DAERAH  

Konflik Dua Kelompok Warga di Pulau Romantis Memanas, Satu Tewas dan Dua Luka Tembak

Kondisi bentrok antara massa dari Desa Narasaosina dan Waiburak di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7). Sumber foto: afbtvkupang.com

WAIWERANG, ODIYAIWUU.com — Konflik antarwarga di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali pecah pada Sabtu (18/7) pagi.

Bentrokan melibatkan dua kelompok massa dari warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak di Adonara, nusa mungil berjuluk Pulau Romantis, berujung satu orang tewas dan dua lainnya mengalami luka tembak.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 06.00 WITA itu memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Suara tembakan terdengar sejak pagi, sehingga sebagian warga terpaksa mengungsi ke desa-desa tetangga untuk menghindari meluasnya konflik.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah daerah bersama aparat keamanan melakukan upaya mediasi dan perdamaian terhadap kedua kelompok yang bertikai.

Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ile Boleng Stefanus Ola Bura membenarkan adanya tiga korban yang dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

“Ada tiga pasien yang masuk. Satu meninggal, dua lainnya dirujuk, satu ke RSUD Lewoleba, Kabupaten Lembata dan satu lagi ke RSUD Larantuka, Flores Timur,” ujar Stefanus mengutip afbtvkupang.com di Waiwerang, Adonara, Flores Timur, Sabtu (18/7).

Korban meninggal dunia adalah Nayamudin Iskandar (21), warga Dusun Bele. Ia tewas akibat luka tembak yang menembus bagian jantung. Sementara dua korban luka serius yakni Purnama Bl (19) yang mengalami luka tembak di dada bagian atas dan dirujuk ke RSUD Lewoleba serta Siti Saleha (63) yang mengalami luka tembak pada kedua paha belakang dan dirujuk ke RSUD Larantuka.

Ketiga korban sempat mendapatkan penanganan medis awal di Puskesmas Ile Boleng sebelum dirujuk ke rumah sakit karena kondisi mereka memerlukan perawatan lebih lanjut. Stefanus menjelaskan, luka yang dialami para korban diduga berasal dari tembakan senjata api rakitan yang digunakan dalam bentrokan tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi mengenai korban dari pihak Desa Narasaosina. Situasi mencekam membuat sejumlah warga memilih meninggalkan rumah mereka untuk sementara waktu.

Seorang warga Waiburak yang enggan disebutkan namanya mengaku suara tembakan dan teriakan sudah terdengar sejak pagi. “Kami takut bentrokan makin besar. Anak-anak langsung kami bawa keluar kampung,” ujar warga itu.

Bentrokan kali ini menjadi babak baru dari konflik yang kembali mencuat antara warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur bersama unsur TNI-Polri telah berupaya menyelesaikan pertikaian melalui mediasi dan proses perdamaian.

Namun, konflik kembali pecah pada Sabtu pagi dan menimbulkan korban jiwa. Aparat keamanan masih disiagakan di lokasi untuk mengendalikan situasi dan mencegah bentrokan susulan. Penyelidikan terkait penyebab pasti bentrokan dan penggunaan senjata api rakitan terus dilakukan oleh pihak kepolisian.

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan mengimbau seluruh masyarakat untuk menahan diri, tidak mudah terprovokasi serta menyerahkan penyelesaian konflik kepada mekanisme hukum dan proses perdamaian yang sedang diupayakan. (*)