“….Dua jalan simpang di tengah belantara, dan aku—
Kupilih jalan yang lebih sedikit dilalui orang,
Dan pilihan itulah yang mengubah seluruh hidupku….”
—Robert Frost
SETIAP sore, ketika matahari mulai turun di ufuk barat dan udara Lembata, perlahan kehilangan sengatnya, seorang lelaki berusia lebih dari enam puluh tahun mulai memanggul cangkul.
Di hadapannya terbentang kebun seluas satu setengah hektare yang dipenuhi pohon mangga, kelengkeng, sawo, pisang, rumput odot, kandang ternak, kolam ikan, dan rumah-rumah kecil tempat pupuk organik diproduksi.
Dari kejauhan, kebun itu tampak seperti oasis hijau yang tumbuh menantang bentang alam berbatu dan kering di pinggiran Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa hampir seluruh kehidupan di kebun itu bergantung pada tenaga satu orang: Joakim Deke Kokomaking, M.Si. Pekerjaannya baru berakhir menjelang pukul empat dini hari.
Ketika sebagian besar warga baru terlelap dalam tidur yang paling nyenyak, ia menutup hari dengan membersihkan peralatan, memeriksa aliran air, memastikan tanaman memperoleh cukup kelembapan, lalu kembali ke pondok sederhana di tengah kebun.
Setelah mengurus listrik, pompa air, dan hewan-hewan peliharaan yang masih tersisa, ia baru beristirahat sekitar pukul tujuh pagi. Siang hari yang terik bukan lagi waktu bekerja baginya, melainkan waktu tidur.
Begitulah ritme hidupnya selama bertahun-tahun: enam belas jam bekerja setiap hari, tujuh hari dalam seminggu, hampir tanpa mengenal hari libur. Bagi banyak orang, pola hidup seperti itu tampak seperti hukuman.
Bagi Joakim, itulah harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih mengabdikan hidupnya kepada sebuah cita-cita.
Dosen dan Mimpi Menjadi Petani
Sulit membayangkan bahwa lelaki yang kini lebih akrab dengan lumpur, kompos, dan pohon-pohon itu pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya di ruang-ruang kuliah berpendingin udara.
Selama puluhan tahun ia dikenal sebagai dosen bahasa Inggris. Ia meniti karier akademik dari Akademi Bahasa Asing Pertiwi hingga menjadi dosen di President University, Jababeka Education Park, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kota Jababeka, Cikarang Baru, Bekasi, Jawa Barat.
Kehidupannya mapan. Masa depannya terang. Dunia akademik memberinya kehormatan, kenyamanan, dan jaringan profesional yang luas.
Ketika sebagian besar koleganya mulai menghitung tahun-tahun menuju masa pensiun yang tenang, Joakim justru mengambil keputusan yang mengejutkan: ia mengundurkan diri lebih awal, meninggalkan Jakarta, lalu pulang ke kampung halamannya di Desa Muruona, Pulau Lembata.
Banyak orang menganggap keputusan itu sebagai kemunduran. Mengapa meninggalkan pekerjaan bergengsi untuk berkubang di tanah tandus? Mengapa memilih hidup yang jauh lebih berat ketika usia tidak lagi muda?
Bukankah lebih masuk akal menikmati hari tua bersama keluarga daripada menghabiskan tabungan untuk membuka kebun di daerah yang bahkan air pun sulit diperoleh?
Joakim hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Baginya, persoalannya bukan soal meninggalkan Jakarta. Persoalannya adalah panggilan untuk pulang.
Di Muruona terbentang sebidang tanah warisan leluhur yang selama bertahun-tahun terbengkalai. Bersama saudara-saudaranya yang juga hidup di luar Lembata, ia berkali-kali bertanya kepada dirinya sendiri: apakah tanah yang diwariskan oleh para leluhur itu akan dibiarkan mati?
Pertanyaan sederhana itulah yang akhirnya mengubah seluruh arah hidupnya. Seperti tokoh dalam puisi Robert Frost, ia memilih jalan yang tidak banyak dipilih orang lain.
Melawan Pertanian Unorganik
Perjalanan itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum ia benar-benar pensiun. Pada April 2011, ketika masih aktif mengajar di President University, Joakim diam-diam mulai membuka hutan kecil di atas tanah warisan keluarganya.
Bersama dua orang pekerja ia menebang semak, membersihkan batu-batu, mencetak batu bata, membangun kandang sapi, menggali kolam ikan, dan mulai menanam sayur-sayuran. Hampir setiap masa cuti dihabiskannya di Lembata.
Ia bolak-balik antara ruang kuliah di Cikarang dan kebun yang baru lahir di Muruona. Di Jakarta ia berbicara tentang pendidikan; di Lembata ia belajar kembali membaca bahasa tanah, air, dan musim. Perlahan-lahan lahirlah sebuah gagasan yang kelak menjadi pusat seluruh hidupnya: Nugu Terpadu (NT).
Joakim tidak pernah membayangkan Nugu Terpadu sebagai sekadar kebun. Ia menyebutnya sebagai sebuah meeting point, titik temu tempat pemerintah, Gereja, petani, akademisi, dan masyarakat belajar bersama membangun sistem pertanian organik terpadu.
Di sana peternakan, perkebunan, perikanan air tawar, produksi pupuk organik, dan energi biogas tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari satu ekosistem yang saling menghidupi.
Baginya, alam bekerja melalui keterhubungan. Manusia hanya perlu belajar mengikuti logika alam itu. Di balik gagasan tersebut tersembunyi kegelisahan yang jauh lebih besar.
Selama bertahun-tahun ia menyaksikan tanah-tanah pertanian di Lembata semakin bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.
Produktivitas mungkin meningkat dalam jangka pendek, tetapi tanah perlahan kehilangan kesuburannya, sementara manusia tanpa sadar mengonsumsi residu yang terus menumpuk dalam tubuh. Dengan nada yang tenang, tetapi penuh keyakinan,
Joakim menyebut pertanian anorganik sebagai “the silent killer” —pembunuh yang bekerja tanpa suara. Karena itulah seluruh hidupnya setelah pensiun diabdikan untuk memperlihatkan bahwa bertani secara organik bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa depan.
Catatan Prof Dr Yoseph Yapi Taum, M.Hum
dari Muruona, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur










