Jatuh Cinta pada Firman yang Menghidupkan
Maka, tataplah Firman itu hari ini!
Firman bukanlah deretan hukum yang membelenggu atau menindas
melainkan nafas kehidupan, surat cinta yang ditulis dengan darah dan rahmat
Mengapa kita kerap enggan merengkuh-Nya?
Kerana kita takut kehilangan kebebasan semu
Padahal, setiap “Tidak” yang diucapkan orang tua atau Firman Tuhan
menyimpan “Ya” yang sangat besar bagi jiwa kita:
“Tidak” pada keserakahan adalah “Ya” bagi kedamaian batin
“Tidak” pada kepalsuan adalah “Ya” bagi kemerdekaan sejati
Jangan biarkan diri kita nyaman dalam kesalehan palsu
Jangan biarkan kita puas hanya dengan tidak berbuat dosa jahat
sementara kita absen berbuat kebaikan yang nyata
Luka di Hati Bapa
O, betapa seringnya kita menjadi anak yang kedua!
Kita rajin merajai rumah doa
melantunkan pujian dengan suara bergemuruh
namun hati kita tuli terhadap jeritan keadilan dan kasih sayang
Kita mengucapkan “Ya” pada agama
tetapi hidup kita berbisik “Tidak” pada Firman-Nya
Kedua anak itu menyakiti Bapa
Yang satu melukai di awal, yang lain merobek di akhir
Betapa hancurnya hati Sang Bapa
ketika Ia mendapati bahwa janji manis kita hanyalah angin lalu yang menguap di terik siang!
Menjadi “Ya” yang Berkelanjutan
Mari kita belajar dari Maria, Sang Perawan
yang “Ya”-nya tidak pernah pudar oleh badai atau bayang-bayang salib
Biarlah Hati kita meleleh oleh Firman-Nya
Biarlah Firman itu tidak hanya dibaca di atas kertas
tetapi diukir di dalam daging hati kita yang lembut
Bukan hanya “Ya” di awal saat kita dipanggil
tetapi “Ya” yang tekun, yang bertahan melintasi sunyi
kesakitan, dan pengorbanan hingga akhir jalan
Tuhan, runtuhkanlah kesombongan kesalehan kami
Buka mata kami untuk melihat “Tidak” yang masih tersembunyi dalam hidup kami
Ubah ketakutan kami menjadi cinta
agar kami tidak hanya memuji Firman-Mu
tetapi menjadi hidup yang sepadan dan mengalirkan Firman itu
bagi dunia yang haus akan kebenaran
Amin
Di Antara Lidah yang Berjanji dan Langkah yang Berlari
Di dalam bait-bait kehidupan yang fana
sering kali kita berdiri di persimpangan dua kata:
sebuah “Ya” yang manis di bibir
atau sebuah “Tidak” yang pongah namun tertunduk malu pada akhirnya
Bapa memanggil kita ke kebun anggur-Nya
Bukan dengan bentakan, melainkan dengan bisikan kasih yang lembut:
“Anak-Ku, pergilah bekerja hari ini.”
Anak pertama berteriak, “Aku tidak mau!”
Hatinya keras, terikat ego dan rencana dunianya sendiri
Namun, ketika ia memandang kembali wajah Sang Bapa
ia melihat belas kasih yang tak bertepi
Ia tersungkur, menyesal, lalu melangkah ke dalam kebun
Langkahnya adalah pertobatan; penyesalannya menjadi buah ketaatan
Anak kedua tersenyum, mengangguk santun
“Baik, tuan, aku pergi.”
Kata-katanya indah bagai mutiara, dipuji oleh mereka yang memandang dari jauh
Namun, kakinya tak pernah beranjak
Ibadahnya hanya topeng yang megah
jiwanya mati di balik kepatuhan formal yang kosong
Jayapura, 26 September 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










