Peringatan 800 Tahun Wafatnya Santo Fransiskus Asisi Menyerukan Perdamaian Dunia

Para biarawan Fransiskan berlutut dan berdoa pada saat-saat terakhir penghormatan terhadap relikui Santo Fransiskus Assisi pada 22 Maret, di bagian bawah Basilika Santo Fransiskus Assisi. Sumber foto: ucanews.com, Sabtu, 3 Oktober 2026

ITALIA, ODIYAIWUU.com — Ribuan peziarah serta para pemimpin sipil dan keagamaan diperkirakan akan hadir pada akhir pekan ini untuk memperingati Pesta Santo Fransiskus Asisi, menandai 800 tahun wafatnya, seraya menyerukan perdamaian dunia.

Perayaan pada Sabtu-Minggu (3-4/10) ini akan menjadi inti dari Tahun Yubileum yang ditetapkan Pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Leo XIV yang dimulai pada 10 Januari 2026 dan berlangsung hingga 10 Januari 2027.

Menurut dekret yang mencanangkan perayaan sepanjang tahun tersebut, Tahun Yubileum ini merupakan puncak dan pemenuhan dari semua peringatan 800 tahun sebelumnya yang menandai peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Santo Fransiskus, termasuk pembuatan tablo kelahiran Yesus yang pertama, serta penyusunan “Kidung Makhluk”  dan peristiwa diterimanya stigmata.

Keuskupan Assisi-Nocera Umbra-Gualdo Tadino mengumumkan bahwa perayaan akan dimulai pada 3 Oktober dengan prosesi dan peringatan khidmat “Transitus” (“peralihan”), yaitu doa tradisional Fransiskan yang menandai peralihan Santo Fransiskus menuju kehidupan kekal.

Doa tersebut akan diadakan di Basilika Santa Maria dari Para Malaikat, tempat beradanya kapel di mana Santo Fransiskus wafat.

Sebuah ziarah jalan kaki akan dilakukan melintasi kota Assisi dan berakhir di Basilika Santo Fransiskus; di sana, pada pukul 23.59, lonceng akan dibunyikan untuk menyambut hari pesta tersebut.

Dalam pernyataan yang diterbitkan pada 29 September, Pastor Giulio Cesareo OFMCon, juru bicara Basilika Santo Fransiskus di Assisi mengajak Gereja Katolik di seluruh dunia untuk membunyikan lonceng mereka secara serentak guna memperingati wafatnya sang santo.

“Kami mengajak para pastor paroki serta rektor gereja dan tempat ziarah di seluruh dunia untuk turut serta dalam tindakan sederhana namun bermakna ini, guna bersama-sama menyongsong pesta peringatan Santo dari Asisi, sang saudara bagi semua orang,” ujar Pastor Cesareo.

Setelah lonceng berbunyi pada tengah malam, Kardinal Ángel Fernández Artime, utusan Paus untuk Basilika Santo Fransiskus dan Basilika Santa Maria dari Para Malaikat di Asisi, akan memimpin Misa. Pihak keuskupan menyatakan bahwa setelah Misa, para peziarah dapat mengunjungi dan berdoa di depan makam Santo Fransiskus sepanjang malam.

Rangkaian perayaan akan mencapai puncaknya pada 4 Oktober dengan Misa di bagian atas Basilika Santo Fransiskus.

Presiden Italia Sergio Mattarella, Wali Kota Asisi Valter Stoppini serta para pemimpin sipil lainnya, duta besar, dan pejabat tinggi akan hadir.

Mattarella juga akan berpartisipasi dalam acara penyalaan lilin di makam sang santo dan menyampaikan pidato bagi bangsa dari balkon Biara Suci Santo Fransiskus Asisi.

Dalam konferensi pers di Roma pada 17 September, Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia mengatakan, perayaan akhir pekan tersebut merupakan kesempatan berharga untuk kembali pada hal yang esensial: persaudaraan yang dihidupi oleh Santo Fransiskus dan ditawarkannya kepada semua orang tanpa batas maupun pengecualian.

“Di masa yang ditandai oleh konflik-konflik yang seolah tak memiliki jalan keluar, teladannya mengingatkan kita bahwa perdamaian bukanlah utopia, melainkan jalan nyata yang dibangun hari demi hari, dimulai dari mereka yang paling miskin dan paling rentan,” ujar Kardinal Zuppi.

Penyalaan lilin nazar, tambahnya, akan melambangkan komitmen untuk menjaga agar cahaya perdamaian tetap menyala, yang dibangun setiap hari dengan kesabaran, dialog, dan keadilan.

“Kami menyerahkan Italia, Eropa, dan dunia yang masih terlalu takut untuk meletakkan senjata kepada Santo Fransiskus: semoga perantaraannya menginspirasi perubahan hati dan keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan yang berani,” kata Kardinal Zuppi.

Bagi Uskup Agung Felice Accrocca, Uskup Keuskupan Assisi-Nocera Umbra-Gualdo Tadino, perayaan ini akan menghadirkan kehidupan dan teladan “pewarta perdamaian yang tanpa perlindungan senjata” itu ke tengah dunia yang sedang dilanda perang dan kekerasan.

Santo Fransiskus, ujarnya, masih memiliki banyak hal untuk disampaikan kepada dunia yang justru sedang ditiup angin peperangan, di mana banyak pihak tampak berhasrat memamerkan kekuatan –seolah-olah hendak menegaskan gagasan bahwa berbagai persoalan tidaklah diselesaikan melalui kekuatan hukum, melainkan melalui hukum kekuatan. (*)

Sumber: ucanews.com, Sabtu, 3 Oktober 2026