Sosok  

Obituari: Intelektual yang Melangkah dari Ruang Kelas ke Relung Kebijakan Publik Tanah Papua

Antropolog dan tokoh Papua Almarhum Dr Don Augusthinus Lamaech Flassy, MA. Foto: Istimewa

TAK semua orang yang mengenyam pendidikan tinggi menjadi pemikir. Tidak semua yang lulus kuliah lalu mengabdikan ilmu pengetahuannua menjadi pejabat yang sungguh memahami problem sosial kemasyarakatan di tanah Papua.

Di tengah realitas itu, kita sering menyaksikan kesenjangan antara pendidikan dan kepekaan sosial, antara jabatan dan tanggung jawab moral. Banyak yang berhasil secara pribadi, tetapi gagal memberi dampak bagi lingkungan yang lebih luas.

Namun bila kita rekatkan pada sosok antropolog Dr Don Augusthinus Lamaech Flassy, MA, kita menemukan sesuatu yang berbeda —bahkan bisa dikatakan langka. Don bukan sekadar sosok yang menempuh pendidikan tinggi.

Ia juga pribadi yang memaknai pendidikan sebagai jalan sunyi pengabdian demi meraih kebaikan umum (bonum commune). Lebih dari itu ia bukan pula seorang birokrat sejati tetapi ia menggunakan kemampuan ilmu dan keteladanannya sebagai instrumen pelayanan.

Dalam diri Don, kita melihat satu kesatuan yang utuh: mulai merenda karir sebagai guru SD di lokasi Transmigran Kurik-Merauke tahun 1967-1968.

Kemudian, meroket menjadi birokrat lalu bergerak menjadi peneliti yang tetap berpihak pada rakyat. Di sinilah letak relevansi dedikasi seorang antropolog bernama Don Flassy bagi tanah Papua hingga ajal menjemputnya.

Pribadi Sederhana yang Melangkah dengan Tekun

Perjalanan Don Flassy tidak dimulai dari ruang-ruang elit, tidak pula dari fasilitas yang melimpah ruah. Ia memulai dari sesuatu yang sederhana —dari Sekolah Rakyat di Teminabuan.

Kesederhanaan itu bukan kelemahan. Justru dari sanalah terbentuk karakter: ketekunan, disiplin, dan kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai jalan perubahan.

Ia kemudian memilih jalur pendidikan guru. Ini bukan pilihan yang kebetulan. Pada masa itu, menjadi guru adalah salah satu bentuk pengabdian paling nyata—membentuk manusia dari dasar.

Di ruang kelas sederhana, tanpa kemewahan, ia belajar satu hal penting: perubahan sejati tidak dimulai dari kebijakan, tetapi dari manusia. Pengalaman ini membentuk cara pandangnya ke depan.

Ketika kelak ia berada dalam dunia akademik maupun birokrasi, ia tidak pernah kehilangan perspektif dasar itu —bahwa pembangunan harus berpusat pada manusia, bukan semata pada struktur atau program.

Bagi generasi hari ini, ini adalah pelajaran penting: tidak ada perjalanan besar yang dimulai dari kemewahan, tetapi dari ketekunan dalam proses yang sederhana. Ia belajar hingga mencapai kualifikasi akademik tinggi, Namun ia tidak kehilangan akar budaya sebagai anak Papua.

Perjalanan pendidikan Don Flassy terus berlanjut. Ia menempuh studi di Yogyakarta, salah satu pusat intelektual Indonesia. Kemudian, melanjutkan kuliah hingga ke negeri Belanda, tepatnya di Rijksuniversiteit, Leiden.

Di sana, ia masuk ke dalam tradisi akademik global. Ia belajar tentang bahasa, budaya, dan peradaban dalam perspektif ilmiah yang luas. Namun yang menarik bukan hanya sejauhmana ia belajar, tetapi bagaimana ia sungguh memaknai proses belajar itu dengan hati.

Banyak orang yang setelah menempuh pendidikan tinggi justru menjadi jauh dari akar sosial dan budayanya. Mereka menjadi “asing di tanah sendiri” —lebih fasih berbicara teori daripada memahami realitas. Hal yang tanggal dalam pemahaman Don Flassy.

Semakin tinggi pendidikannya, semakin kuat keterikatannya pada Papua. Semakin luas wawasannya, semakin dalam kepeduliannya terhadap identitas lokal. Ia kembali bukan sebagai orang yang merasa lebih tahu, tetapi sebagai orang yang semakin sadar.

Papua dalam benaknya tidak bisa dibangun hanya dengan teori luar. Papua harus dipahami dari dalam: dari bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakatnya sendiri. Ini adalah pesan penting bagi generasi muda Papua hari ini: pendidikan bukan alat untuk meninggalkan identitas, tetapi sarana untuk memperkuat dan memaknainya secara lebih dalam.

Menjadi Akademisi yang Membumi

Sebagai akademisi, Don Flassy tidak berhenti pada aktivitas mengajar. Ia meneliti, menulis, dan mengembangkan pemikiran yang berakar pada realitas Papua. Ia mengkaji bahasa-bahasa lokal seperti Tehit, Bahaam, Iha, dan Waropen. Tetapi penelitian itu bukan sekadar kerja ilmiah teknis.

Semua itu adalah upaya untuk menjaga warisan budaya, memahami struktur sosial, dan merekam cara berpikir masyarakat Papua.

Dalam konteks ini, Don melihat bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sebagai jendela peradaban. Namun yang membuatnya berbeda adalah bahwa ia tidak menjadikan kampus sebagai satu-satunya ruang pengabdian.

Ia membawa ilmu keluar: ke masyarakat, ke relung kebijakan hingga forum akademik. Ia mengajar mahasiswa di kelas, tetapi juga “mengajar” pemerintah melalui gagasan dan kontribusinya dalam kebijakan.

Don menulis buku, tetapi juga membentuk cara berpikir generasi. Inilah akademisi yang membumi: tidak hanya menguasai ilmu, tetapi mampu menjadikannya relevan dan berdampak.

Di tengah tantangan dunia akademik hari ini yang kadang terjebak pada formalitas dan publikasi semata, teladan ini menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali.

Masuk ke Birokrasi Tanpa Kehilangan Idealisme

Masuk ke dalam birokrasi sering kali menjadi titik di mana idealisme mulai memudar. Sistem yang kompleks, tekanan administratif, dan kepentingan politik sering membuat banyak orang kehilangan arah.

Namun Don Flassy menunjukkan jalan yang berbeda. Ia tidak melihat birokrasi sebagai tempat untuk berkuasa, tetapi sebagai ruang pelayanan lebih luas dengan totalitas pengabdian.

Melalui perannya di Bappeda Papua, ia terlibat dalam berbagai aspek penting pembangunan: perencanaan strategis, pengembangan kelembagaan, dan integrasi riset dalam kebijakan.

Don turut merintis lembaga-lembaga penting yang menjadi fondasi pembangunan berbasis pengetahuan. Aspek menarik lainnya, ia bukan sekadar menjalankan program. Ia juga memastikan bahwa setiap kebijakan memiliki dasar pemikiran, relevansi sosial, dan arah jangka panjang

Ia membuktikan bahwa birokrasi tidak harus kaku. Birokrasi bisa menjadi ruang kreatif —jika diisi oleh orang yang berpikir dan berintegritas. Bagi generasi hari ini, ini adalah tantangan sekaligus harapan: masuklah ke sistem, tetapi jangan kehilangan nilai.

Don melayani lebih luas: dari siswa di ruang kelas menukik hingga relung sosial dalam artian sesungguhnya. Jika ada satu benang merah dalam perjalanan hidup Don, maka itu adalah pelayanan yang konsisten.

Ia tidak berpindah arah, tetapi memperluas jangkauan. Ia juga melayani siswa dalam kapasitas sebagai guru, mahasiswa dalam kapasitas sebagai dosen hingga masyarakat sebagai seorang periset brilian dan pemerintah dan daerah sebagai abdi negara dan masyarakat.

Setiap tahap kehidupannya adalah kelanjutan dari tahap sebelumnya; bukan perubahan arah, tetapi pendalaman makna pengabdian. Ini adalah sesuatu yang jarang. Banyak orang melihat karier sebagai tangga untuk naik. Tetapi Don melihatnya sebagai lingkaran pelayanan yang semakin luas.

Di tengah budaya yang semakin individualistik, teladan ini menjadi sangat relevan: hidup bukan hanya tentang mencapai posisi, tetapi tentang memberi dampak yang berkelanjutan.

Ada teladan yang ia wariskan bagi generasi Papua saat ini. Mengapa? Papua hari ini menghadapi berbagai tantangan: terpaan globalisasi yang secepat kilat, perubahan sosial yang kompleks dan multidimensi serta krisis identitas di kalangan generasi muda.

Dalam situasi ini, generasi muda sering dihadapkan pada pilihan yang sulit: menjadi modern atau tetap berakar. Nah, Don Flassy menunjukkan bahwa pilihan itu sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

Ia mengajarkan bahwa menjadi modern tidak berarti kehilangan identitas, menjadi intelektual tidak berarti menjauh dari masyarakat, dan menjadi pejabat tidak berarti kehilangan idealisme.

Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa orang Papua bisa: menjadi subjek pengetahuan, bukan sekadar objek. Ini adalah pesan yang sangat kuat—bahwa generasi Papua tidak hanya harus ikut dalam arus perubahan, tetapi juga mampu mengarahkan perubahan itu sendiri.

Menjadi Generasi yang Melanjutkan

Mengagumi tokoh adalah hal yang mudah. Kita bisa membaca, memuji, bahkan mengutip. Tetapi melanjutkan teladan adalah hal yang berbeda. Ia membutuhkan komitmen, keberanian, dan konsistensi.

Don Flassy telah menunjukkan satu jalan yang jelas: belajar dengan sungguh, berpikir dengan dalam, dan mengabdi dengan setia. Hari ini, pertanyaannya bukan lagi: siapa Don Flassy?

Tetapi apa yang akan kita lakukan setelah belajar dari teladannya? Apakah kita akan menjadi generasi yang hanya berbicara atau menjadi generasi yang bekerja dan berpikir sekaligus? Ini sederet pertanyaan reflektif.

Karena pada akhirnya, masa depan Papua tidak hanya ditentukan oleh tokoh-tokoh besar di masa lalu. Ia ditentukan oleh generasi hari ini yang mau belajar, mengambil tanggung jawab, dan melanjutkan perjuangan itu.

Jika kita sungguh memahami warisan, legasi Don Flassy, satu hal menjadi jelas: Papua tidak kekurangan potensi. Papua hanya membutuhkan lebih banyak orang yang berpikir, berakar, dan mau mengabdi.

Antropolog dan tokoh Papua Dr Don Augusthinus Lamaech Flassy, MA tutup usia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, Minggu (22/3) sore. Selamat jalan, Pa Don. Bahagia di Surga.

Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA

Doktor lulusan Uncen, Jayapura dan putra Guru Agama di Papua Pegunungan