BORONG, ODIYAIWUU.com — Sebagian warga Desa Nampar Tabang dan Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Sabtu (3/10) masih bertahan di bawah tenda darurat.
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada (15/8) pukul 05.58 WITA mengakibatkan rumah mereka rusak berat hingga hancur. Memasuki musim hujan Oktober ini warga mulai merasa khawatir tinggal di tenda-tenda darurat dalam kondisi serba terbatas.
Warga juga masih menunggu hunian sementara (huntara) sekaligus bantuan kebutuhan dasar untuk melewati masa pemulihan pasca gempa pekan kedua Agustus lalu.
Kondisi tersebut dialami Nikolaus Hamu, warga Kampung Cenop, Nampar Tabang. Hingga awal Oktober, Nikolaus bersama keluarganya masih tinggal di tenda pengungsian setelah rumah mereka hancur total akibat gempa.
Hingga Kamis (2/10), Nikolaus masih bertahan di rumah yang masih berserakan puing-puing reruntuhan rumahnya. Dinding rumahnya jebol, atap ambruk, dan material bangunan hancur. Keluarga itu kini hanya mengandalkan tenda bantuan sebagai tempat berlindung.
Kondisi serupa dialami warga Desa Satar Punda. Sejumlah rumah warga rusak berat bahkan ambruk hingga rata dengan tanah. Tenda pengungsian menjadi tempat berlindung karena bagian dalam rumah tidak lagi dapat ditempati.
Warga Kampung Satar Teu, Desa Satar Punda Vinsensius Samsudin, Damianus Daur, Kosmas Van, Martinus Siara, dan Siprianus Suhardi menyampaikan harapan agar pemerintah segera membangun hunian sementara (huntara).
“Kami takut musim hujan datang. Sementara kami masih bertahan di tenda pengungsian. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” kata Samsudin diamini Daur, Van, Siara, dan Suhardi.
Kekhawatiran terhadap musim hujan juga dirasakan keluarga Nikolaus. Kondisi tenda yang menjadi tempat berlindung membuat warga membutuhkan hunian yang lebih layak untuk menghadapi perubahan cuaca.
“Mereka masih berada di posko darurat karena rumah hancur total. Yang dikhawatirkan kalau musim hujan tiba, mereka sangat butuh hunian sementara,” ujar salah seorang warga setempat.
Menurut warga Satar Punda, di dalam tenda terdapat anak-anak, ibu-ibu, dan warga lanjut usia (lansia) yang membutuhkan tempat beristirahat secara layak.
“Di tenda kami ada anak-anak, ibu-ibu, dan lansia. Mereka butuh tempat yang nyaman untuk istirahat. Semoga pemerintah segera membangun hunian sementara untuk kami warga Desa Satar Punda,” kata warga.
Selain huntara, warga terdampak gempa juga membutuhkan sembako, terpal, dan pakaian layak pakai. Meski bantuan sembako sempat disalurkan pemerintah, jumlahnya terbatas sehingga belum mencukupi kebutuhan warga untuk bertahan dalam waktu lama.
“Warga ragu untuk mencari nafkah karena gempa susulan masih terus terjadi setiap hari. Rasa trauma itu selalu menghantui kami. Kami juga butuh bantuan sembako,” ujar Nikolaus.
Menurut Nikolaus, warga juga membutuhkan terpal untuk melindungi tempat pengungsian dari hujan. Terpal dinilai penting sebagai kebutuhan sementara sebelum hunian yang lebih layak tersedia.
“Di samping itu kami membutuhkan terpal. Ini untuk mengantisipasi musim hujan yang segera datang, sehingga posko sementara kami bisa ditata dengan baik,” kata Nikolaus.
Saat ini, status kebencanaan di Manggarai Timur telah beralih dari masa tanggap darurat ke masa transisi pemulihan selama 90 hari. Namun, di tengah tahapan tersebut, masih ada warga yang belum mendapatkan hunian sementara dan tetap bergantung pada tenda darurat.
Warga berharap pembangunan huntara dapat dipercepat sebelum musim hujan tiba. Mereka juga berharap bantuan kebutuhan pokok terus disalurkan kepada keluarga yang masih terdampak.
“Kami masih sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Semoga pemerintah tidak cepat melupakan kami warga terdampak gempa ini,” ujar Nikolaus. (*)










