LEWOLEBA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Minggu (8/2) berada di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kunjungan Uskup Bernardus merupakan kunjungan berahmat bagi umat Katolik dan Masyarakat.
Kunjungan Uskup putra asli Papua dari Ordo Santo Agustinus (OSA) di nusa Lembata, pulau yang terkenal dengan tradisi lefa, perburuan paus secara tradisional masyarakat nelayan Lamalera, juga merupakan kunjungan berahmat bagi masyarakat dan umat Katolik di Dekanat Lembata, lewotana, leu awuq (kampung halaman) tanah lepanbatan.
“Minggu (8/2) pukul 09.00 WIB saya akan mempersembahkan Misa di Stasi Santu Mikhael, Paroki Santo Yosef Baopukang, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka,” ujar Uskup Bernardus Bofitwos Baru dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Minggu (8/2).
Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, Uskup berangkat dari Lewoleba menuju Baopukan disambut umat dan suguhan tarian siswa dan siswi SMP Satu Atap Waiwaru di halaman Balai Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, didahului oreng atau sapaan adat dan pengalungan selendang sebagai bentuk penghormatan.
Usai diterima secara adat Uskup Bernardus akan diarak menuju Gereja Stasi Santu Mikhael Baopukang untuk mempersembahkan Misa bersama umat. Sebelum berkat penutup, Uskup Bernardus akan memberikan peneguhan atau pesan pastoral kepada umat.
Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas kunjungan berahmat itu, umat bersama sang Uskup menikmati santap bersama yang disiapkan oleh umat stasi dan keluarga di Pastoran Stasi Santu Mikhael Baopukang.
“Selesai minum dan sarapan di pastoran saya bersama rombongan berziarah ke makam Bapak Sius Lua Making. Rombongan juga akan berkunjung ke rumah Bapak Elias Making dan bertemu mama Bengan sekaligus memberikan berkat,” kata Uskup Bernardus.
Menurut rencaan, Uskup Bernardus bersama bertandang ke rumah Almarhum Sius Lua untuk bertemu Elisabeth Wara, istri Almarhum Sius Lua dan menikmati santap siang bersama. Setelah beristirahat sejenak dan foto bersama, Uskup Bernardus dan rombongan pamit menuju Lewoleba.
Kunjungan Uskup Bernardus di Lembata, pulau yang terkenal di dunia sebagai penghasil imam, biarawan dan biarawati yang mengabdi di lima benua, mendapat respon umat Katolik di Lewoleba. Kunjungan Uskup Bernardus merupakan momentum bersejarah dalam ziarah gereja di Keuskupan Larantuka, khususnya Dekanat Lembata.
“Sebagai warga masyarakat Kabupaten Lembata dan umat Katolik Keuskupan Larantuka, kami bersyukur kepada Tuhan atas kunjungan berahmat Bapa Uskup Timika di Lembata,” ujar Hirmina Barek Mudaj, umat Paroki Santa Maria Banneux, Lewoleba, Lembata, NTT, Minggu (8/2).
Menurut Hermina yang juga guru SDK 2 Lewoleba, kunjungan Uskup Bernardus merupakan yang pertama kali sejak ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Timika, wilayah adat Meepago, Provinsi Papua Tengah. Kunjungan ini adalah sejarah bagi umat Katolik Dekanat Lembata dan Keuskupan Larantuka.
Sedangkan umat Katolik lainnya, Yosef Amasuba mengaku, kunjungan Uskup Bernardus merupakan sebuah kehormatan bagi umat Katolik Dioses Larantuka khususnya Dekanat Lembata dan masyarakat Kabupaten Lembata.
”Kunjungan Uskup Timika Mgr Bernardus adalah sejarah baru bagi lewotana, leuawuq, tanah Lembata. Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan biasa tetapi berkat Tuhan melalui Bapa Uskup Bernardus. Kita semua berdoa semoga benih panggilan imam, biarawan dan biarawati tumbuh subur dari lewotana, leuawuq,” kata Amasuba, kolumnis media, termasuk media di Papua Tengah.
Sosok Uskup Bernardus
Mgr Bernardus Bofitwos Baru lahir 22 Agustus 1969 di Dusun Bokraby (Bakrabi), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Ia terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara dari pasangan suami-istri Amus Awitayawan Baru (Alm) dan Sawoazaka Bame (Almarhumah) serta Salomina Bohoato Bame (Almarhumah).
Kakak dan adik Uskup Bernardus yaitu: Sofia Baru (petani), Lea Baru (petani), Amandus Baru (PNS), Benyamin Baru (PNS), Alexander Baru (petani), Amus Awitayawan Baru, dan Anna Baru (petani).
Semasa hidup, pasutri petani ini menyibukkan diri menanam dan merawat kebun miliknya tak jauh dari Bokraby. Panenan kebun seperti keladi, petatas, kasbi (ubi kayu), pisang, dan jagung menjadi menu bagi anak-anak mereka semasa kecil.
“Ayah kami suka berburu babi hutan, kanguru pohon, kuskus, dan pasang jerat babi hutan. Orangtua kami saling mengasihi satu sama lain. Mereka juga sangat mencintai kami semua. Ayah dan kedua ibu kami meninggal sejak adik Uskup Bernardus masih duduk di SMP Don Bosco Fakfak,” ujar Benyamin Baru, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Bernardus kecil masuk SD YPPK Suswa dan tamat tahun 1985. Ia kemudian lanjut di SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Don Bosco Fakfak hingga tamat tahun 1987.
Setelah itu melanjutkan studi di SMA YPPK Santo Agustinus Sorong hingga selesai tahun 1990, Bernardus lalu melanjutkan kuliah Diploma 3 (D-3) di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Filial Malang di Semarang, Jawa Tengah hingga lulus tahun 1995. Setelah itu merampungkan studi S-1 di STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura, tahun 1999.
Sebelum ditunjuk jadi Uskup, sebagai imam ia aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan pelayanan kemasyarakatan. Uskup Bernardus pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Ordo Santo Augustinus, Vikariat Papua dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura. Uskup Bernardus juga dikenal sebagai imam yang pintar dan rendah hati.
Semangat belajar tak pernah padam dalam hati Uskup Bernardus. Tahun 2005, ia terbang ke Roma lalu masuk Fakultas Teologi Misi di La Pontifi cia Università Urbaniana atau Universitas Kepausan Urbaniana.
Ia kemudian meraih gelar doktor bidang Misiologi setelah mempertahankan disertasi berjudul Traditional Ritual Symbols in Youth Initiation and Religious Beliefs Among the Maybrat of West Papua: A Missiological Study tahun 2018.
Sederet tugas dari pimpinan OSA pernah diemban Uskup Bernardus. Tahun 2007–2014 didapuk sebagai pimpinan Ordo Santo Augustinus (OSA) wilayah Papua, pimpinan para calon pastor OSA atau magister novis tahun 2005–2007. Pernah pula mengajar para calon pastor OSA di Postulat dan Novisiat OSA di Sorong tahun 2005–2016, dan Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Benediktus, Sorong periode 2007-2012.
Tak sampai di situ. Uskup Bernardus, putra petani kecil dari Bokraby, juga aktif dalam gerakan pemberdayaan dan pengembangan budaya Papua dan masyarakat adat, kampanye perlindungan hutan atau ekologi di tanah Papua.
Pada tahun 2006–2012 ia tercatat sebagai Anggota Dewan Konsultatif Keuskupan Manokwari–Sorong. Sejak 2006 hingga saat ini, ia menjadi pembina kaum muda dan mahasiswa Katolik asal Maybrat di Yogyakarta. Sejak 25 Januari 2023, ia menjabat Ketua STFT Fajar Timur sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi Uskup Timika di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (14/5 2025).
Diangkat Jadi Uskup
Pemimpin umat Katolik sedunia Paus Fransiskus mengangkat Dr Bernardus Bofi twos Baru, OSA menjadi Uskup Timika. Pengangkatan itu kemudian diumumkan secara resmi oleh Uskup Jayapura Mgr Dr Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr di Gereja Gembala Baik Abepura.
Pengumuman tersebut juga disaksikan umat melalui live streaming kanal YouTube Katedral Timika dan kanal YouTube Komsos Keuskupan Timika saat berlangsung Doa Rosario dan doa untuk kesembuhan Sri Paus di Gereja Paroki Katedral Tiga Raja, Timika, Papua, Rabu (8/3 2025) pukul 12 siang waktu Roma (Rinunce e nominee) atau pukul 18.000 WIB dan pukul 20.00 WIT.
“Keluarga tidak tahu berita pengangkatan adik Pastor Bernardus menjadi Uskup Timika. Kami hanya tahu dia sedang mengemban tugas sebagai dosen sekaligus Ketua STFT Fajar Timur. Tapi, tiba-tiba kami juga dapat kabar dia ditunjuk Bapa Paus jadi Uskup tanggal 8 Maret 2025,” ujar Benyamin, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, Papua, Rabu (14/5 2025).
Menurut Benyamin, saat mendengar kabar itu, banyak anggota keluarga menangis haru. Namun Benyamin mengingatkan, kita semua boleh menangis tapi juga kita tidak tahu sebenarnya rencana Tuhan begitu. “Saya pegang handphone lalu kami nonton rame-rame pengumuman dari Katedral Tiga Raja,” kata Benyamin.
Mata keluarga tertuju pada handphone, menyaksikan langsung pengumuman pengangkatan Uskup Bernardus menggembalakan umat Keuskupan Timika. Benyamin pun tak kuasa menahan tangis merasa haru atas karya Tuhan kepada keluarga.
Ia bersama keluarga tak membayangkan, sang adik dipilih Tuhan menggembalakan umat di Keuskupan Timika. Usai pengumuman sebagai Uskup, telepon Benyamin berdering. Suara Uskup Bernardus terdengar dari balik telepon. Suara sang adik melegakan Benyamin dan keluarga besar. Doa dan ungkapan syukur kepada Tuhan tak henti terdaras atas karya agung-Nya keluarga besarnya.
“Kami datang dari keluarga biasa-biasa saja. Orangtua kami petani kecil. Sejak ade Pastor Bernardus meniatkan diri menjadi seorang imam, keluarga hanya berdoa agar Tuhan selalu menyertai perjalanan panggilannya menjadi seorang pelayan Sabda lalu melayani umat di mana saja ia ditugaskan. Doa kerahiman dan novena keluarga berjalan seperti biasa. Sejak beliau diumumkan menjadi Uskup Timika, keluarga besar kami baik di Maybrat, Sorong, Fakfak maupun Jayapura khusuk dalam doa sehingga acara tahbisan berjalan aman dan sukses sesuai rencana dan kehendak Tuhan,” kata Benyamin.
Respon Usai Terpilih
Uskup Bernardus terpilih menggembalakan umat Keuskupan Timika sejak takhta keuskupan kosong sejak Uskup pertama John Saklil, Pr meninggal di Timika, Rabu (3/8 2019) dalam usia 59 tahun. Saat terpilih menggembalakan umat di keuskupan yang meliputi wilayah Provinsi Papua Tengah dan Papua, Uskup Bernardus tengah menunaikan tugasnya sebagai dosen sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura.
Keputusan Sri Paus memilihnya sebagai Uskup Timika, direspon Uskup Bernardus dengan menceritakan kisah panggilan Agustinus dari Hippo atau Santo Agustinus. Dalam sambutannya, Uskup Bernardus mengatakan, saat Agustinus dipilih menjadi Uskup Hippo di Afrika Utara ia menolak.
Penolakan itu lahir karena Agustinus khawatir, ia akan jatuh dalam godaan kekuasaan. Bagi Agustinus, kata Uskup Bernardus, menjadi Uskup bukan tugas yang ringan tetapi berat. Karena itu, Uskup Bernardus mengajak umat bersyukur, berterima kasih kepada Tuhan atas doa-doa dan air mata dari mama-mama Papua, dari seluruh umat di tanah Papua.
“Keuskupan Timika sede vacante (kursi kosong) sudah lima tahun lebih. Tetapi, hanya rahmat Tuhanlah ini terjadi. Pada kesempatan ini, saya mau mengutip refl eksi Santo Agustinus tentang pengalamannya, perasaannya ketika dia pun dipilih menjadi Uskup di Keuskupan Hippo di Afrika Utara tahun 354. Agustinus ketika dipilih oleh umat, mereka berteriak, ‘kami mau Agustinus menjadi Uskup Hippo’. Agustinus sebenarnya tidak mau. Hatinya sedih, menangis. Karena menjadi beban yang berat, menjadi Uskup adalah godaan besar karena akan jatuh pada kekuasaan, ujian, dan jatuh pada godaan-godaan kesombongan,” kata Uskup Bernardus.
Agustinus, ujar Uskup Bernardus, sebenarnya menolak. Tidak mau menerima tugas sebagai Uskup tetapi satu titik yang ia katakan, ‘saya takut kemungkinan ini. Pada mulanya saya mencari keselamatan di tempat yang terendah, tempat terakhir daripada resiko naik ke atas jabatan tinggi karena akan tergoda oleh kesombongan, pujian, dan status quo. Saya sebenarnya lebih suka jadi seorang biarawan. Hidup dalam kontemplasi, mencari Tuhan dalam keheningan dan studi Kitab Suci. Tetapi saya tidak bisa menolak karena sang Gembala Agunglah yang memilih untuk menggembalakan gereja-Nya’. Perasaan Agustinus diakui Uskup Bernardus sama dengan dirinya.
“Perasaan Agustinus sama dengan saya juga. Saya sebenarnya tidak punya keinginan menjadi Uskup. Saya mau jadi seorang Agustinian, saya seorang biarawan. Saya mau hidup dalam kontemplasi, mencari Tuhan dalam doa dan keheningan. Tetapi Gereja Papua membutuhkan. Yesus Gembala Agung membutuhkan itu. Waktu saya ketemu Nuncio, Nuncio mengatakan hal yang sama. Saya katakan, inilah pilihan Kristus sendiri, Sang Gembala Agung, saya siap menerima,” kata Uskup Bernardus.
Usai diumumkan dan ditahbiskan menjadi Uskup, umat Katolik Timika menyambutnya dalam doa dan ucapan syukur. Uskup Bernardus diharapkan menjadi gembala dengan semangat baru bersama pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten melayani umat di wilayah keuskupannya. Bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat dan masyarakat menjadi salah satu tugas penting demi kemuliaan nama Tuhan. Selain itu, masalah kegelisahan dan kecemasan umat dan masyarakat yang akrab dengan konfl ik kekerasan menjadi bagian tak terpisahkan dari tugas pelayanan pastoral dan penggembalaan.
“Bapa Uskup menjadi tumpuan dan harapan kami. Ini sejalan dengan motto tahbisan beliau, Aku Adalah Pintu. Bapa Uskup dan para imam adalah penyambung lidah kami, umatnya di saat keluarga-keluarga umat Katolik dan warga masyarakat mengalami kesulitan baik dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan urusan ekonomi. Hari ini, saya bawa kurang lebih tiga ratus warga menghadiri tahbisan di Katedral Tiga Raja Timika. Mereka sangat rindu melihat dari dekat gembala kami. Penantian selama lima tahun lebih Tuhan jawab dalam Misa Tahbisan dan perayaan syukur,” ujar Thobias Natiyepaku, umat Katolik sekaligus Kepala Kampung Miyoko, Distrik Mimika Tengah di Timika, Rabu (14/5). (*)










