KUPANG, ODIYAIWUU.com — Korporasi tambang raksasa, PT Freeport Indonesia (PTFI), Selasa (1/9) menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp 2,5 miliar untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas bersama perwakilan karyawan PTFI asal NTT membawa langsung sebagian bantuan tersebut menggunakan pesawat dengan total berat 1,5 ton.
Bantuan secara simbolis diserahkan Tony kepada Gubernur NTT Emanuel Melkiades Lena di Kantor Gubernur NTT, Jalan El Tari, Kupang, Timor, NTT, Selasa (1/9).
Bantuan selanjutnya akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kecamatan Mbeliling di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Nagekeo, Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.
“Kami datang dengan niat yang tulus untuk membawa bantuan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah. NTT merupakan tetangga dekat, kekerabatan yang mendorong kami untuk berbuat lebih banyak,” kata Tony.
Menurut Tony, PTFI bergerak sejak fase awal bencana dengan menurunkan tim tanggap darurat, menyalurkan bantuan, serta menggalang donasi dari karyawan. Donasi karyawan tersebut kemudian dilipatgandakan dua kali lipat oleh perusahaan.
“Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di NTT serta memicu semangat berbagi dari lebih banyak pihak lain,” ujar Tony.
Melalui Human Initiative (HI), PTFI menyalurkan 700 paket bantuan yang terdiri atas bedding kit, personal hygiene kit, dan shelter kit.
PTFI juga mendukung pembangunan lima hunian sementara (huntara) dan empat sekolah darurat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Gubernur Laka Lena mengapresiasi dukungan PTFI dalam penanganan dampak gempa. “Terima kasih kepada PT Freeport Indonesia. Bantuan ini bukan sekadar angka dan barang, melainkan bukti nyata gotong royong,” ujar Laka Lena.
Menurut Laka Lena, dukungan dunia usaha, lembaga, dan masyarakat luas dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Respons PTFI terhadap gempa NTT juga dilakukan melalui pengiriman tim tanggap darurat Emergency Preparedness & Response (EP&R), dokter, dan paramedis dari Timika.
Tim tersebut bergabung dengan tim ESDM Siaga Bencana untuk memberikan dukungan medis dan tanggap darurat di sejumlah wilayah terdampak di Flores, antara lain Kampung Wae Malang, Haju Wangi, Liang Dalo, Golo Wontong, dan Waso.
“Sejak pertengahan Agustus, PTFI telah mengirimkan enam personel yang terdiri atas tim rescue dan tenaga medis ke NTT. Tim tiba pada 22 Agustus dan bertugas hingga 31 Agustus,” ujar Tony.
Selama bertugas, tim medis PTFI memberikan layanan kesehatan kepada hampir 500 pasien. Seluruh kegiatan tersebut dikoordinasikan bersama Kementerian ESDM melalui posko tanggap darurat.
Selain melalui HI, PTFI menyalurkan bantuan melalui Palang Merah Indonesia (PMI). Bantuan tersebut terdiri atas 300 hygiene kit, 300 paket sembako, 300 shelter kit dan 300 bedding kit.
PTFI juga memfasilitasi pengiriman bantuan dari Dana Kemanusiaan Kompas berupa sekitar 70 boks makanan kaleng dan obat-obatan dengan total berat sekitar 1 ton.
Dukungan terhadap masyarakat terdampak gempa juga datang dari karyawan PTFI di berbagai lokasi, termasuk Tembagapura, Kuala Kencana, Nabire, Gresik, dan Jakarta melalui gerakan #PTFIPeduliNTT.
Tony mengatakan gerakan tersebut menunjukkan kepedulian keluarga besar PTFI terhadap masyarakat NTT tanpa mengenal batas wilayah.
“Dari Mimika, Nabire, Gresik hingga Jakarta, keluarga besar PTFI bersama-sama menunjukkan semangat gotong royong untuk membantu masyarakat NTT,” katanya.
Dukungan kemanusiaan PTFI untuk masyarakat terdampak bencana merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membantu penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Sebelumnya, pada Januari 2026, PTFI menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penyintas banjir dan longsor di Sumatera melalui Human Initiative dan PMI.
PTFI juga mengerahkan tim tanggap darurat untuk mendukung operasi penyelamatan korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo pada 2025, serta menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak banjir, longsor, dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. (*)










