Oleh Anselmus Dore Woho Atasoge
Doktor Islamologi lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Dosen Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Flores
SALAH satu ritus kalenderi dalam Islam, Idul Adha tiba lagi. Ia merupakan fenomena keagamaan yang mengandung muatan teologis, etis, dan sosiologis yang saling berkelindan. Narasi pengorbanan Ibrahim dan Ismail yang diperingati setiap tahun ini menyimpan dimensi historis-spiritual yang telah membentuk imajiner peradaban Islam.
Namun, dalam konteks sosial kontemporer, perayaan ini memerlukan pembacaan yang melampaui aspek ritualistik menuju dimensi praksis kemanusiaan. Tulisan ini berupaya merumuskan makna Idul Adha dengan mengintegrasikan penafsiran kontekstual dan gagasan tokoh Islam moderat, guna mempertegas posisi qurban sebagai instrumen penguat solidaritas dan keadilan sosial.
Al-Qur’an (QS. As-Saffat: 102–107) menempatkan peristiwa penyembelihan Ismail sebagai balā’ (ujian) keimanan yang direspon dengan sikap taslīm (penyerahan diri) oleh kedua figur utama, Ibrahim dan Ismail. Namun, teks suci secara eksplisit mencatat intervensi ilahi melalui fidyah berupa domba yang besar.
Sejumlah tokoh kontemporer, seperti Quraish Shihab, menegaskan bahwa kisah ini bukan legitimasi atas pengorbanan manusia, melainkan simbolisasi kesiapan mental-spiritual untuk melepaskan keterikatan duniawi yang berpotensi menghalangi ketaatan kepada Allah. Substitusi hewan kurban menjadi penanda normatif bahwa Islam menolak kekerasan atas nama agama dan mengarahkan energi spiritual pada bentuk ibadah yang bersifat sosial, berkelanjutan, dan manusiawi.
Sarana Taqarrub Ilallāh
Secara etimologis, kata qurbān berakar dari qarīb yang bermakna ‘kedekatan’. Dalam kerangka fikih dan akhlak tasawuf, qurban dimaknai sebagai sarana taqarrub ilallāh melalui pengorbanan harta yang sah. Namun, dimensi sosialnya tidak kalah substantif. Distribusi daging kepada fakir, miskin, dan kerabat (QS. Al-Hajj: 28, 36) mencerminkan mekanisme redistribusi kekayaan yang berkeadilan.
Secara sosiologis, praktik ini berfungsi sebagai korektif struktural terhadap kesenjangan ekonomi. Ia sekaligus merupakan jalan untuk membangun kohesi sosial berbasis empati, tanggung jawab kolektif, dan pengakuan atas martabat manusia yang setara.
Gagasan Islam moderat (wasathiyyah) menekankan keseimbangan antara dimensi vertikal (ḥabl min Allāh) dan horizontal (ḥabl min al-nās). Nurcholish Madjid dalam beberapa pemikirannya menegaskan bahwa ibadah ritual harus berujung pada kesadaran sosial dan keadilan struktural. Menurut beliau, Islam tidak mengenal dikotomi sakral dan profan. Setiap amal ibadah yang autentik akan melahirkan kepedulian terhadap sesama.
Senada dengan itu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menempatkan solidaritas kemanusiaan sebagai inti dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn. Bagi Gus Dur, qurban memiliki makna lebih jauh dari kewajiban fikih. Ia merupakan ekspresi konkret dari empati sosial yang mendekatkan yang mampu dengan yang lemah, sekaligus mengikis stigma kemiskinan sebagai takdir yang tak terubah.
Pandangan ini selaras dengan prinsip maqāshid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-māl (perlindungan harta) dan ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa) yang diarahkan pada kesejahteraan bersama (maslahah ‘āmmah).
Dalam bingkai pemikiran moderat, Idul Adha harus dibaca sebagai momentum transformasi sosial. Allah yang al-Akbar (Mahabesar) sekaligus al-Qarīb (Mahadekat) mengajarkan bahwa kedekatan spiritual harus termanifestasi dalam kedekatan sosial. Ketika umat Muslim mengurbankan sebagian hartanya, mereka tidak hanya menjalankan sunnah, tetapi juga berpartisipasi dalam sistem ekonomi berbagi yang mengurai kemiskinan dan memperkuat jaring pengaman sosial.
Solidaritas Lintas Identitas
Dalam masyarakat yang semakin plural dan kompleks, semangat qurban dapat menjadi model solidaritas lintas identitas, di mana keikhlasan beribadah berpadu dengan kesadaran akan kesetaraan dasariah manusia.
Kelebihan kekayaan, dalam perspektif ini, dialihkan dimensinya dari akumulasi pribadi menjadi instrumen pengurai kekurangan sesama, berlandaskan keimanan, ketakwaan, dan etika tanggung jawab sosial.
Idul Adha, melalui kisah Ibrahim dan praktik qurban, menawarkan paradigma iman yang tidak hanya transendental tetapi juga imanen dalam relasi kemanusiaan. Dengan mengadopsi perspektif Islam moderat, perayaan ini dapat dimaknai sebagai gerakan solidaritas yang berlandaskan ketaqwaan, keadilan, dan kasih universal.
Dalam konteks kekinian, revitalisasi makna qurban sebagai instrumen kohesi sosial dan pemberdayaan ekonomi rakyat tidak dapat direduksi hanya sebagai anjuran moral atau praktik ritual yang bersifat personal.
Sejatinya, ia merupakan imperatif keagamaan yang berakar kuat pada prinsip maqāshid al-syarī‘ah, khususnya dalam mewujudkan keadilan distributif dan perlindungan martabat sosial. Perspektif Islam moderat menegaskan bahwa ketaatan vertikal kepada Allah harus berbanding lurus dengan tanggung jawab horizontal terhadap sesama.
Dengan itu, setiap pelaksanaan kurban yang autentik mengandung tuntutan teologis untuk mengubah surplus materi menjadi instrumen pemuliaan manusia. Ketika qurban dipahami sebagai kewajiban yang mengikat secara spiritual, pengabaian terhadap dimensi sosialnya bukan hanya mengosongkan esensi ibadah, tetapi juga mengingkari mandat ilahi yang menempatkan kesejahteraan kolektif sebagai parameter ketakwaan yang hakiki.
Di samping dimensi keagamaan, qurban juga menyandang imperatif kemanusiaan yang bersifat universal dan transformatif. Dalam masyarakat yang dihadapkan pada kesenjangan struktural dan krisis empati, mekanisme redistribusi melalui kurban berfungsi sebagai ‘korektif etis’ terhadap akumulasi kekayaan yang timpang, sekaligus menegaskan prinsip kesetaraan dasariah tanpa sekat identitas.
Solidaritas kemanusiaan dalam bingkai ini bukanlah pilihan sekunder. Ia merupakan ‘kewajiban etis’ yang mengikat setiap pihak yang memiliki kelebihan untuk turut mengurai penderitaan sesama.
Dengan demikian, semangat berbagi dan kepedulian struktural yang dihidupkan setiap Idul Adha harus menjadi poros peradaban yang inklusif, moderat, dan berkeadilan.
Selamat merayakan Idul Adha. Semoga kesadaran akan kesetaraan, komitmen pada pemberdayaan ekonomi rakyat, dan etika berbagi terus mengalir sebagai napas peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh dan berkelanjutan.










