Oleh Don Bosco Doho
Dosen
PENGALAMAN mengajar dan membimbing karya ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) berteman semiotika umumnya dan semiotika teks pada khususnya menggugah saya menggali siapa yang menulis seruan pastoral KWI berjudul, “Bangkit Bersama dalam Pengharapan”. Sebagai analisis ilmiah, saya mengacu pada beberapa referensi yang valid dan dapat dirujuk.
Kerangka Metode Stilometri dan Semiotika Teks
Analisis ini menggunakan pendekatan stilometri untuk mengidentifikasi penulis berdasarkan pola linguistik yang berulang sebagaimana dikembangkan oleh Patrick Juola (2006) dan diperkuat oleh tradisi semiotika Roland Barthes tentang “l’effet d’auteur” (efek pengarang).
Ditegaskan bahwa setiap teks menyimpan sidik jari penulisnya meski disamarkan oleh proses kolektif. Dalam konteks dokumen gerejawi, Schillebeeckx (1980) menunjukkan bahwa teks konferensi uskup hampir selalu memiliki redaktor dominan satu tangan yang memfinalisasi, meloloskan diksi, dan menentukan nada keseluruhan dokumen.
Umberto Eco dalam The Role of the Reader (1979) menambahkan bahwa teks selalu menyimpan jejak Model Author, penulis tersirat yang bisa diidentifikasi dari pilihan retorika, absensi strategis, dan cara mengelola ketegangan ideologis sekalipun nama penulis tidak tercantum secara tegas.
Sidik Jari Tekstual Melalu Tujuh Penanda
Pertama, Struktur Retorika “Injak Gas, Rem, Injak Gas”. Dokumen ini memiliki ritme yang sangat khas: pujian keprihatinan ajakan. Pola ini berulang tiga kali secara konsisten.
Dalam tradisi Fransiskan, kritik selalu didahului pengakuan kebaikan objek yang dikritik persis yang terjadi di paragraf tentang PSN: “Kita bersyukur atas berbagai upaya pembangunan… Namun…”
Struktur ini konsisten dengan gaya pastoral Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC seorang Oblat Serikat Kristus yang dikenal dengan pendekatan dialogis-pastoral, bukan konfrontatif.
Kedua, Diksi “Bonum Commune” yang Dieksplisitkan. Penggunaan istilah Latin bonum commune dalam tanda kurung yang diperjelas kepada pembaca awam adalah kebiasaan seorang akademisi-pastor yang terbiasa menulis untuk audiens heterogen.
Ini bukan diksi khas Mgr Adrianus Sunarko, OFM yang dalam tradisi Fransiskan cenderung menggunakan bahasa Kitab Suci langsung. Sebaliknya, latar belakang studi di Roma (Gregoriana) yang dimiliki Mgr Subianto sangat kental dengan terminologi Ajaran Sosial Gereja bergaya ensiklik.
Ketiga, Penggunaan Kata “Profetis” yang Terkontrol. Kata semangat profetis muncul sekali, terkubur dalam klausa subordinat, bukan sebagai tema utama. Ini sangat signifikan.
Seorang penulis yang berani secara profetis akan menjadikan kata ini sebagai penanda utama. Seorang penulis yang ingin terlihat profetis tapi tidak ingin berisiko akan menaruhnya sebagai ornamen.
Ini adalah ciri diplomatik seorang Ketua KWI yang harus menjaga kesatuan seluruh konferensi, termasuk anggota yang memiliki posisi kontroversial seperti Mgr Mandagi dari Merauke yang secara publik mendukung PSN, namun kemudian melakukan klarifikasi di podcast sebagai kerjaan orang yang hanya berkeliaran sesaat di Papua.
Keempat, Formula Penutup “Sinodal”. Kalimat penutup “dengan semangat sinodal, berjalan bersama” adalah formula khas era Paus Fransiskus pasca-Sinode 2023. Penggunaan tanda pisah (—) untuk memberi definisi langsung pada kata sinodal adalah kebiasaan penulis yang terbiasa menulis untuk pembaca awam yang tidak familier dengan jargon Vatikan. Ini adalah gaya seorang Ketua KWI, bukan Sekjen yang biasanya menulis untuk internal.
Kelima, Kutipan Paus Ganda: Fransiskus dan Leo XIV. Dokumen ini mengutip dua paus sekaligus. Kutipan ganda ini menunjukkan penulis yang ingin membangun legitimasi berlapis, karakter seorang pemimpin yang terbiasa bernegosiasi dengan banyak pihak sekaligus, dan perlu memayungi argumennya dengan otoritas dari dua periode kepausan berbeda.
Keenam, Konstruksi Kalimat Panjang-Pendek Berpola. Secara stilometrik, dokumen ini menunjukkan pola: kalimat panjang (35–45 kata) diikuti kalimat pendek tajam (8–12 kata).
Contoh: “Papua bukan sekadar persoalan pembangunan atau keamanan, melainkan bagian utuh dari wajah Indonesia… Pendekatan keamanan bukanlah jalan cepat dan tepat.”
Ritme ini adalah ritme khotbah tertulis yang dipersiapkan untuk dibacakan untuk memperkuat hipotesis bahwa penulis utama adalah seorang homilist terlatih dan suka berbunga-bunga dalam menyampaikan edukasi kepada audiens.
Ketujuh, Absensi yang Menceritakan: PSN Tanpa Nama. Roland Barthes dalam S/Z (1970) menyebut l’absence signifiante, ketidakhadiran yang bermakna lebih dari kehadiran.
Tidak disebutnya PSN Merauke secara eksplisit, tidak disebut Film Pesta Babi, tidak disebut pembubaran nobar oleh aparat, dan ini adalah keputusan editorial yang disengaja, hanya bisa dibuat oleh orang yang memegang pena terakhir.
Suara-Suara yang Tertahan Merupakan Peran Presidium KWI
Di sinilah analisis menjadi semakin menarik. Dokumen KWI tidak lahir dari satu pena tunggal dalam ruang hampa. Ia lahir dari ruang sidang presidium yang dihuni oleh tokoh-tokoh dengan posisi moral dan geopolitik yang sangat berbeda. Memahami ketegangan di antara mereka adalah kunci untuk membaca apa yang tidak tertulis.
Mgr Paulus Budi Kleden, SVD, Wakil Ketua KWI adalah figur yang paling menarik secara intelektual dalam peta ini. Seorang teolog bergelar doktor dari Universitas Gregoriana Roma dengan spesialisasi teologi kontekstual dan eklesiologi, Kleden dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam dan konseptual.
Sidik jarinya sebagai teolog terlihat samar di paragraf ekologis, framing “keutuhan ciptaan” dan rujukan langsung kepada Laudato Si’ terasa lebih teologis dan sistematis dibandingkan dengan bagian lainnya.
Namun, yang mencolok adalah: seorang teolog sekaliber Kleden yang memiliki pemahaman mendalam tentang teologi pembebasan dan konteks Asia Pasifik seharusnya menghasilkan rumusan yang jauh lebih tajam tentang Papua dan PSN.
Ketidakhadiran ketajaman itu dalam teks final adalah sinyal bahwa kontribusinya telah mengalami moderasi signifikan dalam proses redaksi. Seperti yang dikatakan Norman Fairclough (1995), dalam wacana institusional, power works through what is left unsaid as much as through what is said, kekuasaan bekerja melalui apa yang dibiarkan tak terucap.
Mgr Yanuarius Matopai You, Uskup Jayapura, adalah sosok yang paling paradoksal dalam konteks dokumen ini. Sebagai seorang putra Papua asli, keturunan langsung dari tanah yang dibicarakan dalam dokumen ini, suaranya memiliki legitimasi moral dan kultural yang tidak dimiliki uskup mana pun dari Jawa.
Secara semiotika, kehadiran atau ketidakhadiran pengaruhnya bisa dideteksi dari satu pertanyaan: apakah ada dalam dokumen ini satu kalimat yang hanya bisa ditulis oleh seseorang yang pernah berdiri di tanah Papua dan merasakan langsung luka itu?
Jawabannya mengkhawatirkan: tidak ada. Kalimat tentang Papua dalam dokumen ini terasa seperti ditulis oleh seseorang yang membaca tentang Papua, bukan yang hidup di Papua.
Frasa seperti “luka batin yang mendalam pada lintas generasi” adalah bahasa pastoral umum, tidak ada spesifisitas geografis, tidak ada nama suku, tidak ada angka, tidak ada kejadian konkret.
Bila Mgr You sungguh terlibat dalam proses redaksi, pengaruhnya telah tersaring hampir habis oleh proses konsensus. Ini adalah ironi yang dalam: suara paling sahih tentang Papua justru paling sunyi dalam dokumen yang membicarakan Papua.
Kontribusi Mgr Adrianus Sunarko, OFM sebagai Sekjen kemungkinan ada pada bagian ekologis diksi ekologi Fransiskan “rumah bersama” dan “pertobatan ekologis” lebih terasa di situ. Tetap bagian itu telah didinginkan suhunya oleh tangan finalis.
Kehadiran uskup-uskup lain dalam presidium KWI termasuk Mgr Ignatius Suharyo (Jakarta) dan para anggota komisi kemungkinan besar mewakili suara arus utama yang menginginkan dokumen ini tidak membakar jembatan dengan pemerintah, mengingat hubungan Gereja Katolik Indonesia dengan negara yang selama ini relatif kondusif untuk pelayanan sosial dan pendidikan Gereja.
Teks Negosiasi yang Disamarkan
Berdasarkan tujuh sidik jari tekstual dan pemetaan peran presidium KWI, analisis semiotika mengarahkan pada kesimpulan berlapis: Drafting awal kemungkinan besar dilakukan oleh tim sekretariat KWI terlihat dari beberapa bagian yang terasa “komite” dalam nada dan daftar bernomor 1–5.
Kontribusi teologis dari Mgr Paulus Budi Kleden terlihat pada bagian ekologi dan kerangka konseptual, namun telah dimoderasi secara signifikan. Suara Mgr Yanuarius You yang seharusnya paling keras tentang Papua justru paling tidak teridentifikasi dalam teks final sebuah kehilangan yang nyaring.
Finalisasi dan tone-setting, termasuk keputusan untuk tidak menyebut PSN secara eksplisit dan memilih diksi “bisa menjadi bumerang” daripada “melanggar”, hampir pasti berada di tangan Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC sebagai Ketua KWI.
Dokumen ini, dengan kata lain, adalah teks negosiasi internal yang disamarkan sebagai seruan profetis sebuah kompromi yang mencerminkan ketegangan antara tekanan umat yang menuntut keberanian dan tekanan institusional yang menuntut ketenangan.
Dan dalam ketegangan itu, seperti selalu terjadi dalam dokumen kolegial, tekanan institusional menang, diam-diam, melalui diksi yang dipilih dengan sangat hati-hati.
Suara kenabian sejati, seperti ditulis Walter Brueggemann, “harus mampu membuat orang menangis atas apa yang tidak lagi harus mereka tangisi, dan berharap atas apa yang tampaknya mustahil.” Dokumen ini tidak membuat siapa pun menangis. Dan itulah diagnosis terakhirnya.
Referensi:
- Barthes, R. (1970). S/Z. Paris: ditions du Seuil.
- Brueggemann, W. (1978). The Prophetic Imagination. Philadelphia: Fortress Press.
- Eco, U. (1979). The Role of the Reader. Bloomington: Indiana University Press.
- Fairclough, N. (1995). Critical Discourse Analysis. London: Longman.
- Juola, P. (2006). Authorship Attribution. Foundations and Trends in Information Retrieval, 1(3), 233–334.
- Kleden, P. B. (2013). Teologi Kontekstual dan Misi Gereja. Maumere: Ledalero Press.
- Schillebeeckx, E. (1980). Ministry: Leadership in the Community of Jesus Christ. New York: Crossroad.
- van Dijk, T. A. (1993). Elite Discourse and Racism. London: Sage Publications.
- You, Y. M. (2019). Pastoral Reflections on Papua: Justice, Peace and the Integrity of Creation. Jayapura: Keuskupan Jayapura.










