Oleh Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA
Putra Guru dan Penginjil di Tolikara, Papua Pegunungan
LEMBAH Toli, yang dalam sejarah penginjilan tempo doeloe dikenal sebagai Swart Valley, Lembah Biru merupakan salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah penginjilan di Pegunungan Tengah Papua.
Wilayah ini bukan sekadar dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budaya masyarakatnya, tetapi juga karena menjadi tanah pelayanan para perintis Injil yang datang dari bangsa dan negara asing demi membawa kabar keselamatan kepada masyarakat pedalaman Papua.
Di lembah inilah jejak pengabdian para misionaris seperti Dr John ‘Tolibaga’ Decker, Pendeta Dave ‘Bapa Kondabaga’ Martin, dan Frank ‘Genanebaga’ Clarke tertanam kuat dalam memori kolektif gereja Papua.
Mereka bukan sekadar tokoh sekaligus perintis agama asing yang pernah datang ke Papua, melainkan bagian dari sejarah hidup masyarakat Pegunungan Tengah yang meninggalkan warisan rohani, sosial, pendidikan, dan kemanusiaan yang terus dikenang hingga hari ini.
Pada pertengahan abad ke-20, wilayah Pegunungan Tengah Papua masih berada dalam kondisi geografis yang sangat terisolir. Jalur transportasi nyaris tidak tersedia, akses pendidikan terbatas, pelayanan kesehatan nyaris tidak ada, dan komunikasi dengan dunia luar masih sangat minim.
Namun, justru dalam keterbatasan itulah para misionaris asing datang. Mereka meninggalkan kenyamanan hidup di negara asalnya demi hidup bersama masyarakat Papua di lembah-lembah pegunungan yang kala itu dianggap sulit dijangkau.
Kehadiran mereka bukan semata-mata untuk memperkenalkan agama, tetapi untuk menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang hidup dalam keterisolasian.
Di Lembah Toli, Swart Valley Injil hadir bersamaan dengan pelayanan kesehatan, pendidikan dasar, pembinaan sosial, pembangunan lapangan terbang perintis, hingga pembentukan komunitas gereja lokal. Karena itu, sejarah penginjilan di Papua tidak dapat dipisahkan dari sejarah perubahan sosial masyarakat pedalaman Papua sendiri.
Pelayan Injil dan Pembangun Peradaban
Nama John Decker atau dalam sapaan lokal dikenal sebagai Tolibaga. Ia dikenang sebagai salah seorang tokoh penting dalam sejarah pelayanan di wilayah Tolibaga, Kabupaten Tolikara.
Tolibaga dikenal bukan hanya sebagai seorang penginjil, tetapi juga sebagai teolog dan tenaga pelayanan kesehatan yang hidup bersama masyarakat Papua. Dalam berbagai kesaksian jemaat, Tolibaga dikenang sebagai sosok sederhana yang memahami kehidupan rakyat pedalaman dan mengabdikan dirinya demi kemajuan masyarakat.
Pelayanan yang Tolibaga lakukan bersifat holistik. Ia tidak hanya memberitakan Injil di gereja, tetapi juga membantu masyarakat melalui pelayanan kesehatan dasar, pendidikan baca tulis, pembinaan jemaat, pembangunan komunikasi antarwilayah serta pembentukan kader-kader lokal Papua.
Di tengah keterbatasan zaman itu, pelayanan seperti ini menjadi sangat berarti bagi masyarakat Papua. Salah satu pemikiran yang terus dikenang dari Tolibaga adalah pandangannya mengenai ibadah sejati. Ia menekankan bahwa ibadah bukan sekadar ritual doa dan nyanyian, melainkan penyerahan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.
Pemikiran tersebut membentuk spiritualitas jemaat Papua bahwa kekristenan harus diwujudkan melalui kerja yang jujur, pelayanan yang tulus, kasih terhadap sesama, pengorbanan, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, dalam memori gereja Papua Tolibaga dikenang bukan hanya sebagai misionaris, tetapi sebagai pembuka jalan perubahan hidup masyarakat pedalaman.
Tolibaga dikenang melalui pelayanan kesehatan dan pembinaan rohani wilayah Toli. Sedangkan Bapa Kondabaga seorang ayah rohani yang hidup bersama masyarakat Pegunungan Papua selama puluhan tahun.
Genanebaga berasal dari Kanada dan datang ke Papua sebagai bagian dari gelombang misionaris asing yang terpanggil untuk melayani masyarakat pedalaman.
Bersama istrinya, Margy Martin, Genanebaga menjalani kehidupan sederhana di tengah masyarakat Tolikara. Masyarakat kemudian memberikan gelar penghormatan Bapa Kondabaga sebagai bentuk kasih dan penghargaan atas pengorbanan hidupnya.
Pelayanan Genanebaga tidak hanya berfokus pada penginjilan, tetapi juga menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat pendidikan dasar, pelayanan kesehatan, pembinaan gereja, penguatan kehidupan sosial, dan pembentukan generasi pelayan lokal Papua.
Pendekatan pelayanan seperti inilah yang membuat Injil diterima bukan sebagai agama asing, tetapi sebagai kekuatan yang membawa damai dan perubahan hidup. Nama Kondabaga kini telah menjadi bagian dari identitas spiritual masyarakat Tolikara.
Bahkan nama tersebut diabadikan dalam Gereja GIDI Jemaat Kondabaga serta kawasan pelayanan di Distrik Konda/Kondaga. Bagi masyarakat Pegunungan Papua, Kondabaga bukan sekadar nama tempat atau nama seorang misionaris, tetapi simbol kasih, pengabdian, dan perjalanan panjang Injil di tanah Papua.
Sahabat Masyarakat Lani
Frank Clarke, yang dikenal masyarakat suku Lani dengan nama Genanebaga merupakan salah satu perintis Injil di wilayah Mamit dan Kembu, Tolikara. Nama lokal yang diberikan kepadanya memiliki makna mendalam dalam budaya Papua.
Dalam tradisi masyarakat pegunungan, pemberian nama adat kepada seseorang menunjukkan bahwa ia telah diterima sebagai bagian dari keluarga dan komunitas masyarakat.
Genanebaga hidup bersama masyarakat dalam situasi yang penuh keterbatasan. Ia berjalan melewati medan berat Pegunungan Tengah Papua demi melayani jemaat dan masyarakat di pedalaman.
Seperti para misionaris generasi awal lainnya, Frank Clarke tidak hanya memberitakan Injil, tetapi juga membantu pendidikan masyarakat, melayani kesehatan sederhana, mendampingi kehidupan sosial masyarakat, membangun komunitas gereja, dan membina kader-kader pelayan lokal Papua.
Pelayanan di wilayah Mamit dan Kembu menjadi bagian penting dalam sejarah pertumbuhan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) di Pegunungan Tengah Papua. Warisan terbesar Genanebaga bukan hanya gereja atau pos pelayanan, tetapi lahirnya generasi Papua yang kemudian melanjutkan pelayanan Injil di tanahnya sendiri.
Ketika Frank Clarke meninggal dunia pada tahun 2023 di Australia, banyak jemaat di Papua mengenangnya dengan penuh kasih dan penghormatan. Bagi masyarakat Lani, ia bukan sekadar misionaris asing, tetapi bagian dari sejarah hidup masyarakat Papua.
Sejarah pelayanan para misionaris di Lembah Toli menunjukkan bahwa Injil di Papua tidak hadir secara terpisah dari kehidupan sosial masyarakat. Injil hadir bersama pendidikan, kesehatan, pembangunan manusia, penguatan moral, dan pembentukan komunitas yang lebih tertata.
Karena itu, para misionaris generasi awal dikenang bukan hanya sebagai penginjil, tetapi juga sebagai pembuka jalan perubahan sosial di Pegunungan Papua. Mereka hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan melayani tanpa memandang keuntungan pribadi. Nilai inilah yang menjadi warisan penting bagi gereja Papua masa kini.
Gereja Papua dan Tanggung Jawab Sejarah
Hari ini gereja Papua telah berkembang jauh. Jemaat bertambah besar, bangunan gereja semakin megah, pendidikan semakin terbuka, dan akses komunikasi semakin maju. Namun di tengah perkembangan itu, gereja tidak boleh kehilangan memori sejarahnya.
Generasi muda Papua perlu mengenal para perintis Injil yang pernah hidup dan melayani di Swart Valley. Sebab gereja yang melupakan sejarah pengorbanannya akan mudah kehilangan arah panggilannya.
Para perintis Injil mengajarkan bahwa pelayanan harus dekat dengan rakyat, Gereja harus menjadi rumah pengharapan, iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dan Injil harus membawa perubahan hidup masyarakat.
Warisan mereka bukan sekadar bangunan gereja, tetapi karakter pelayanan kesederhanaan, pengorbanan, kesetiaan, kasih, dan keberanian hidup bagi Tuhan dan sesama.
Swart Valley bukan hanya wilayah geografis di Pegunungan Papua. Tempat ini merupakan bagian penting dari sejarah perjalanan Injil di tanah Papua.
Di lembah inilah Tolibaga, Bapa Kondabaga, dan Genanebaga mengabdikan hidup mereka demi pelayanan kepada masyarakat Papua. Mereka datang dari bangsa dan negara yang berbeda, tetapi memilih hidup bersama rakyat Papua dalam kesederhanaan dan pengorbanan.
Hari ini, jejak pelayanan mereka tetap hidup dalam memori kolektif gereja Papua. Nama mereka dikenang bukan karena kekuasaan atau jabatan, tetapi karena kasih, pengabdian, dan kesetiaan mereka terhadap panggilan Injil.
Kiranya gereja Papua masa kini tetap menjaga warisan nilai yang telah ditanamkan oleh para perintis Injil tersebut, sehingga Injil terus hidup bukan hanya di mimbar gereja, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat Papua sehari-hari.
Tanah Papua mungkin telah berubah oleh zaman, tetapi nilai pengorbanan dan kasih pelayanan yang diwariskan para perintis Injil di Lembah Toli akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah gereja Papua sepanjang masa.










