SEMARANG, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Jayawijaya Atenius Murip, SH, MH dan Wakil Bupati Ronny Elopere, SIP, MKP, Kamis (20/2) tepat setahun memimpin Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Murip dan Elopere resmi dilantik Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto bersama 961 kepala daerah, baik gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati, dan walikota-wakil walikota di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Tepat setahun mengemban mandat formal, pada Jumat (20/2) Murip langsung terbang dari Wamena, kota Kabupaten Jayawijaya menuju Semarang, Jawa Tengah. Di sebuah aula di Semarang, kota Provinsi Jawa Tengah, provinsi yang dipimpin duet Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, orang nomor satu Jayawijaya itu berbaur di tengah anak-anak asli Papua Pegunungan dari Jayawijaya, tanah kelahirannya.
“Tepat setahun bersama Pak Ronny Elopere menjabat Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya, saya langsung bergegas menuju Semarang. Mereka semua ini adalah calon generasi emas Jayawijaya. Pendidikan adalah investasi emas kemajuan Jayawijaya,” ujar Bupati Atenius Murip di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (22/2).
Di sebuah aula, Bupati Murip berbaur bersama 44 anak asal Jayawijaya dalam Program Generasi Emas Anak Jayawijaya. Puluhan siswa-siswi ini duduk bersila dalam suasana santai sembari mendengar nasehat, arahan, dan semangat terkait arti dan makna penting pendidikan ketrampilan demi masa depan Jayawijaya, tanah leluhurnya.
Selama di Semarang anak-anak jalanan dan putus sekolah mereka mengikuti program non reguler seperti kerja bangunan, las besi, kuliner, anyaman, musik, bahasa Inggris untuk menjadi pemandu wisata (tour guide) dan ketrampilan, skill lainnya.
“Sebagian dari anak-anak ini pernah hidup di jalanan tanpa pengawasan orangtua. Mereka hidup di tengah ancaman lingkungan yang kurang produktif dan berpotensi menjebak pada pengaruh miras bahkan narkoba. Melalui Program Generasi Emas Anak Jayawijaya kami berinisiatif untuk menyelamatkan masa depan lewat jalur pendidikan,” kata Murip.
Menurut Murib, pria kelahiran 20 April 1977 di Kampung Megapura, Distrik Asolokobal, Jayawijaya, program tersebut ia gagas langsung sebagai upaya menekan angka kriminalitas, pencurian serta penyalahgunaan zat adiktif di kalangan anak jalanan.
“Program ini kami gagas mengingat persoalan anak jalanan di Wamena sebagai Kota Provinsi Papua Pegunungan sekaligus kota Kabupaten Jayawijaya merupakan fenomena sosial yang menjadi perhatian saya bersama Wakil Bupati Pak Ronny Elopere,” kata Murip.
Murib menambahkan, fenomena anak jalanan yang banyak berhimpitan dengan pengaruh negatif juga menjadi persoalan serius sekaligus tantangan untuk meminimalisir. Penanganannya perlu melibatkan semua pihak, stakeholder, terutama pemerintah daerah dan pusat, terutama putra-putri asli Jayawijaya dan Papua Pegunungan umumnya.
“Ada pemandangan yang mengkhawatirkan di tengah kehidupan yang serba terbuka di setiap sisi, terutama kemajuan teknologi. Banyak dari mereka hidup tanpa pengawasan memadai dari keluarga. Sebagian dari mereka masih memiliki orangtua, sebagian berasal dari keluarga menengah dan ada yang tidak memiliki orang tua,” katanya.
Menurut Murip, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya mengambil langkah sigap dan tak membiarkan anak-anak larut dalam situasi yang kurang produktif bagi mereka sebagai calon generasi emas Jayawijaya.
“Kami mengambil langkah yang tidak biasa. Melalui komunikasi dan koordinasi antardinas dan stakeholder kami membawa mereka keluar dari kampung halaman menuju Semarang, Jawa Tengah. Di sini (Semarang) mereka didampingi, dibina, dan diperhatikan pendamping agar disiplin diri sehingga masa depan mereka dalam berbagai ketrampilan terbuka lebar,” kata Murip.
Murip menjelaskan, program pelatihan dan pembinaan ini sudah berlangsung sejak Senin (21/7) dan akan berakhir pada Minggu (26/7). Program tersebut berada di bawah naungan Yayasan Terang Bagi Sejahtera Bangsa (Miracle Healing Center).
Menurutnya, selama berada dalam proses pembinaan dan pelatihan bukanlah hal mudah tetapi juga penuh tantangan saat berada di tanah rantau. Anak-anak masih membutuhkan sentuhan kasih sayang dari para pendamping.
“Proses pembinaan mereka selama berada di Semarang tentu bukan perkara mudah. Bisa saja kebiasaan lama selama masih berada di kampung terbawa pula saat tinggal di kota besar seperti Semarang. Puji Tuhan. Melalui pendampingan psikolog dan dosen putra asli Papua Pegunungan dan pihak yayasan, anak-anak merasa at home, krasan seperti di rumah sendiri,” ujar Murip.
Selama kunjungannya di Semarang pada Jumat-Minggu (20-22/2) Bupati Murip didampingi pengurus serta staf Yayasan dan Gasper Tabuni, dosen sekaligus mahasiswa Program Doktor Universitas Kristen Satya Wanaca (UKSW) Salatiga dan Faradiba Anugerah Kaay Tabuni, S.Psi, Psikolog.
“Kami bangga. Di sela kesibukan Pa Bupati merayakan setahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Pak Ronny Elopere membangun daerah demi kemajuan masyarakat, beliau masih menyempatkan diri menuju Semarang dan bertemu langsung dengan adik-adik dalam Program Generasi Emas Anak Jayawijaya,” kata Gasper Tabuni.
Menurut Gasper, ada kebahagiaan terpancar dari raut anak-anak saat bertemu langsung Bupati Murip. Dalam suasana penuh kekeluargaan, Murip mendengar langsung isi hati anak-anak bahwa perubahan mentalitas, cinta masa depan melalui pendidikan adalah kebutuhan Jayawijaya dan Papua Pegunungan.
“Selama dua hari, Pak Bupati berbaur dengan anak-anak, mendengarkan keluhan warga melalui pengurus yayasan serta menerima laporan dari para mentor dan pendamping,” kata Gasper, intelektual muda dan akademisi putra asli Papua Pegunungan.
Psikolog Faradiba Kaay Tabuni mengaku bangga dengan kepercayaan yang diterima dari Bupati Murip ikut mendampingi anak-anak asal Jayawijaya dari aspek psikologi. Perempuan psikolog pertama Papua Pegunungan mengaku, belajar bahwa menjadi psikolog bukan tentang menjadi yang paling tahu.
“Kita belajar psikologi bukan menjadi paling tahu tetapi tentang menjadi yang paling sadar. Sadar akan batas diri, sadar akan konteks klien, dan sadar akan etika yang harus dijaga. Kami ditempa untuk berpikir kritis, bekerja dengan cermat, dan hadir dengan empati tanpa kehilangan ketegasan profesional,” kata Faradiba, psikolog jebola Universitas Katolik Soegiapranata Semarang.
Faradiba mengaku, sebagai psikolog asli dari Papua Pegunungan, ia menyadari bahwa wilayah itu tidak hanya kaya budaya tetapi lama hidup dalam keterbatasan layanan kesehatan jiwa. Ia menyaksikan bagaimana banyak orang memendam beban batin tanpa ruang aman untuk bercerita.
“Tidak semua orang memiliki akses pada pendampingan psikologis. Tidak semua luka sempat diberi bahasa dan tidak semua sistem siap menampung kebutuhan pemulihan. Pengalaman ini menanamkan satu kesadaran kuat dalam diri saya. Niat baik saja tidak cukup. Kompetensi, etika, kepekaan budaya, dan niat baik justru bisa melukai. Karena itu, pendidikan profesi psikolog menolong semua untuk memahami bahwa tugas psikolog bukan menjadi penyelamat, melainkan menjadi rekan perjalanan bagi individu, keluarga, dan komunitas dalam proses pemulihan mereka,” katanya.
Sedangkan Bupati Murip dalam kesempatan itu mengajak anak-anak agar tetap semangat selama berada dalam masa pendampingan dan ketrampilan. Jauh-jauh dari Jayawijaya, anak-anak diharapkan memiliki pengetahuan serta ketrampilan baru bahwa kemajuan daerah dimulai dari diri sendiri.
“Kalau anak-anak ini tidak berubah, untuk apa kita membawa mereka jauh-jauh dari Wamena ke tanah Jawa? Perubahan itu harus nyata dan berdampak bagi diri sendiri, keluarga, gereja, dan masyarakat Jayawijaya,” kata Murip.
Murip juga menugaskan secara khusus dua putra asli Papua Pegunungan untuk mendampingi anak-anak secara intensif. Pengawasan dan pembinaan dari pendamping diharapkan tidak hanya fokus pada karakter, disiplin, dan spirit untuk maju tetapi juga pada pemulihan psikologis dan pembentukan karakter berakar pada budaya mereka sehingga berdampak pada lingkungan sekitarnya.
Menurut Gasper, sebelum kembali ke Papua Pegunungan, Bupati Murip juga mengikuti ibadah bersama anak-anak di Jemaat Kristen Indonesia (JKI), gereja yang menaungi yayasan tersebut. Ibadah menjadi momentum rohani sebagai panduan dalam pembentukan nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas. (*)










