MAYBRAT, ODIYAIWUU.com — Kontak tembak antara Satuan Tugas (Satgas) Rajawali V Koops Habema dan Satgas Yonif Marinir IX di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III melawan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) terjadi di Maybrat, Papua Barat Daya, Jumat (9/10) sekitar pukul 10.00 WIT.
Dalam kontak tembak tersebut Panglima TPNPB OPM Komando Daerah Pertahanan (Kodap) IV Sorong Raya Manfret Fatem bersama dua anak buahnya, Komandan Batalion Kodap IV Sorong Raya Anton Fatem dan Yesias Fatem meninggal dunia.
“Pada Jumat (9/10) Satgas mengejar Manfret Fatem lalu terjadi kontak senjata dengan bos kelompok sparatis tersebut di pedalaman Hutan Sori, dekat Sungai Frambu, Maybrat,” ujar Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Lucky Avianto melalui keterangan tertulis yang diperoleh di Maybrat, Papua Barat Daya, Sabtu (10/10).
Menurut Lucky, dari informasi yang diperoleh menyebutkan pasukan Satgas TNI yang menemukan tempat persembunyian Manfret bersama dua orang kaki tangannya, Anton Fatem dan Yesias Fatem, langsung dihujani peluru tajam oleh ketiganya secara membabi buta.
Buntutnya, Manfret tewas di tempat, sementara Anton dan Yesias yang mencoba melarikan diri ke Sungai Kamundan, Maybart, juga tewas dalam pertempuran sengit melawan pasukan Satgas TNI yang mengejar dan hendak menangkap mereka dalam keadaan hidup maupun mati.
“Di sekitar jasad Manfret, kita temukan senapan mesin AK-101 beserta puluhan peluru tajam dan selembar bendera bintang kejora,” kata Lucky Avianto lebih lanjut.
Sementara jasad dua loyalis Manfret yang tenggelam ke dalam sungai saat ini masih terus dicari oleh pasukan Satgas TNI. Di sekitar sungai juga ditemukan sepucuk senapan Caracal kaliber 5,56 mm serta beberapa barang pribadi milik Anton dan Yesias.
Keberhasilan operasi ini sekaligus mengungkap kebenaran info retaknya hubungan internal kelompok separatis tersebut. Diduga kuat, Manfret beserta dua bawahannya telah ditinggalkan oleh para anggotanya sendiri yang kecewa atas sikap kepemimpinannya yang egois dan selalu mengorbankan anak buah demi menyelamatkan diri sendiri.
Manfret yang terkenal sadis dan bengis disebut adalah otak sekaligus tersangka sejumlah kasus kejahatan kemanusiaan di Papua khususnya Papua Barat Daya. Di antaranya, kasus pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, pengerusakan dan pembakaran rumah, sekolah, dan tempat ibadah.
“Melalui kesempatan ini saya ingatkan kembali kepada seluruh Anggota TPNPB OPM di manapun berada. TNI-Polri bersama seluruh aparat penegak hukum di ufuk timur Indonesia, akan terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di tanah Papua, baik dalam keadaan hidup atau mati,” katanya.
Menurut Lucky, seluruh personil TNI di bawah kendali Kogabwilhan III akan mengambil tindakan tegas berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku, di mana rules of engagement (ROE) senantiasa dikedepankan untuk memastikan seluruh tindakan prajuritnya tetap profesional dan menjunjung tinggi hukum serta HAM.
“Saya pastikan Satgas TNI tidak akan pernah ragu mengambil tindakan tegas dan terukur ketika berhadapan dengan situasi tertentu, khususnya mendesak, mengingat prinsip salus populi suprema lex esto (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi) senantiasa menjadi pedoman Satgas TNI, terutama dalam menghadapi kekejian OPM,” kata Lucky. (*)










