Ratusan Peserta dari Berbagai Belahan Dunia Diskusi Terkait Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo

Suasana diskusi daring bertajuk Magnifica Humanitas: Menemukan Kembali Keindahan Kemanusiaan Kita Bersama di Roma, Italia, Sabtu (1/8) malam. Kurang lebih tujuh ratus peserta ambil bagian dalam diskusi tersebut. Foto: Istimewa

ROMA, ODIYAIWUU.com — Kurang lebih tujuh ratus peserta, Sabtu (1/8) waktu Roma ambil bagian dalam diskusi daring bertajuk Magnifica Humanitas: Menemukan Kembali Keindahan Kemanusiaan Kita Bersama di Roma, Italia. Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung) merupakan ensiklik pertama yang diterbitkan Paus Leo XIV pada Senin, 25 Mei 2026

Kurang lebih 700 peserta dari berbagai penjuru dunia dari beragam usia dan latar belakang hadir dalam diskusi. Mereka hadir dalam diskusi disertai doa, refleksi, dan dialog.

Diskusi daring tersebut berfokus pada sebuah pertanyaan yang relevan dan menggugah yakni bagaimana manusia dapat tetap menjadi manusia seutuhnya di tengah dunia yang kian dibentuk oleh teknologi, isolasi, polarisasi, dan perubahan sosial yang cepat.

Acara dimulai dengan doa yang dipimpin oleh Sr Ana Eriselda Antonio Giron, OP. Dalam doa itu, Sr Ana mengajak para peserta untuk mengikuti pertemuan dengan sikap terbuka dan penuh rasa syukur.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Prioress Lokal Komunitas Malibay Sr Ruby Clare Jose, OP. Kemudian Sr Gina Lontoc, OP, Ph.D selaku moderator memaparkan gambaran umum mengenai rangkaian acara serta alur pertemuan diskusi daring tersebut.

Koordinator Umum Komunikasi untuk Generalat Serikat Sabda Allah (SVD) di Roma Pastor Kasmir Nema, SVD, MTS, MA, Ph.D tampil dalam sesi utama mengangkat topik Memahami Magnifica Humanitas di Dunia Kontemporer Kita. Pastor Kasmir memiliki latar belakang studi di bidang teologi, komunikasi pastoral, komunikasi pembangunan, jurnalisme, dan karya misi.

“Saya mengajak para peserta untuk merenungkan bagaimana teknologi mengubah cara setiap orang dalam berkomunikasi, berinteraksi satu sama lain, dan memahami dirinya,” ujar Pastor Kasmir, misionaris SVD asal Indonesia kelahiran Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pastor Kasmir menambahkan, teknologi telah mempermudah banyak hal dan memungkinkan orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk saling terhubung. Namun, teknologi juga dapat memicu rasa kesepian, jarak, dan perpecahan jika tidak dilandasi oleh tanggung jawab etis serta kepedulian terhadap kesejahteraan bersama.

“Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan teknologi sarana melayani manusia dan membantu mereka berkembang secara utuh, alih-alih membiarkannya malah melemahkan hubungan atau merendahkan martabat manusia,” kata Pastor Kasmir lebih lanjut.

Sedangkan Sr Deepa Moonjely, OP, misionaris yang saat ini berkarya dalam misi Kongregasi di Indonesia merefleksikan martabat manusia, persekutuan, dan kehadiran yang penuh belas kasih dari sudut pandang misi dan pelayanan.

“Pembinaan diri yang sejati senantiasa berakar pada relasi. Teknologi mungkin dapat mendukung komunikasi, namun tidak akan pernah bisa menggantikan kebijaksanaan manusia, belas kasih, kemampuan mendengarkan, dan pendampingan yang tulus,” kata Sr Deepa.

Koordinator Urusan Keagamaan di University of Perpetual Help Argie Ferrer, LPT, MBA dalam kesempatan tersebut berbicara terkait pentingnya pendidikan, tanggung jawab etis, autentisitas, dan kesejahteraan bersama.

“Pendidikan seharusnya tidak sekadar mempersiapkan seseorang untuk dunia kerja atau keberhasilan akademis. Pendidikan harus membentuk pribadi yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab, menjalin hubungan dengan sesama penuh belas kasih serta berkontribusi dalam komunitas yang menghargai setiap individu,” ujar Argie.

Presiden Pendiri Rotaract Club of San Juan Adonis Evan Basa, Jr dalam kesempatan tersebut menyoroti peran generasi muda dalam kepemimpinan, pelayanan, dan keterlibatan masyarakat. Adonis juga melontarkan tantangan untuk tetap menjaga sisi kemanusiaan di tengah isolasi, polarisasi, dan berbagai tekanan zaman modern lainnya.

“Saya mendorong para peserta untuk memanfaatkan teknologi dengan cara-cara yang membangun inklusi, memupuk keadilan dan kesetaraan, serta membantu sesama untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya,” kata Adonis.

Forum terbuka tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan seputar martabat manusia, komunikasi, misi serta penggunaan teknologi secara bertanggungjawab.

Para peserta juga diajak untuk membuat komitmen pribadi yang sederhana dengan menjawab pertanyaan, apa salah satu cara yang bisa di lakukan untuk mewujudkan Magnifica Humanitas pekan ini.

Kegiatan ini mendorong peserta untuk melangkah dari sekadar perenungan menuju tindakan nyata melalui pilihan-pilihan sederhana. Misalnya mendengarkan dengan lebih sabar atau bertutur kata dengan penuh kasih.

Selain itu merangkul mereka yang merasa kesepian, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab serta memperlakukan setiap orang dengan penuh rasa hormat.

Anggota Dewan Umum Kongregasi Suster Dominikan Sr Anula Irvin Suguna, OP, Ph.D di akhir diskusi merangkum aneka gagasan utama yang muncul sepanjang diskusi. Biarawati yang kini berkarya di Roma mengingatkan para peserta bahwa pesan Magnifica Humanitas tidak boleh berhenti pada tataran diskusi semata.

“Pesan Magnifica Humanitas harus nyata dalam cara kita menjalani hidup, melayani, berkomunikasi, dan menjalin relasi dengan sesama. Setiap orang ditantang untuk lebih sadar memahami cara penggunaan teknologi serta memastikan bahwa teknologi tersebut mempererat, bukan justru melemahkan hubungan antarmanusia,” kata Sr Anula.

Diskusi daring tersebut diakhiri doa bagi Kemanusiaan yang dibacakan bersama para peserta. Doa tersebut merangkum berbagai harapan, keprihatinan, dan komitmen yang telah disampaikan sepanjang acara, serta menyerahkan segala kebutuhan dunia ke dalam penyelenggaraan Tuhan.

Penutup yang sederhana namun bermakna ini mengingatkan semua orang bahwa panggilan untuk menjunjung tinggi martabat manusia senantiasa berlanjut dalam cara kita berbicara, mendengarkan, melayani, dan saling peduli satu sama lain.

Pertemuan daring ini merupakan inisiatif dari Kongregasi Suster-Suster Dominikan Karitas dari Persembahan Santa Perawan Maria di Filipina yang mencerminkan komitmen kongregasi untuk menjunjung tinggi martabat manusia, dialog, dan pelayanan penuh kasih di dunia saat ini. (*)