BORONG, ODIYAIWUU.com — Ribuan warga di dua desa di Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur hingga Jumat (21/8) belum menerima bantuan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Sejak bencana gempa bumi berkekuatan magnitude 7,7 menerjang Flores, memasuki hari keenam ribuan warga terdampak di Desa Nampar Tabang dan Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur bertahan dengan makanan seadanya.
Warga menangis karena dua desa tersebut terisolasi dan belum ada bantuan pemerintah maupun pihak-pihak lain sekadar bertahan di bawah tenda darurat. Warga juga menangis histeris memohon pertolongan, menyuarakan keputusasaan mereka karena merasa diabaikan pemerintah yang terkesan hanya fokus pada wilayah perkotaan dan pesisir.
“Hingga saat ini sebanyak 459 kepala keluarga (KK) di desa kami belum menerima uluran tangan dari pemerintah maupun pihak-pihak yang berkenendak baik membantu warga kami,” ujar Stefanus Tarsi Amat, warga Desa Nampar Tabang di Nampar Tanang, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Jumat (21/8).
Menurut Amat, sejak gempa melanda Pulau Flores, Sabtu (15/8) pagi, hingga masuk hari keenam warga di desanya belum tersentuh bantuan yang disalurkan oleh pemerintah maupun pihak lain.
Amat mengaku, kondisi posko Santat mengkhawatirkan karena di dalam posko ada juga bayi dan warga lanjut usia (lansia) yang tidur berdesakan di tenda yang sudah sobek milik warga. Hewan piaraan juga menjadi kurus karena tidak bisa diberi sisa makanan dari warga terdampak.
Saat ini, ujarnya, di Nampar Tabang terdapat 23 posko pengungsian darurat yang tersebar di enam kampung. Namun, nyaris semua warga terdampak dalam kondisi sangat mengenaskan.
Mereka bertahan tanpa terpal memadai dari pihak berwenang sehingga warga terpaksa mendirikan tenda seadanya dengan terpal swadaya hasil sumbangan dari rumah ke rumah.
“Banyak terpal yang kami gunakan sudah robek-robek, tapi yang penting ada tempat berteduh untuk bayi, anak-anak, dan lansia,” kata Amat lebih lanjut.
Sementara bagi warga yang masih muda, terpaksa tidur di luar tenda tanpa atap, bahkan banyak yang tidak bisa tidur sama sekali.
Kedua desa tersebut mengalami kerusakan infrastruktur yang amat parah. Sebagian besar rumah warga hancur berantakan dan tidak bisa lagi dihuni. Kehilangan tempat tinggal membuat warga hanya bisa pasrah dan menangis setiap hari menghadapi musibah ini.
“Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar gempa ini segera berakhir. Rumah kami yang menjadi tempat berteduh sudah hancur. Kami bingung nanti mau tinggal di mana,” kata Amat sedih.
Menurutnya, masalah tak berhenti pada tempat tinggal. Warga kini menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Sejak hari pertama, warga secara sukarela mengumpulkan sisa beras yang mereka miliki untuk dimasak bersama di dapur umum. Namun, memasuki hari keenam, stok beras warga dipastikan telah habis.
Warga tidak berani keluar menuju kota terdekat, seperti Reo, untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Selain karena trauma dan ketakutan akan gempa susulan berkekuatan besar yang masih terus terjadi, aktivitas perekonomian dan pertokoan di Reo saat ini melumpuh total dan tutup.
“Beberapa hari terakhir memang ada sedikit bantuan dari relawan, partai, atau swadaya yang dibagikan per karung untuk tiap kampung. Namun bantuan itu habis dimakan dalam sehari, itu pun tidak semua warga kebagian,” kata Amat mengeluhkan situasi logistik yang kian kritis.
Kondisi serupa dialami oleh Desa Liang Deruk dan Desa Golomunga. Di Liang Deruk, gempa bahkan telah memakan korban jiwa. Peristiwa tragis seorang ibu dan anak yang meninggal dunia tertimpa reruntuhan rumah sempat viral di media sosial dan menyita perhatian publik.
Namun mirisnya, lokasi kejadian tersebut justru dilaporkan belum tersentuh bantuan secara memadai. Warga menyayangkan distribusi bantuan yang dinilai tidak merata dan hanya berpusat di daerah perkotaan serta jalur pesisir pantai yang mudah dijangkau.
“Bapak Presiden, tolong liat kami! Pemerintah tolong kami! Jangan hanya bagi bantuan di wilayah pesisir atau kota saja. Liat juga kami di gunung dan pelosok desa. Kami bisa mati kelapran. Mori (Tuhan)….. tolong…,” kata Amat sambil menangis.
Warga juga mendesak pemerintah agar segera menurunkan tim tanggap bencana ke lokasi mereka. Khawatirnya, banyak warga terdampak bisa terancam mati kelaparan.
“Bapak Presiden dan Bapak Menteri dorang, tolong lihat kami. Jangan tidur melihat penderitaan rakyatmu. Kalau mau beri bantuan, jangan lupakan kami yang berada di pelosok. Kami sedih, kami lapar, dan kami sudah tidak berdaya. Kami hanya berharap jangan ada lagi korban jiwa dalam musibah ini,” kata Amat. (*)










