NABIRE, ODIYAIWUU.com — Sejumlah organisasi kepemudaan dan masyarakat yang terdiri dari Pemuda Flobamora Papua Tengah, Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Nabire, dan Komunitas Peduli Nabire (Kopena), Rabu-Kamis (19–20/8) menggelar aksi penggalangan dana di sejumlah titik lampu merah di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah.
Aksi sosial yang menurut rencana akan berlangsung hingga Selasa (25/8) pekan depan bertujuan menggalang dana guna membantu warga terdampak bencana gempa bumi berkekuatan magnitude 7,7 yang menerjang kabuaten-kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) pagi.
Aksi kemanusiaan tersebut dilakukan dengan turun langsung ke jalan untuk mengajak masyarakat Nabire dan warga kabupaten lainnya di wilayah Meepago (Papua Tengah) menyisihkan sebagian rezeki bagi saudara-saudari yang sedang mengalami musibah di Flores, Nusa Bunga.
Berkat kepedulian dan kemurahan hati masyarakat Nabire, aksi tersebut mendapat sambutan yang sangat baik. Selama dua hari pelaksanaan, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp 70.805.000.
Jumlah tersebut menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat Nabire terhadap para korban bencana di Flores. Para penyelenggara menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat dan donatur yang telah berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Dana yang terkumpul nantinya diharapkan dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang terdampak bencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban mereka yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Gempa bumi yang melanda NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi keprihatinan bersama. Dalam situasi bencana, solidaritas dan kepedulian masyarakat menjadi kekuatan penting bagi mereka yang terdampak. Bantuan yang diberikan bukan hanya memiliki nilai materi, tetapi juga menjadi tanda persaudaraan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi penderitaan.
Aksi yang dilakukan sejumlah kelompok di atas menjadi wujud nyata solidaritas lintas kelompok dan daerah. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk membangun kepedulian terhadap sesama serta bersama-sama meringankan beban mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Para penyelenggara berharap proses penggalangan dana hingga 25 Agustus 2026 dapat berjalan dengan baik. Mereka juga berharap seluruh bantuan yang terkumpul nantinya dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Aksi kemanusiaan ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Ketika banyak orang memberikan sedikit dari apa yang dimiliki, terkumpul kekuatan besar untuk membantu mereka yang sedang mengalami musibah.
Sekecil apa pun usaha yang dilakukan demi kebaikan bersama, kiranya Tuhan memberkati. Tuhan menjaga setiap langkah dan kasih-Nya menyertai kita semua.
Jumlah korban meninggal akibat gempa di Flores hingga Kamis (20/8) pukul 16.00 WIB bertambah menjadi 75 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ada empat korban meninggal tambahan dibandingkan data sebelumnya.
Dua korban berasal dari Kabupaten Sikka, sedangkan masing-masing satu korban tercatat di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo. Selain korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga meningkat. BNPB mencatat sebanyak 907 orang terluka, bertambah sembilan orang dari data sebelumnya 898 orang.
Seluruh tambahan korban luka tersebut berasal dari Kabupaten Ngada. Jumlah warga yang mengungsi juga melonjak seiring masih terjadinya gempa susulan di sejumlah wilayah terdampak.
Hingga Kamis (20/8) sore, BNPB mencatat sebanyak 92.735 orang telah mengungsi, meningkat 33.088 orang dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 59.647 orang.
“Kami sekali lagi menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya teruntuk keluarga, handai taulan, tetangga, dan seluruh kenalan serta seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB.
Penambahan jumlah pengungsi paling besar tercatat di Nagekeo dengan 21.883 orang, disusul Manggarai sebanyak 9.649 orang dan Manggarai Barat sebanyak 1.556 orang. BNPB terus memperbarui data korban dan pengungsi seiring penanganan dampak gempa serta kondisi di wilayah terdampak.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengapresiasi kepedulian dan keterlibatan mahasiswa serta anak muda dalam membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana di wilayah Flores.
Apresiasi tersebut disampaikan Gibran saat meninjau Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reok, Manggarai sekaligus melihat langsung kondisi dan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Saya sangat mengapresiasi kepedulian dan dedikasi teman-teman mahasiswa yang mau ikut membantu pemulihan bagi saudara-saudara kita di NTT,” ujar Gibran di Golo Cenggo, Kecamatan Reok, Manggarai, Flores, Jumat (21/8).
Sebagai bagian dari dukungan tersebut, Gibran memfasilitasi enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia untuk memberikan bantuan psikologis awal bagi anak-anak terdampak bencana.
Para mahasiswa akan berada di lokasi selama satu minggu untuk mendampingi anak-anak melalui pendekatan yang ramah anak, antara lain dengan bermain, bercerita, bernyanyi, dan permainan kelompok sederhana.
“Teman-teman mahasiswa ini akan tinggal di sini selama satu minggu dan akan membantu memberikan [bantuan psikologis awal bagi saudara-saudara kita, khususnya anak-anak. Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak selama berada di pengungsian,” kata Gibran, mantan Wali Kota Solo.
Para mahasiswa juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman mereka tanpa harus menceritakan kembali peristiwa bencana, sekaligus melakukan observasi untuk mengidentifikasi kebutuhan dukungan psikososial yang mungkin diperlukan lebih lanjut.
Para mahasiswa tersebut telah membersamai rangkaian kegiatan Wakil Presiden sejak kunjungan kerja di Maumere, kota Kabupaten Sikka, Kamis (20/8), kemudian melanjutkan pendampingan pada agenda kunjungan di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur. Keterlibatan ini menjadi bagian dari dukungan anak muda dalam membantu masyarakat melalui keahlian dan kapasitas yang mereka miliki.
Gibran mendorong agar partisipasi anak muda dalam penanganan bencana terus diperkuat dan dilakukan secara terkoordinasi bersama pemerintah daerah serta pihak terkait. Menurutnya, semangat gotong royong dari berbagai elemen masyarakat diperlukan untuk mendukung penanganan darurat sekaligus mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak.
Khusus kepada para mahasiswa, Gibran berharap keikutsertaan mereka dapat menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga keilmuan yang telah teman-teman dapatkan di kampus, bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat NTT,” ujar Gibran. (Agnes Witin/ keuskupantimika.org dan laporan kontributor dari Maumere, Flores)










