Prosa Lirik: Keluar dari Ilusi Dunia Karya Yance Dou

Berserah kepada Tuhan dalam doa. Sumber foto ilustrasi: jawaban.com, 19 September 2023

Keluar dari Ilusi Dunia

SEGALA mahkota fana adalah debu yang menyamar menjadi keabadian, dan jerih payah manusia di bawah matahari hanyalah tarian singkat menepis angin. Kita berkejaran dengan bayang-bayang, menggenggam angin yang lepas dari jemari, menghabiskan nyawa demi takhta yang kelak runtuh ditelan zaman.

Pengkhotbah menjerit dari balik sunyi sejarah: Sia-sia atas kesia-siaan! Tanpa Tuhan, tanah yang kita pijak hanyalah kuburan bagi ambisi yang mati muda, dan seluruh lelah manusia tak lebih dari buih yang pecah di hempasan gelombang.

Di tengah panggung kekuasaan yang megah namun berongga, berdiri Herodes —jiwa yang lumpuh oleh takhta dan disiksa oleh darah yang ia tumpahkan sendiri. Katanya dalam gelisah yang memakan jiwanya: “Yohanes telah kupenggal kepalanya, siapakah gerangan Dia ini?”

O, betapa malangnya hati yang tertutup oleh keangkuhan! Ia rindu melihat Cahaya, tetapi kerinduannya hanyalah ilusi abadi, sebab ia mencari Kebenaran hanya untuk memuaskan kebingungannya, bukan untuk berlutut menyerahkan diri. Semakin jauh manusia berlari dari wajah Yesus, semakin gulita matanya menembus misteri Anak Allah; Ia hanya melihat seorang manusia biasa, lalu terperangkap dalam ketakutan yang meremas dada.

Namun Kristus melangkah ke dalam dunia bukan untuk berebut mahkota dengan para penguasa debu. Ia hadir membawa pedang belas kasih —menaklukkan kesia-siaan, melucuti taring setan-setan yang mencengkeram martabat manusia, dan memulihkan jiwa-jiwa yang koyak oleh kejahatan. Ia menyerukan pertobatan yang tanpa kompromi: Merobek kebohongan yang terstruktur, meruntuhkan kecurangan yang terselubung. Sebab dari kejahatanlah lahir kecemasan akut yang membakar dada, sebuah neraka kecil yang kita ciptakan sebelum ajal tiba.

Mengapa kita terus menjarah bumi yang Tuhan titipkan sebagai rumah bersama? Nafsu memilikinya tak pernah kenyang, merampas esok demi ketakutan hari ini. Padahal tak ada yang baru di bawah matahari; apa yang ada telah lalu, dan yang akan datang pernah terjadi. Hanya Tuhan yang abadi, Sang Sumber Hidup yang mampu meremas keheningan kita dan memberinya arti.

Maka, seperti Pemazmur yang bersujud di ambang batas waktunya, biarlah ratap kita membumbung tinggi: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, ya Tuhan, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, sayangilah hamba-hamba-Mu!”

Lepaskanlah jemarimu dari pegangan fana ini. Tuhan tidak menuntut kehebatanmu untuk menjadikan dunia ini baik; Ia hanya merindukan hatimu yang rendah, belas kasihmu yang jujur, dan ketulusanmu melayani tanpa pamrih.

Tataplah Yesus, dekatilah Sabda-Nya, dan biarkan hidupmu ditarik keluar dari ilusi dunia menuju keabadian Surgawi —agar pada akhirnya, ketika napas terakhir dihembuskan, hidupmu tidak menguap menjadi kesia-siaan melainkan menjadi simfoni yang sarat makna.

Jayapura, 24 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.