri lembah dan gunung, hadir di tengah gelak tawa maupun duka masyarakat Papua.
Menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan umat, menegakkan keadilan, merawat kemanusiaan serta membawa kabar baik bahwa Kristus selalu ada di tengah-tengah mereka.
Kesetiaan ini dimurnikan bagai perak dalam tanur perapian. Terus diproses, dibentuk, dan dikilaukan oleh waktu, hingga memancarkan keagungan sang Pencipta yang telah memanggil mereka sejak awal mula.
Syukur Perak dan Doa Untuk Masa Depan
Hari ini, 14 Oktober 2026, gereja dan umat Allah di Keuskupan Jayapura melambungkan madah pujian yang tak terhingga. Bersama Yang Mulia Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You dan seluruh kawanan domba yang digembalakan, kita menengadah ke langit, mengatupkan tangan dan takluk di bawah kaki salib-Nya: “Terima kasih, ya Tuhan, atas kesetiaan dua hamba-Mu ini.”
Namun, pesta perak ini bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebuah tugu peringatan kasih Allah untuk melangkah lebih jauh lagi. Api Roh Kudus yang membakar dada mereka seperempat abad yang lalu, kini dimohonkan untuk menyala semakin terang dan hangat.
Mari kita berdoa: Ya Tuhan Yesus Kristus, Sang Gembala Agung dan Imam Setia. Terima kasih atas anugerah 25 tahun Imamat yang Engkau percayakan kepada RP Paulus Tumayang Tangdilintin, OFM dan Pastor Yohanes Djonga, Pr.
Berikahlah mereka kesehatan jiwa dan raga, karuniakanlah kebijaksanaan yang bersumber dari Roh-Mu, serta lindungilah mereka dari setiap marabahaya dan keputusasaan.
Jadikanlah mereka selalu menjadi benteng kedamaian, saluran berkat, dan pembawa sukacita bagi umat-Mu di Tanah Papua. Semoga mereka tetap setia, tetap bersemangat dan tanpa lelah menjawab “ya” atas setiap perutusan-Mu hingga kelak mencapai mahkota kehidupan yang abadi. Amin.
Proficiat atas Pesta Perak 25 Tahun Imamat! Selamat melanjutkan karya perutusan bersama umat, mewartakan Kristus di tanah Papua!
Jayapura, 14 Februari 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










