Prosa Lirik: Di Antara Lidah yang Berjanji dan Langkah yang Berlari Karya Yance Dou

Sumber foto ilustrasi: hikmat-keluarga.org, 25 Desember 2024

Jatuh Cinta pada Firman yang Menghidupkan

 

Maka, tataplah Firman itu hari ini!

Firman bukanlah deretan hukum yang membelenggu atau menindas

melainkan nafas kehidupan, surat cinta yang ditulis dengan darah dan rahmat

 

Mengapa kita kerap enggan merengkuh-Nya?

Kerana kita takut kehilangan kebebasan semu

Padahal, setiap “Tidak” yang diucapkan orang tua atau Firman Tuhan

menyimpan “Ya” yang sangat besar bagi jiwa kita:

“Tidak” pada keserakahan adalah “Ya” bagi kedamaian batin

“Tidak” pada kepalsuan adalah “Ya” bagi kemerdekaan sejati

 

Jangan biarkan diri kita nyaman dalam kesalehan palsu

Jangan biarkan kita puas hanya dengan tidak berbuat dosa jahat

sementara kita absen berbuat kebaikan yang nyata

 

Luka di Hati Bapa

 

O, betapa seringnya kita menjadi anak yang kedua!

Kita rajin merajai rumah doa

melantunkan pujian dengan suara bergemuruh

namun hati kita tuli terhadap jeritan keadilan dan kasih sayang

Kita mengucapkan “Ya” pada agama

tetapi hidup kita berbisik “Tidak” pada Firman-Nya

 

Kedua anak itu menyakiti Bapa

Yang satu melukai di awal, yang lain merobek di akhir

Betapa hancurnya hati Sang Bapa

ketika Ia mendapati bahwa janji manis kita hanyalah angin lalu yang menguap di terik siang!

 

Menjadi “Ya” yang Berkelanjutan

 

Mari kita belajar dari Maria, Sang Perawan

yang “Ya”-nya tidak pernah pudar oleh badai atau bayang-bayang salib

Biarlah Hati kita meleleh oleh Firman-Nya

Biarlah Firman itu tidak hanya dibaca di atas kertas

tetapi diukir di dalam daging hati kita yang lembut

 

Bukan hanya “Ya” di awal saat kita dipanggil

tetapi “Ya” yang tekun, yang bertahan melintasi sunyi

kesakitan, dan pengorbanan hingga akhir jalan

Tuhan, runtuhkanlah kesombongan kesalehan kami

 

Buka mata kami untuk melihat “Tidak” yang masih tersembunyi dalam hidup kami

Ubah ketakutan kami menjadi cinta

agar kami tidak hanya memuji Firman-Mu

tetapi menjadi hidup yang sepadan dan mengalirkan Firman itu

bagi dunia yang haus akan kebenaran

Amin

 

Di Antara Lidah yang Berjanji dan Langkah yang Berlari

 

Di dalam bait-bait kehidupan yang fana

sering kali kita berdiri di persimpangan dua kata:

sebuah “Ya” yang manis di bibir

atau sebuah “Tidak” yang pongah namun tertunduk malu pada akhirnya

 

Bapa memanggil kita ke kebun anggur-Nya

Bukan dengan bentakan, melainkan dengan bisikan kasih yang lembut:

“Anak-Ku, pergilah bekerja hari ini.”

Anak pertama berteriak, “Aku tidak mau!”

Hatinya keras, terikat ego dan rencana dunianya sendiri

 

Namun, ketika ia memandang kembali wajah Sang Bapa

ia melihat belas kasih yang tak bertepi

Ia tersungkur, menyesal, lalu melangkah ke dalam kebun

Langkahnya adalah pertobatan; penyesalannya menjadi buah ketaatan

 

Anak kedua tersenyum, mengangguk santun

“Baik, tuan, aku pergi.”

Kata-katanya indah bagai mutiara, dipuji oleh mereka yang memandang dari jauh

Namun, kakinya tak pernah beranjak

Ibadahnya hanya topeng yang megah

jiwanya mati di balik kepatuhan formal yang kosong

Jayapura, 26 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.