KARUBAGA, ODIYAIWUU.com — Kabar duka datang dari Amerika Serikat. Evangelis Leon Dillinger dikabarkan tutup usia. Evangelis Leon Dillinger, Kamis (27/8) meninggal dunia dalam usia 95 tahun.
Kabar duka berpulangnya Evangelis Leon Dillinger, perintis GIDI dan Pendiri Sekolah Alkitab Mulia, menyebar di sejumlah jejaring jagat maya terutama WhatsApp di tanah Papua, khususnya di wilayah Papua Pegunungan.
Kabar duka tersebut sangat dirasakan jemaat denominasi Gereja-Gereja Protestan khususnya pimpinan dan jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) serta masyarakat di Lapago khususnya orang asli Papua.
Pasalnya, Evangelis Leon Dillinger adalah misionaris asal negeri Paman Sam yang mewartakan Injil sekaligus perintis berbagai karya sosial. Salah satu karya tangannya yang dirasakan pemerintah dan masyarakat tanah Papua hingga saat ini yaitu Lapangan Terbang (Lapter) Mulia.
“Turut berduka cita yang mendalam. Kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan penguatan kepada keluarga yang ditinggalkan terlebih khusus anak-anak rohani seluruh organisasi GIDI di mana pun berada. Wa wa wa,” ujar Yacob Weya melalui cuitannya di WA Group Toli Wone News di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Kamis (27/8).
Kabar duka juga disampaikan kader Gereja dan birokrat senior Remain Gurik. Remain, yang juga Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tolikara mengenang mendiang Evangelis Leon Dillinger sebagai bapak Rohani. “Turut berduka berpulangnya gembala Leon Dillinger, orangtua rohani. Selamat jalan. Para malaikat menjemputmu di Surga,” kata Remain.
Berdasarkan catatan laman resmi Gereja Injili di Indonesia, pusatgidi.org, Gereja GIDI pertama kali dirintis misionaris asing Hans Veldhuis, Fred Dawson, dan Russel Bond.
Ketiganya dari Badan Misi Unevangelized Fields Mission (UFM) atau Badan Misi Lapangan yang Belum Injili/Misi Daerah Belum Terjangkau Injil dan Asia Pacific Christian Mission (APCM).
Setelah merintis pos di Senggi, termasuk membuka lapangan terbang pertama di Senggi tahun 1951-1954, pada 20 Januari 1955 ketiga misionaris beserta tujuh orang pemuda dari Senggi terbang menggunakan pesawat amphibi Sealander dari Sentani dan tiba di Lembah Baliem, tepatnya di Hitigima.
Kemudian mereka berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah barat pegunungan Jayawijaya melalui Dusun Piramid. Dari Piramid mereka menyeberangi Sungai Baliem dan menyusuri Sungai Wodlo lalu tiba di Ilugwa.
Setelah beristirahat ketiga misionaris beserta tujuh orang pemuda dari Senggi melanjutkan perjalanan ke arah muara Sungai Ka’liga (Hablifura) lalu tiba di Danau Archbol pada 21 Februari 1955.
Di area Danau Acrhbold di sinilah pertama kali mereka mendirikan Camp Injili dan meletakkan dasar teritorial penginjilan dengan visi menyaksikan Kasih Kristus Kepada segala Suku Nieuw Guinea, didasarkan pada Kisah Para Rasul 1:8.
Pada 25 Maret 1955 pesawat jenis JZ-PTB Piper Pacer berhasil mendarat di Danau Archbold. Mereka membuka lapangan terbang di Archbold sambil mengadakan survei pengembangan pelayanan di sekitar Bokondini dan Kelila.
Nama danau Archbold diambil dari nama Richard Archbold, ahli zoologi dan dermawan yang mensponsori ekspedisi biologis untuk New Guinea di tahun 1907-1976.
Pada Maret 1955 Bert Power dan Ross Bertell tiba di Bokondini. Selain misi UFM, Gesswein dan Widbin bersama Misi Australian Baptist Missionary Society (ABMS) atau Masyarakat Misionaris Baptis Australia lainnya meninggalkan Camp Injili Archbol pada 28 April dan tiba di Bokondini pada 1 Mei 1955.
Di Bokondini mereka membuka lapangan terbang pertama pada 5 Juni 1965 dan Pilot Dave Steiger mendaratkan pesawat pertama kali di Bokondini. Sejak itulah secara resmi membuka Pos UFM dan APCM di Bokondini sebagai basis penginjilan di seluruh pegunungan tengah Papua.
“Pada 5 Juni 1957, pesawat MAF pertama kali mendarat di Swart Valley, sekarang disebut Karubaga Wilayah Toli. Lalu, pada Agustus 1958, tiga orang UFM yaitu Ralph Maynard, Bert Power dan Leon Dillinger berjalan kaki dari Karubaga menuju ke daerah Yamo membuka lapangan terbang di Mulia,” demikian catatan pusatgidi.org.
Setelah membuka pos-pos penginjilan, sebagai hasil pertama dari Badan Misi UFM dan APCM melakukan pembaptisan pertama berjumah sembilan orang di Kelila Wilayah Bogo pada 29 Juli 1962.
Inilah cikal bakal jemaat mula-mula dalam sejarah berdirinya GIDI. Kemudian, baptisan yang kedua dilakukan pada 16 september 1962 di Bokondini dan disusul baptisan ketiga di Kanggime pada 27 Januari 1963.
Sejak itu, terjadi pembaptisan diman-mana, suatu bukti Tuhan menunjukkan kasih yang besar kepada suku dan kaum bangsa Papua di wilayah besar pegunungan tengah Papua.
Inilah awal permulaan dari kongregasional, suatu pertumbuhan orang-orang percaya yang kemudian menjadi sebuah gereja lokal yang otonom, independen dan demokrasi dengan sistem pemerintahan Kongregasional-Presbiaterian. Selamat jalan, Evangelis Leon Dillinger. Damailah di sisi-Nya. (*)










