KENYAM, ODIYAIWUU.com — Innah Gwijangge S.ST, M.Keb, MH.Kes menuding Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto menjiplak (plagiasi) Program Ambulans Udara, sebuah inovasi yang dirintis dan dikerjakan saat Innah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan tahun 2019.
Menurut Innah, Ambulans Udara dan Honai Malaria merupakan hasil inovasinya berpijak dari pertimbangan kala itu bahwa secara geografis Nduga berada di dataran tinggi pegunungan Papua.
Saat menjabat Kepala Dinas Kesehatan Nduga tahun 2019, ujar Innah, kabupaten itu mengoleksi 32 distrik dan 248 kampung yang terpaut jauh satu dengan yang lain dan moda transportasi hanya melalui udara.
“Nduga saat itu memiliki lapangan terbang pesawat kecil yang berada di 46 kampung. Selebinya tidak ada lapangan terbang sehingga muncul gagasan saya sebagai kepala dinas untuk membuat Puskesmas Udara,” kata Innah di Kenyam, kota Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Sabtu (15/8).
Innah menambahkan, setelah kontrak dengan Puskesmas Udara pihak dinas melayani masharakat selama enam bulan guna menyelamatkan ibu hamil yang hendak melahirkan. Hasilnya, Kabupaten Nduga menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 18 menjadi 34.
“Inovasi Ambulans Udara dan Honai Malaria kami lahirkan guna menyelamatkan ibu-ibu hamil yang melahikan. Saat itu, adik-adik bidan sempat pula menyelamatkan seorang ibu hamil yang meahirkan anak kembar,” kata Innah lebih lanjut,
Innah yang kini menjabat Kepala Dinas Perpustakaan Nduga, mengatakan, selama melayani warga masyarakat di bidang kesehatan, di dalam helikopter (Ambulance Udara) disediakan pula pelayanan darurat, emergency care.
Ia juga menerjunkan semua tenaga kesehatan di beberapa kampung guna melakukan pelayanan selama lima hari sebelum dijemput ambulans udara (helikopter). Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat merasakan pelayanan kesehatan yang merupakan kebutuhan vital di wilayah Nduga yang bertopografi gunung dan lembah menantang.
Innah mengaku, ivonasi Ambulans Udara dan Honai Malaria di Nduga saat itu lahir setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PIM II di Jayapura, tahun 2019. Sebagai peserta Diklat PIM II ia meraih penghargaan juara IV dan memperoleh bantuan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Rp 400 juta ditambah sehingga dinas memulai melayani ibu-ibu hamil selama enam bulan.
Presiden mengatakan akan menyiapkan terobosan di sektor pelayanan kesehatan masyarakat dengan menginisiasi pengadaan armada ambulans udara. Inisiatif strategis ini disampaikan Presiden saat membacakan Pidato Kenegaraan RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8).
“Rakyat tidak boleh menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Negara harus hadir sedekat mungkin dengan tempat rakyat hidup,” ujar Prabowo.
Menurut Kepala Negara, guna mengatasi hambatan geografis di wilayah terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T), pemerintah akan menghadirkan layanan ambulans udara yang mengoperasikan helikopter serta pesawat berukuran kecil.
Spesifikasi pesawat kecil yang disiapkan, ujar Presiden Prabowo harus mampu beroperasi secara fleksibel di medan ekstrem yang belum memiliki landasan pacu komersial.
“Kita akan membuat ambulans udara dengan helikopter, dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” katanya. (*)










