JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Pengurus Pusat Pemuda Katolik dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengecam keras serangkaian aksi kekerasan yang berujung menelan korban jiwa di tanah Papua.
Pucuk pimpinan kedua organisasi kemasyarakat pemuda (OKP) itu juga mendesak pemerintah segera melakukan investigasi independen atas pembunuhan warga sipil sekaligus mendorong penyelesaian konflik melalui dialog damai.
Rangkaian aksi kekerasan yang terjadi di bumi Cenderawasih seperti pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY, penembakan pilot Nicholas F Goselin, tewasnya Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau beserta bayinya, anak muda Okto Tigau hingga korban dari kalangan aparat keamanan.
Mulai dari pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY, penembakan pilot Nicholas F. Goselin, tewasnya Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau beserta bayinya, anak muda Okto Tigau, hingga korban dari kalangan aparat keamanan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma menegaskan, kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami berduka bersama Gereja Katolik di tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil,” ujar Gusma dalam keterangan pers bersama yang diterima di Jakarta, Kamis (9/7).
Menurut Gusma, pembakaran pesawat dan pembunuhan terhadap pilotnya bukan hanya menyerang aset gereja, tetapi juga melukai harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada pelayanan kemanusiaan di tanah Papua.
Sementara itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat menegaskan, tidak ada pembenaran moral bagi tindakan kekerasan yang merenggut nyawa manusia.
“Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi dan bukan siklus konflik yang terus memakan korban, baik warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan maupun aparat negara,” kata Sinurat.
Di sisi lain, Ketua Gugus Tugas Papua Pengurus Pusat Pemuda Katolik sekaligus putra asli tanah Papua kelahiran Pegunungan Bintang Melkior Sitokdana meminta pemerintah memperkuat pelayanan kemanusiaan di Papua.
Menurut Sitokdana, langkah tersebut ditempuh dengan memberdayakan sumber daya manusia lokal, termasuk memperbanyak putra-putri asli Papua yang berprofesi sebagai pilot, tenaga kesehatan, guru, dan pelayan publik di wilayah terpencil.
“Langkah tersebut tidak hanya memperluas kesempatan bagi masyarakat lokal tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat serta menjaga keberlangsungan pelayanan dasar di daerah konflik,” kata Sitokdana, akademisi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah.
Pemuda Katolik dan GAMKI juga menilai seruan para Uskup Regio Papua serta Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia menjadi pengingat bahwa setiap korban kekerasan, tanpa memandang latar belakangnya, merupakan tragedi kemanusiaan yang melukai martabat bersama.
Pihak Pengurus Pusat Pemuda Katolik maupun GAMKI mendesak seluruh pihak menghentikan segala bentuk kekerasan, melindungi pelayanan kemanusiaan dan keagamaan. Kemudian, mengutamakan keselamatan masyarakat, khususnya ribuan warga sipil yang mengungsi.
Selain itu, mereka juga meminta pemerintah membentuk investigasi independen terhadap pembunuhan warga sipil yang terjadi belakangan ini. Berikut membuka ruang dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sipil.
“Papua membutuhkan keadilan dan perdamaian, bukan kekerasan yang terus berulang,” kata Sinurat. (*)










