Oleh Kasdin Sihotang
Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta
PADA tahun ini, ada peristiwa religius yang penting bagi bangsa ini. Di bulan Maret 2026, umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Dua hari sebelum mulai bulan Ramadhan, umat Katolik mengadakan ibadah Rabu Abu-abu, yang menandai mulainya masa puasa atau prapaskah.
Satu minggu setelah Idul Fitri, umat Katolik juga memasuki pekan suci, yakni Minggu Palma, tri hari suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah). Dan di waktu berdekatan sebelum Idul Fitri, ada perayaan Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu.
Perjumpaan momen tersebut di atas ingin menyatakan satu pesan berharga di mata dunia dan sebuah ajakan penting, yakni betapa dekat dan lekatnya kerukunan dengan bangsa Indonesia, dan perlunya itu terus dirawat dengan bersandar pada daya Yang Maha Kuasa.
Tidak kebetulan pula bahwa makna kehidupan religius bagi dua penganut keyakinan yang berbeda beririsan, yakni sama-sama melakukan refleksi spiritual dengan ritus religi masing-masing.
Masa puasa bagi setiap agama memiliki makna yang tidak jauh berbeda, demikian halnya tujuan kegiatannya sama. Makna puasa pada prinsipnya menyiratkan refleksi penting tentang tiga arah yang dijalani setiap kaum beragama.
Arah pertama adalah diri sendiri. Masa puasa diarahkan pada tahap pertama ke dalam diri sendiri. Artinya, umat beragama merefleksikan bagaimana perilakunya secara pribadi, dan sejauh mana sikap-sikapnya memberu bobot bagi kualitas pribadinya.
Refleksi diri ini diperteguh dengan tuntutan keterlibatan personal dalam ragam kegiatan religius selama masa puasa. Dalam momen ini juga kaum religius melatih diri, memurnikan hatinya dan meluruskan pikirannya, yang buahnya adalah terjadinya metanoia (pertobatan). Jadi, pada arah yang pertama ini, sasaran refleksi adalah batin pribadi.
Arah kedua adalah sesama. Kehidupan beragama tidak saja bersifat personal, tetapi juga bersifat sosial. Artinya, buah kehidupan agama tidak hanya dinikmati sendiri seperti ketenangan batin dan kuat menghadapi berbagai persoalan hidup, tetapi juga dapat dirasakan oleh orang lain.
Dengan kata lain, hasil kehidupan religi pribadi berdampak positif bagi orang lain. Karena itulah selama masa puasa kaum beriman diminta untuk semakin memperbanyak perbuatan baik terhadap sesama dengan amal, sedekah ataupun hal positif lainnya.
Arah ketiga adalah refleksi terhadap relasi manusia dengan Sang Pencipta. Kaum beragama bukan saja menyadari diri sebagai warga negara dunia, tetapi juga sebagai umat Allah. Dunia bagi manusia hanyalah sebuah daerah peziarahan. Dalam kaitan dengan ini, Santo Augustinus dari Hippo memetakan kewargaan seseorang umat dalam dua hal, yakni sebagai warga surgawi yang disebutnya civitas Dei dan warga duniawi atau civitas mundi.
Civitas Dei (kota Allah) adalah komunitas spiritual yang terdiri dari orang-orang yang hidup menurut kehendak Allah, mencintai Tuhan, dan berorientasi pada keselamatan kekal (eskatologi). Jenis kewargaan ini dipimpin oleh iman, cinta kasih, dan kebenaran ilahi.
Ini merujuk pada persekutuan orang-orang beriman yang tujuannya adalah persatuan dengan Tuhan. Mereka mendahulukan kehendak Tuhan di atas kepentingan diri sendiri atau duniawi. Sedangkan civitas mundi atau civitas terrana (kota duniawi/manusia) merupakian komunitas manusia yang diatur oleh hasrat duniawi, cinta diri, dan pengejaran kebahagiaan temporal (sementara).
Menurut Augustinus dari Hippo, ini merujuk pada negara, kekaisaran, atau masyarakat sekuler yang fokus pada kedamaian fisik, ketertiban hukum, dan kebutuhan material (kehidupan di dunia). Kewargaan ini hidup menurut standar manusia (daging/hasrat), terkadang mengabaikan prinsip ilahi demi kepentingan pribadi.
Thomas Aquinas meneruskan pandangan Augustinus dari Hippo di atas. Dalam pemikiran filsafat politik dan hukumnya, yang berakar pada pandangan Aristoteles dan teologi Kristen, Thomas Aquinas membagi status kewarganegaraan manusia menjadi dua jenis, yakni warga negara duniawi (citizens of the earthly city) dan warga negara surgawi (citizens of the eavenly city).
Kebaikan Bersama
Manusia sebagai warga negara duniawi adalah anggota komunitas politik atau negara ( civitas ) yang bertujuan mencapai bonum commune (kebaikan bersama) di dunia. Fokusnya adalah pada keadilan, hukum alam, dan pemenuhan kebutuhan hidup jasmani serta moral di bumi.
Sedangkan manusia sebagai warga negara surgawi (citizens of the heavenly city) memiliki kapasitas sebagai makhluk rohani yang bertujuan mencapai kebahagiaan sejati ( beatitudo ) bersama Sang Ilahi. Warga negara jenis ini memandang kehidupan di bumi hanyalah sementara, dan fokusnya adalah tujuan akhir (hidup akhirat).
Apa yang mau ditandaskan oleh Augustinus dari Hippo dan Thomas Aquinas bermuara pada satu hal bahwa hidup manusia bukan hanya berlangsung dalam peziarahan di dunia, tetapi juga menuju dunia lain, yakni dunia ilahi.
Karena itu sesungguhnya ajaran kehidupan religius tidak saja ditujukan pada bagaimana hidup baik secara mondial, tetapi juga sebagai persiapan menuju kehidupan abadi.
Hidup di dunia adalah bagian perjalanan menuju eternal life itu. Perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi tanda kehadiran eskatologis itu (realized eschatology), seperti dipopulerkan oleh tiga teolog, yakni JAT T Robinson, Joachim Jeremias, dan CH Dod.
Dasar penegasan di atas adalah bahwa kehidupan yang paling konkret dan dapat dilihat secara kasad mata adalah kehidupan di dunia. Ini berarti, penghayatan nilai-nilai spiritualitas selama hidup di dunia menjadi tugas penting bagi kaum beragama, namun tindak tanduk mondial itu sekaligus dipandang dalam kerangka persiapan menuju kehidupan abadi (dunia akhirat).
Jadi, sekali lagi, nilai-nilai religius bukan semata-mata berorientasi pada hal-hal teologis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Bahkan sisi kemanusiaan itulah yang mau diangkat dengan kehadiran agama di bumi.
Secara konkret dapat dikatakan, tujuan kehadiran religi apapun adalah mengangkat harkat dan martabat manusia dan memberi fundasi etis dan spiritual baginya dalam menjalani hidup personal dan hidup sosial. Dan di sana ada terjadi inkarnasi (penjelmaan).
Tentang hal di atas, pengarang Injil Johanes menulis, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Verbum caro factum est – Sabda telah menjadi daging (Yoh.1: 14).
Sentuhan Humanisme
Karena itu kehidupan beragama in principio menyentuh humanisme dan persoalan yang berkaitan dengan kemanusiaan. Bahkan persoalan-persoalan itulah yang ingin diberi fundasi oleh agama melalu ajarannya sebagai dasar berperilaku dan berakhlak.
Problem humanisme cukup beragam dan berat, namun menjadi perhatian semua umat beriman. Dengan demikian persoalan humanisme seperti ketidakadilan, hak-hak asasi manusia yang tergerus, ketidakjujuran dan penghargaan pada martabat manusia yang semakin melemah menjadi perhatian bersama, dan semua issu humanisme ini dapat mempersatukan gerak langkah bersama bagi umat yang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda.
Melihat fokus demikian maka perayaan-perayaan keagamaan memuat tidak hanya aspek religius, dalam arti menciptakan relasi yang semakin erat dengan Sang Ilahi, tetapi juga memuat ajakan untuk hidup semakin manusiawi. Meminjam terminologi filsuf Indonesia N Driyarkara, SJ dalam menjalankan kehidupan religius ada humanisasi, artinya semakin membuat manusia hidup secara lebih manusiawi.
Jadi, perayaan religius, sesungguhnya menjadi momen refleksi tentang kemanusiaan. Perayaan religius seyogianya membuat manusia untuk menyadari jati dirinya sebagai makhluk yang tidak menyendiri, tidak berdaya, dan rapuh berhadapan dengan ragam persoalan duniawi. Ini pula saat yang tepat merefleksikan tindakan dan sikap serta perilaku kita terhadap alam semesta, lebih-lebih lingkungan hidup.
Bagaimanapun lingkungan hidup adalah bagian dari kehidupan manusia, bahkan manusia sangat tergantung padanya seperti diamini oleh Arne Naess, Fritjop Capra, Fransiskus Asisi, Aldo Leopold, Michael Northcort, Murray Bookchin, Peter Scott, dan Paus Fransiskus, serta pecinta lingkungan lainnya.
Tragedi ekologis di akhir tahun 2025 seyogianya menggugah humanisme religiositas kita bahwa apatisme dan perlakuan tidak adil terhadap alam akan menghancurkan hidup kita sendiri dan merupakan antitesis dari nilai-nilai religius itu. Dan kesadaran ini tentunya menjadi buah pertobatan nyata sekaligus wujud hakikat humanisme religiositas kita.
Selamat merayakan Hari Suci Nyepi bagi yang merayakannya. Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri.










