OPINI  

Sekolah Sebagai Sedes Sapientiae

Ben Senang Galus, Dosen dan Esais, tinggal di Yogyakarta. Foto: Istimewa

Oleh Ben Senang Galus

Dosen dan Esais, tinggal di Yogyakarta

FILSUF Yunani kuno Lucius Annaneus Seneca (4 SM-65 SM), terkenal dengan ucapannya yang dalam bahasa Latin: non scholae, set vitae discimus. Artinya, belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup. Dalam ungkapan lain mempunyai konotasi yang sama yaitu disceo ergo sum: saya belajar maka saya ada.

Ungkapan Lucius sebenarnya, mau mengingatkan kepada guru bahwa peserta didik tidak hanya kita dorong untuk mempraktikkan disceo ergo sum, tetapi mengajak mereka untuk menyadari non scholae, set vitae discimus.

Di ungkapan ini, mengandung makna paling mendalam, yakni belajar bukan hanya sekadar mengejar nilai raport, angka-angka, melainkan belajar untuk hidup, belajar menjadi pribadi yang mandiri dan rajin, memiliki kesadaran diri dalam pembelajaran, menjadi manusia jujur, menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Menjala Hati Murid

Belajar menjadi manusia disiplin. Itulah kata kunci dari ucapan Lucius Annaneus Seneca. Artinya komitmen disiplin sekolah ditegakkan. Belajar untuk hidup diantaranya tugas guru ialah “menjala hati murid untuk menghayati dan memperjuangkan nilai keutamaan agar hidup mereka memiliki kelimpahan berkah dan meraih kebahagian.

Lucius hendak mengatakan, non ut discam vivo, sed ut vivam disceo (bukan saya hidup untuk belajar, melainkan saya belajar untuk hidup). Dalam konteks ini, “belajar bukan lagi soal mendapatkan nilai dengan angka-angka yang besar.

Sebaliknya, belajar adalah bagaimana peserta didik dibentuk menjadi manusia seutuhnya, menjadi pribadi yang jujur, dan berkarakter serta beriman kepada Yang Maha Kuasa.”

Di dalam kalimat bijak Lucius itu termaktub makna terdalam dari pendidikan, yakni agar peserta didik tidak hanya mengetahui ilmu, tetapi mampu membangun dirinya menggapai kehidupan yang luhur, berkarakter, hidup itu menerangi.

Hidup itu menghidupi dan berkembang dalam jati diri dan budaya setempat. Dengan demikian, pengetahuan mereka gunakan untuk memelihara kehidupan, bukan kematian seperti aksi para teroris; tidak juga untuk semakin radikal dan membenci pihak-pihak yang berbeda dengan mereka.

Persoalannya, bagaimana agar peserta didik menghayati dan mempraktekkan non scholae, sed vitae discimus itu dalam hidup mereka? Ada beberapa tawaran pemikiran.

Pertama, para guru mendidik siswa-siswinya sesuai makna pendidikan. Pendidik berusaha mengontrol dirinya agar yang dia ajarkan bukan ambisi dirinya sendiri melainkan ilmu-ilmu yang membuat peserta didik menghayati makna pendidikan itu sendiri.

Seperti kita ketahui, istilah pendidikan berasal dari bahasa Latin, yakni educare. Istilah tersebut terdiri dari dua kata, e(x) berarti keluar dan ducere adalah memimpin. Pendidikan adalah suatu proses belajar-mengajar agar seseorang mampu memimpin diri sendiri untuk semakin mencintai yang lain.

Atau keluar dari dirinya sendiri, keluar dari egonya, keluar dari kesombongannya, tidak terpaku pada diri sendiri, tidak memelihara ego dan kesenangan dirinya sendiri. Dengan demikian, pendidikan bukan hanya mengejar nilai, melainkan demi kehidupan yang lebih luhur.

Berdasarkan makna educare itu, proses pendidikan semestinya menuntun seseorang untuk memandang lebih luas sekitarnya, itulah sikap demokratis dan toleransi. Orang terdidik berarti pribadi yang tidak hanya percaya pada pengetahuannya, tetapi melihat ada kebenaran dalam pemikiran orang lain.

Orang terdidik semakin luas horizon pemikirannya, tidak terkurung dalam pemikiran fanatik. Orang terdidik mampu menggunakan akal budinya secara baik-benar, sekaligus memiliki kekuatan logika hati yang mudah memaafkan, melihat yang lain sebagai pribadi yang layak mencinta dan dicintai. Bagi orang terdidik, pengetahuan adalah kekuatan untuk melihat lebih luas dunia sekitar, bukan menjadi sarana membenci yang lain.

Kedua, guru membiasakan siswa-siswa tidak hanya mengetahui ilmu, tetapi mengalami dan merasakan kehidupan. Selain peserta didik dibekali dengan ilmu pasti dan matematis, pendidik perlu mendidik muridnya agar lebih positif melihat perbedaan.

Guru perlu mengajak para muridnya hidup bergaul dengan komunitas yang berbeda dengan komunitas, kelompok dan agamanya. Program live in atau hidup beberapa hari atau beberapa minggu di suatu komunitas berbeda menjadi salah satu pilihan.

Selain itu, program silaturahmi antarsekolah, dengan komunitas masyarakat adat, belajar bersama lintas sekolah dan universitas menjadi sarana untuk saling mengenal dan membina relasi persaudaraan.

Ketiga, peserta didik sebaiknya mempelajari ilmu lain, selain yang diajarkan guru atau mentornya. Tujuannya, agar peserta didik semakin luas pengetahuannya sehingga mampu menyeleksi ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari sang guru di sekolah. Dalam konteks ini, kerjasama dari orangtua, karyawan dan siswa diperlukan.

Kita yakin, jika para pendidik dan peserta didik sungguh membatinkan slogan Lucius dan ketiga tawaran pemikiran ini, maka kecendrungan fanatisme akan terkikis, tawuran dan kekerasan tidak menjadi pilihan menyelesaikan masalah.

Proses pendidikan sudah berada di jalur yang baik dan benar, jika bertujuan memanusiakan peserta didik, memanusiakan manusia muda, memerdekakan. Apabila terjadi hal ini, maka telah terwujud “non scholae, sed vitae discimus”.

Guru maupun karyawan, selain memiliki kemampuan intelegensi, mereka memiliki sifat-sifat sebagai seorang Resi. Seorang Resi adalah seorang bijaksana, yang menguasai ilmu pengetahuan dan sarat akan nilai moral dan agama. Karena guru adalah penggugah hidup dan berkembangnya berbagai nilai-nilai keutamaan sosial kemasyarakatan pada peserta didik. Lalu apakah yang menentukan kesuksesan sekolah?

Tahta Kebijaksanaa

Sekurangnya ada sembilan belas faktor yang menentukan kesuksesan sekolah yang disebut sebagai Sedes Sapientiae (Tahta Kebijaksanaan), yakni (i) Fidelitas (iman), (ii) probitas (kejujuran), (iii) fides (kepercayaan), (iv) fides agendi (iman dalam tindakan), (v) aemulatio (persaingan), dan (vi) disciplina (disiplin).

Berikut, (vii) diligentius laborare (bekerja lebih rajin), (viii) amare cursum honorum (mencintai jalan menuju kehormatan), (ix) ducatus (kepemimpinan), (x) sensus officii erga alios (rasa tanggung jawab terhadap orang lain), (xi) motivatio (motivasi), dan (xii) cogitatio critica (berpikir kritis).

Selain itu, (xiii) fiducia in legibus oboedientibus (kepercayaan pada orang yang taat hukum), (xiv) iustitia (keadilan), (xv) athletica (sportivitas) (xvi) cooperante (kerjasama), (xvii) consequimento (prestasi), (xviii) fratellanda (persaudaraan), (xix) sapientiae ( kebijaksanaan).

Kesembilan faktor tersebut tidak terjangkau oleh indeks prestasi dalam bentuk angka, selain dengan kebijaksanaan. Biasanya peserta didik memperoleh dari kegiatan ekstrakurikuler atau meniru contoh dari tokoh panutan, entah guru, dosen, petani, tokoh agama. Yang terpenting tokoh panutan ini mengalir tahta kebijaksanaan.

Jika nilai-nilai tahta kebijksanaan atau keutamaan sosial itu diterapkan dan menunjang kehidupan sekolah maka sistem nilai itu akan menjamin suatu sekolah dalam penyelenggaraan pendidikannya, sebagai sekolah tahta kebijaksanaan. Itulah yang disebut sebagai sekolah sukses.

Belajar Menjadi Bijak

Seorang murid datang ke kelas, bukan sekadar memperoleh pengetahuan akan tetapi belajar menjadi bijak. Sebab kebijakan adalah mengerti dengan baik. Maka untuk menemukan kebijakan itu seorang guru harus bisa mendialogkan dengan muridnya.

Berikut dialog guru dengan murid:

Magistra (guru): veni pauer discesapere (datanglah kemari, nak, belajarlah menjadi bijak)!

Discipulus (murid): quit est sapare? (apa itu menjadi bijak)?

Magistra (guru): apereest bene intelligere (bijak adalah mengerti dengan baik).

 

Discipulus (murid): quit est quod bene intelligis? (apa itu mengerti dengan baik)?

Magistra: Bene intelligere est esse civem bonum (Mengerti dengan baik ialah menjadi warga negara yang baik).

Discipulus: Quod est esse bonum civis? (Apa itu menjadi warga negara yang baik?)

Magistra: Cum sit bonus civis, est arbor fructifera (Menjadi warga negara yang baik ialah seperti pohon berbuah)

Discipulus: Quid arbor fructifera? (Seperti apakah pohon berbuah itu?)

Magistra: Arborem illam fructiferam, nunquam fructum delectabilem gustavit (Pohon berbuah itu, dia tidak pernah merasakan enaknya buahnya)

Discipulus: Quis gustavit fructum delectamentum? (Siapakah yang merasakan enak buah itu?)

Magistra: Non tu, sed societas (Bukan kamu, melainkan masyarakat)

Discipulus: Quis est societas? (Siapakah masyarakat itu?)

Magistra: Qu illustratione indigent, ministri veritatis fiunt (Mereka yang membutuhkan penerangan, Anda menjadi pelayan kebenaran).

Discipulus: Quid est ministerium veritatis? (Apa itu pelayanan kebenaran?)

Magistra: Servus veritatis est servien in lumine veritatis (Pelayan kebenaran ialah melayani dalam cahaya kebenaran).

Disciplus: Magistra, sapiens esse volo (Guru, aku ingin menjadi guru yang bijak)

Magistra: Sapiens discipulus es, missus es, servien in lumine veritatis, et fac te sicut arborem fructiferam, quam ipse non gustas delicium fructum. Alii sentient et fruentur tuo fructu. Noli altum sapere. Humilis et gratus esse debes (Engkau murid yang bijak, pergilah engkau diutus, melayani dalam cahaya kebenaran, dan jadikan dirimu seperti pohon berbuah yang engkau sendiri tidak merasakan enaknya buahmu). Biarkanlah orang lain yang akan merasakannya dan menikmatinya buahmu. Dan jangan engkau menjadi orang sombong. Hendaknya engkau menjadi orang rendah hati dan pandailah bersyukur)

Discipulus:   Magister signum est temporum, lux veritatis, vita memoriae, magistra vitae, nuntius saeculorum (Guru adalah tanda zaman, cahaya kebenaran, kehidupan ingatan, guru kehidupan, utusan zaman).

Dialog tersebut membawa pesan moral sangat kuat pada pendidik sebagai jalan mencari kebenaran tetapi lebih dari itu melayani dalam cahaya kebenaran (servien in lumine veritatis). Jalan menuju kebenaran itu melewati hati, bukan kepala.

Maka jadikan hatimu, bukan kepalamu, pembimbingmu yang utama. Hadapkanlah ia, kau akan sampai. Hatimu itu ada dalam jiwamu. Pengetahuanmu tentang jiwamu akan mengantarkanmu mengetahui kebenaran itu.

Sekolah sebagai “tahta (rumah) kebijaksanaan” (Sedes Sapientiae) menegaskan perannya bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan lingkungan tempat guru dan siswa bertumbuh menjadi manusia bijak, merasa aman, didengar, dan dipahami. Ini mencakup pembentukan karakter, penanaman nilai luhur, dan pengembangan potensi intelektual agar manusia bermanfaat. Sekolah menjadi pusat hikmat untuk memanusiakan manusia.

Sekolah sebagai tahta (rumah) kebijaksanaan (sedes sapientiae) menekankan sebagai perayaan kebijakan, bukan perayaan lomba, yang dilambangkan dengan sederet piala atau piagam penghargan. Sekolah juga bukan hanya seremonial, melainkan misi hidup untuk menjadi tempat di mana semua anggota (guru, siswa, orang tua) merasa aman, dicintai, dan dituntun menuju kebenaran.

Guru sebagai pendidikan yang bijak, berperan sebagai sosok yang hidup dalam kebijaksanaan, menciptakan suasana yang kondusif bagi siswa untuk berkembang secara emosional dan intelektual, bukan hanya sekadar mengajar kurikulum.

Sekolah adalah tempat di mana potensi siswa dikembangkan, baik dari segi pemikiran kritis, sikap, maupun perilaku, sehingga tumbuh menjadi individu yang bermanfaat.

Konsep ini menekankan bahwa sekolah adalah tempat suci di mana hikmat (kebijaksanaan) disemai, ditumbuhkan, dan dihidupi oleh seluruh warga sekolah, menjadikannya lebih dari sekadar lembaga pendidikan formal (transfer of knowledge).