Prosa: Ketika Emas Lebih Berharga daripada Jiwa dan Hari Baru di Atas Takdir Ilahi Karya Yance Dou

Potret buram hutan Papua ketika dimasuki korporasi yang bergerak di bidang kehutanan. Sumber foto ilustrasi: mongabay.co.id, 29 Mei 2013

Tuhan Ciptakan dengan Cinta Darah, Jakarta Mengubah dengan Tinta Nafsu Kepentingan

Sungguh sebuah paradoks yang menusuk kalbu: ketika identitas dan jati diri anak-anak tanah Papua harus didefinisikan melalui lembaran kertas dan cap stempel seorang Menteri di Jakarta. Apakah kekuasaan kini telah menasbihkan dirinya sebagai Tuhan? Ataukah ambisi politik telah melampaui batas kodrat Sang Pencipta? Hanya langit yang menjadi saksi bisu, hanya bumi Papua yang merasakan perihnya, dan hanya samudra raya yang menyimpan rahasia kebenaran ini.

Di saat ribuan suku di pelosok Nusantara menikmati kepastian identitas dalam zona nyaman mereka, manusia asli Papua justru dilemparkan ke dalam jurang krisis eksistensial. Krisis mencintai, krisis menghargai, dan krisis menyelamatkan sebuah ras manusia. Ke manakah muara dari pembiaran ini? Ketika kebijakan negara dirancang tanpa rasa empati, orang Papua seolah digiring perlahan menuju kepunahan —melenyapkan ras Melanesia, menghapus suku bangsa, dan memadamkan akar ke-Papua-an dari peta peradaban.

Apakah menjadi orang Papua adalah sebuah kesalahan takdir? Apakah terlahir dengan rambut keriting dan kulit hitam merupakan dosa di mata penguasa, politisi, militer, dan para konglomerat?

Ataukah tatanan moral dunia memang telah terbalik —langit menjadi bumi, dan samudra menggantikan antariksa? Bertanyalah kepada nurani mereka yang memilih membisu di tengah penindasan.

 

Ketika Emas Lebih Berharga daripada Jiwa

Alangkah piciknya cara berpikir para pemangku kebijakan yang matanya telah dibutakan oleh kilau emas, kayu, dan kekayaan alam Papua. Mereka menyelami perut bumi Papua hingga ke lapisan terdalam untuk merampuk isinya, namun secara ajaib meragukan, mendefinisikan ulang, dan memenjarakan identitas pemilik sah tanah tersebut.

Bukan seminggu, bukan sebulan, dan bukan pula setahun —sudah lebih dari enam puluh tahun orang Papua dipaksa melebur. Namun, mengapa setelah sekian dekade, penguasa di Jakarta masih tidak pernah sungguh-sungguh mengenal siapa orang Papua? Mengapa kalian merasa berhak mendikte identitas kami? Apakah orang Papua adalah barang buatan pabrik kekuasaan Jakarta?

Ketahuilah dan ingatlah dengan saksama: orang Papua tahu betul siapa dirinya. Pertama, mereka yang lahir dari darah murni ibu dan ayah asli Papua. Berambut keriting, berkulit gelap ras Melanesia; memiliki marga, garis silsilah, bahasa ibu, wilayah adat, serta hak ulayat atas tanah dan dusun yang diwariskan leluhur.

Kedua, mereka yang terikat keasliannya melalui salah satu orang tua (ayah atau abu Asli Papua). Kelahiran mereka tetap terikat secara mutlak dalam garis marga, tanah ulayat, silsilah darah, dan bagian tak terpisahkan dari ikatan ras Melanesia.

Namun, otonomi khusus yang sejatinya dijanjikan sebagai pemulihan, justru diubah oleh Jakarta menjadi otonomi kasus. Negara melangkah terlalu jauh —mengintervensi wilayah adikodrati dan melangkahi otoritas Allah Kekal. Apakah Jakarta hendak men-Tuhankan dirinya dengan mencoba merombak sel-sel darah, warna kulit, dan takdir ciptaan Yang Maha Kuasa?

 

Jeritan dari Sumsum Tulang dan Panggilan Kesadaran

Tuhan, runtuhkanlah menara Babel kesombongan Jakarta! Hancurkanlah tahta kesewenang-wenangan yang dibangun di atas fondasi kedegilan hati, besi arogansi, dan ketamakan!

Sebab, manusia Papua —insan Melanesia berwarna tanah ini— telah tersakiti hingga ke sumsum tulang dan urat nadinya. Sedih kami bukan lagi sekadar air mata, melainkan denyut nadi yang bergetar menahan luka. Ini bukan lagi soal puluhan atau ratusan jiwa; jutaan derita dan nyawa telah melayang sia-sia di bawah bayang-bayang penguasa berhati baja dan berotak batu.

Di hadapan-Mu, wahai Sang Khalik, segalanya berada dalam genggaman tangan-Mu. Namun kami bertanya: siapakah manusia Papua ini, sehingga harus menjalani hidup dalam luka sukma yang abadi, dengan raga yang setiap hari diburu bagaikan binatang di tanahnya sendiri?

Wahai para penguasa di Republik ini, ketuklah nuranimu! Sadarilah bahwa engkau pun dilahirkan dari rahim seorang perempuan ciptaan Tuhan yang luhur. Kita sama-sama berdiri di bawah kolong langit yang satu, menjunjung bumi yang sama, dan kelak akan kembali ke tanah dengan takdir kematian yang sama.

Bebaskan otakmu dari perbudakan uang, dan bersihkan hatimu dari kerakusan. Jangan lagi beri makan tubuhmu dari hasil korupsi, tanah rampasan, dan penindasan intelektual.

Sungguh tragis hidup berdampingan dengan ketidakadilan yang dibungkus dengan topeng kesalehan dan bahasa pahlawan.

 

Menyongsong Hari Baru di Atas Takdir Ilahi

Apabila keadilan terus diabaikan, ketahuilah bahwa hukum sebab-akibat dan karma keadilan Tuhan tidak pernah tidur. Palu keadilan Sang Pencipta pada akhirnya akan mengetuk meja-meja kekuasaan yang degil.

Orang Papua berhak atas kebebasan, pemulihan, dan martabatnya. Dari tanah yang pernah dijadikan ajang penindasan, manusia Papua kini melangkah menuju masa depan baru. Langkah kaki itu tidak lagi diiringi ketakutan, melainkan diiringi gema tabuhan tifa, denting dawai ukulele, dan irama sangkakala kebebasan.

Selamat tinggal ketidakadilan! Selamat tinggal penindasan! Papua bergerak menuju kejayaannya sendiri —di bawah takdir dan perlindungan Allah Sang Pengada, Pemilik, dan Pencipta alam, manusia serta leluhur tanah Papua. Aamiin yaa rabbal ’aalamiin.

Jayapura, 25 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.