Oleh Agustinus Gereda Tukan
Dosen dan Peneliti; Tinggal di Merauke, Papua Selatan
DI TENGAH kepungan alat berat dan hamparan hijau tebu Jagebob 8, Sabtu (29/8/2026) menjadi momen langka ketika deru mesin sejenak kalah nyaring oleh heningnya doa. Perayaan Ekaristi bersama RP Albert Muda, SVD di Taman Doa Bunda Pelindung.
Selanjutnya, acara itu dirangkai dalam dialog hangat bersama pengurus Kaum Bapa Katolik (KBK) Keuskupan Agung Merauke (didampingi RP Cayetanus Tarong, MSC), karyawan Sermayam-Jagebob 8 dan umat Paroki Erom. Ini membuktikan satu hal: iman dan dunia kerja tidak pernah berseberangan.
Taman doa, yang didirikan atas insiatif pimpinan PT Global Papua Abadi ini, bukan sekadar pemandangan estetik di area perusahaan, melainkan simbol sinergi nyata: bahwa di tanah Papua, kerja keras mencari nafkah justru menemukan makna tertingginya saat dibalut persaudaraan yang kokoh dan akar spiritual yang mendalam.
Oase Rohani di Tengah Industri
Bagi pekerja lapangan, ritme hidup di tengah perkebunan tebu sering kali berputar di antara target produksi dan kelelahan fisik. Kehadiran Taman Doa Bunda Pelindung, yang beberapa waktu lalu diberkati RP Kornelis Sogen, SVD, berperan memutus kejenuhan itu dengan menawarkan ruang hening.
Tempat ini bukan sekadar sudut hijau pelengkap lanskap industri, melainkan tempat beristirahatnya jiwa-jiwa yang lelah setelah seharian berjibaku dengan debu dan mesin. Banyak yang mengira dunia kerja dan spiritualitas adalah dua rel terpisah yang tak bisa menyatu.
Padahal, saat seorang operator traktor menyempatkan diri berdoa sejenak sebelum memulai shift pagi, atau kelompok pekerja duduk melingkar mendoakan rekannya yang sakit, pekerjaan teknis itu runtuh kesannya sebagai beban semata.
Pembinaan rohani justru memberi jiwa pada keringat yang keluar, mengubah rutinitas produksi menjadi bentuk ibadah yang nyata. Sinergi ini membuktikan bahwa dedikasi pada perusahaan dan kedalaman iman bisa saling menopang dengan sangat alami.
Ketika manajemen memberi ruang bagi pertumbuhan rohani dan karyawan merawatnya dengan rasa syukur, tempat kerja tak lagi sebatas lokasi mencari nafkah. Perkebunan tebu ini bertransformasi menjadi ladang persaudaraan, di mana kesuksesan target kerja dan ketenangan hati berjalan bergandengan tangan.
Membumikan Moto Pro Familia, Ecclesia, et Patria
Menjadi bapa pekerja di tengah kerasnya industri perkebunan sering kali menjebak. Di satu sisi ada desakan memenuhi kebutuhan dapur, di sisi lain ada gengsi dan ambisi karier yang pelan-pelan menggerogoti nurani.
Ketika sukses cuma diukur dari seberapa tebal dompet atau seberapa tinggi jabatan di perusahaan, bapa kerap kehilangan arah dan merasa berjalan sendirian di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit.
Di sinilah motto Pro Familia, Ecclesia, et Patria menemukan panggung nyatanya melalui wadah KBK. Dimulai dari Pro Familia, seorang bapa diajak sadar bahwa membawa pulang uang lembur itu penting.
Namun, memimpin doa malam bersama anak dan istri di rumah adalah investasi kekal. Sukses sejati seorang ayah bukanlah saat ia berhasil membeli segalanya, melainkan ketika ia hadir secara utuh sebagai pelindung rohani di tengah keluarganya.
Bergerak ke Pro Ecclesia, peran bapa tidak berhenti di pintu rumah. Energi dan jiwa kepemimpinan yang biasa dipakai mengendalikan tim kerja di lapangan kini dialirkan untuk melayani persekutuan.
Bapa tidak lagi canggung menjadi lektor, memimpin doa lingkungan, atau gotong royong membenahi gereja, membuktikan bahwa tulang punggung keluarga juga adalah tiang penopang hidup membiara dan bermasyarakat.
Bermuara pada Pro Patria, membumi dalam integritas kerja harian di perkebunan tebu. Bekerja jujur tanpa manipulasi, merawat alat kerja dengan bertanggung jawab, serta memelihara keharmonisan antar-karyawan-karyawati, juga dengan warga sekitar adalah cara paling elegan mencintai tanah air. Pada titik ini, motto KBK bukan lagi hafalan teologis yang kaku, melainkan kompas hidup harian bagi para bapa pekerja di tanah Papua.
Sinodalitas dan Merawat Persaudaraan dari Akar Rumput
Kehadiran pengurus KBK Keuskupan Agung Merauke di Jagebob 8 (menjangkau pekerja dari Sermayam hingga Paroki Erom) bukan sekadar kunjungan kerja seperti yang biasa dilakukan birokrat.
Ini adalah wujud nyata dari sinodalitas: Gereja yang mau melangkah, menembus jarak, dan merangkul imannya orang-orang di garis depan industri perkebunan. Ketika hierarki dan awam duduk bersama di bawah naungan pohon tebu, sekat-sekat hierarkis runtuh, menggantikannya dengan rasa saling memiliki yang hangat.
Persaudaraan ini langsung menyala karena respons akar rumput yang begitu hidup. Karyawan-karyawati dan umat tidak menempatkan diri sebagai “penonton” yang pasif, melainkan penggerak utama.
Dalam hal ini, jika semangat para bapa dan ibu pekerja rela meluangkan waktu di luar jam shift untuk latihan paduan suara menyongsong agenda keuskupan. Mereka bernyanyi bukan demi piala, melainkan demi merayakan rasa bangga sebagai bagian dari satu keluarga besar Gereja.
Sinergi inilah yang membuktikan bahwa persaudaraan sejati dibangun dari bawah, dari ketulusan hati para pekerja harian. Kunjungan ini memberi pesan kuat: di mana pun mereka ditempatkan, baik di balik meja kantor maupun di tengah luasnya ladang tebu, suara dan iman mereka didengar. Persaudaraan yang dirawat dari akar rumput ini menjadi fondasi kokoh agar api iman di tanah Papua terus menyala terang.
Pada akhirnya, Taman Doa Bunda Pelindung dan riuhnya perjumpaan di Jagebob 8 bukanlah sekadar agenda seremonial yang usai begitu foto bersama selesai. Momen berharga ini adalah pijakan awal yang memperkokoh fondasi persekutuan.
Hal ini membuktikan bahwa iman tidak pernah usai saat jam kerja dimulai, dan kerja keras tidak boleh mengikis nilai kemanusiaan. Di tengah paparan debu dan deru mesin perkebunan tebu, harapan itu kini bertumbuh nyata.
Komitmen bersama ini dipanggil untuk terus menjaga api persaudaraan tetap menyala hangat di sela-sela kepadatan jam shift, menguatkan setiap langkah para pekerja agar senantiasa setia beriman, saling menopang, serta menemukan makna suci di balik setiap tetes keringat mereka.









