ILAGA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA didampingi Dekan Dekanat Moni-Puncak Jaya Pastor Yanuarius Yance Yogi, Pr, Jumat (29/5) pagi mengunjugi Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.
Kedatangan Uskup Bernardus bersama rombongan mengutip papuatengah.tribunnews.com, Jumat (29/5) disambut antusias dan meriah ratusan umat Katolik dan warga masyarakat di Puncak dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Puncak.
Dalam kunjungan tersebut Uskup Bernardis dan rombongan disambut juga Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Puncak Ny Sujatinah Elvis Tabuni. Kabupaten Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya, Papua Tengah masuk dalam wilayah Dekanat Moni-Puncak Jaya. Keuskupan Timika.
Uskup Bernardus tiba di Bandara Ilaga, menggunakan pesawat AMA PK-RCB yang take off dari Bandara Timika. Kedatangan Mgr Bernardus, Uskup putra asli Papua disambut dengan tarian khas Papua wilayah pegunungan.
Setelah dari Bandara Ilaga, Uskup Timika diarak menuju Gereja Santu Petrus Ilaga, Distrik Gome, Puncak. Setelah itu Uskup Timika akan bergeser ke pastoran untuk istirahat.
Pada, Sabtu (30/5) Uskup Bernardus juga akan melakukan kunjungan Wuloni dan Mundidok. Kemudian, pada Minggu (31/5) Uskup bersama umat di Gome melakukan acara bakar batu dilanjutkan dengan Misa Krisma. Setelah itu, pada Senin (1/6) Uskup Bernardus akan melaksanakan Misa pagi sebelum kembali ke Timika.
Putra Petani dari Kampung Bakrabi
Mgr Bernardus Bofitwos Baru lahir 22 Agustus 1969 di Dusun Bokraby (Bakrabi), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Ia terlahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara dari pasangan suami-istri Amus Awitayawan Baru (Alm) dan Sawoazaka Bame (Almarhumah) serta Salomina Bohoato Bame (Almarhumah).
Kakak dan adik Uskup Bernardus yaitu: Sofia Baru (petani), Lea Baru (petani), Amandus Baru (PNS), Benyamin Baru (PNS), Alexander Baru (petani), Amus Awitayawan Baru, dan Anna Baru (petani).
Semasa hidup, pasutri petani ini menyibukkan diri menanam dan merawat kebun miliknya tak jauh dari Bokraby. Panenan kebun seperti keladi, petatas, kasbi (ubi kayu), pisang, dan jagung menjadi menu bagi anak-anak mereka semasa kecil.
“Ayah kami suka berburu babi hutan, kanguru pohon, kuskus, dan pasang jerat babi hutan. Orangtua kami saling mengasihi satu sama lain. Mereka juga sangat mencintai kami semua. Ayah dan kedua ibu kami meninggal sejak adik Uskup Bernardus masih duduk di SMP Don Bosco Fakfak,” ujar Benyamin Baru, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Bernardus kecil masuk SD YPPK Suswa dan tamat tahun 1985. Ia kemudian lanjut di SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Don Bosco Fakfak hingga tamat tahun 1987.
Setelah itu melanjutkan studi di SMA YPPK Santo Agustinus Sorong hingga selesai tahun 1990, Bernardus lalu melanjutkan kuliah Diploma 3 (D-3) di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Filial Malang di Semarang, Jawa Tengah hingga lulus tahun 1995. Setelah itu merampungkan studi S-1 di STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura, tahun 1999.
Sebelum ditunjuk jadi Uskup, sebagai imam ia aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan pelayanan kemasyarakatan. Uskup Bernardus pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Ordo Santo Augustinus, Vikariat Papua dan dosen STFT Fajar Timur, Abepura. Uskup Bernardus juga dikenal sebagai imam yang pintar dan rendah hati.
Semangat belajar tak pernah padam dalam hati Uskup Bernardus. Tahun 2005, ia terbang ke Roma lalu masuk Fakultas Teologi Misi di La Pontifi cia Università Urbaniana atau Universitas Kepausan Urbaniana.
Ia kemudian meraih gelar doktor bidang Misiologi setelah mempertahankan disertasi berjudul Traditional Ritual Symbols in Youth Initiation and Religious Beliefs Among the Maybrat of West Papua: A Missiological Study tahun 2018.
Sederet tugas dari pimpinan OSA pernah diemban Uskup Bernardus. Tahun 2007–2014 didapuk sebagai pimpinan Ordo Santo Augustinus (OSA) wilayah Papua, pimpinan para calon pastor OSA atau magister novis tahun 2005–2007.
Mgr Bernardus pernah juga mengajar para calon pastor OSA di Postulat dan Novisiat OSA di Sorong tahun 2005–2016, dan Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Benediktus, Sorong periode 2007-2012.
Tak sampai di situ. Uskup Bernardus, putra petani kecil dari Bokraby, juga aktif dalam gerakan pemberdayaan dan pengembangan budaya Papua dan masyarakat adat, kampanye perlindungan hutan atau ekologi di tanah Papua.
Pada tahun 2006–2012 ia tercatat sebagai Anggota Dewan Konsultatif Keuskupan Manokwari–Sorong. Sejak 2006 hingga saat ini, ia menjadi pembina kaum muda dan mahasiswa Katolik asal Maybrat di Yogyakarta. Sejak 25 Januari 2023, ia menjabat Ketua STFT Fajar Timur sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi Uskup Timika di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Rabu (14/5 2025).
Diangkat Jadi Uskup
Pemimpin umat Katolik sedunia Paus Fransiskus mengangkat Dr Bernardus Bofi twos Baru, OSA menjadi Uskup Timika. Pengangkatan itu kemudian diumumkan secara resmi oleh Uskup Jayapura Mgr Dr Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr di Gereja Gembala Baik Abepura.
Pengumuman tersebut juga disaksikan umat melalui live streaming kanal YouTube Katedral Timika dan kanal YouTube Komsos Keuskupan Timika saat berlangsung Doa Rosario dan doa untuk kesembuhan Sri Paus di Gereja Paroki Katedral Tiga Raja, Timika, Papua, Rabu (8/3 2025) pukul 12 siang waktu Roma (Rinunce e nominee) atau pukul 18.000 WIB dan pukul 20.00 WIT.
“Keluarga tidak tahu berita pengangkatan adik Pastor Bernardus menjadi Uskup Timika. Kami hanya tahu dia sedang mengemban tugas sebagai dosen sekaligus Ketua STFT Fajar Timur. Tapi, tiba-tiba kami juga dapat kabar dia ditunjuk Bapa Paus jadi Uskup tanggal 8 Maret 2025,” ujar Benyamin, kakak kandung Uskup Bernardus di Timika, Papua, Rabu (14/5 2025).
Menurut Benyamin, saat mendengar kabar itu, banyak anggota keluarga menangis haru. Namun Benyamin mengingatkan, kita semua boleh menangis tapi juga kita tidak tahu sebenarnya rencana Tuhan begitu. “Saya pegang handphone lalu kami nonton rame-rame pengumuman dari Katedral Tiga Raja,” kata Benyamin.
Mata keluarga tertuju pada handphone, menyaksikan langsung pengumuman pengangkatan Uskup Bernardus menggembalakan umat Keuskupan Timika. Benyamin pun tak kuasa menahan tangis merasa haru atas karya Tuhan kepada keluarga.
Ia bersama keluarga tak membayangkan, sang adik dipilih Tuhan menggembalakan umat di Keuskupan Timika. Usai pengumuman sebagai Uskup, telepon Benyamin berdering. Suara Uskup Bernardus terdengar dari balik telepon. Suara sang adik melegakan Benyamin dan keluarga besar. Doa dan ungkapan syukur kepada Tuhan tak henti terdaras atas karya agung-Nya keluarga besarnya.
“Kami datang dari keluarga biasa-biasa saja. Orangtua kami petani kecil. Sejak ade Pastor Bernardus meniatkan diri menjadi seorang imam, keluarga hanya berdoa agar Tuhan selalu menyertai perjalanan panggilannya menjadi seorang pelayan Sabda lalu melayani umat di mana saja ia ditugaskan. Doa kerahiman dan novena keluarga berjalan seperti biasa. Sejak beliau diumumkan menjadi Uskup Timika, keluarga besar kami baik di Maybrat, Sorong, Fakfak maupun Jayapura khusuk dalam doa sehingga acara tahbisan berjalan aman dan sukses sesuai rencana dan kehendak Tuhan,” kata Benyamin. (*)










