Refleksi dan Apresiasi atas Keteladanan Pangdam Cenderawasih Mendorong Perdamaian di Wamena

Panglima Komando Daerah (Kodam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, SH, MM bersamaa Bupati Jayawijaya Athenius MurIp, SH dan penulis hadir serta jemaat di sela-sela ibadah di GKI Betlehem Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Minggu (17/5), Foto: Istimewa

PERDAMAIAN bukan sekadar tidak adanya perang, tetapi hadirnya keadilan, kemanusiaan, dan hati yang saling menghormati (Martin Luther King Jr). Filsuf dan ahli teori politik asal Inggris Thomas Hobbes (1588–1679) pernah mengingatkan bahwa tanpa ketertiban dan rasa saling percaya, manusia dapat jatuh dalam situasi “perang semua melawan semua”.

Namun, filsuf terbesar dalam sejarah Barat dan tokoh sentral Abad Pencerahan Immanuel Kant (1724–1804) mengajarkan bahwa perdamaian sejati hanya dapat lahir dari moralitas, penghormatan terhadap manusia, dan kehendak baik antar sesama. Nilai-nilai itulah yang hari ini dirindukan rakyat Papua.

Dengan penuh hormat dan sebagai bagian dari anak bangsa yang lahir dari tanah Papua, penulis menyampaikan apresiasi kepada Panglima Komando Daerah (Kodam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, SH, MM yang pada hari ini, Minggu 17 Mei 2026, hadir beribadah di GKI Betlehem Wamena, di tengah situasi perang suku yang sedang terjadi di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Kehadiran Pangdam Cenderawasih di rumah Tuhan bukan sekadar agenda seremonial. Kehadiran orang nomor satu di Kodam Cenderawasih juga mengandung pesan moral dan spiritual yang sangat kuat bagi masyarakat Papua.

Di tengah suasana konflik, ketegangan, dan trauma sosial yang sedang dirasakan masyarakat, Pangdam menunjukkan sebuah keteladanan bahwa perdamaian adalah sebuah keharusan. Ia (keteladanan) jalan menuju perdamaian yang harus dimulai dari hati yang takut akan Tuhan.

Langkah ini juga memberi pesan bahwa pendekatan keamanan tidak selalu harus diwujudkan melalui kekuatan senjata. Ia membutuhkan pula pendekatan kemanusiaan, kasih, dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat Papua. Kehadiran tersebut setidaknya memberi suhu yang lebih sejuk di tengah krisis kepercayaan sebagian rakyat Papua terhadap TNI.

Pemikiran sosiolog Jerman terkemuka dari Mazhab Frankfurt Jürgen Habermas (1929-2026) menyebutkan bahwa perdamaian hanya dapat dibangun melalui komunikasi yang jujur dan pengakuan terhadap martabat manusia. Karena itu, Papua membutuhkan pendekatan dialogis, bukan sekadar pendekatan koersif.

Rakyat ingin melihat aparat negara hadir bukan hanya sebagai penjaga stabilitas, tetapi juga sebagai saudara yang mampu mendengar, merangkul, dan menghadirkan rasa aman secara manusiawi.

Semoga langkah hari ini tidak berhenti sebagai simbol sesaat. Namun, ia juga selalu setia menjadi bagian dari konsistensi pendekatan kasih dalam strategi teritorial Kodam XVII/Cenderawasih di tanah Papua.

Pendekatan yang menempatkan rakyat sebagai subjek yang harus dihormati martabatnya akan jauh lebih efektif dalam membangun kepercayaan, persaudaraan, dan perdamaian yang berkelanjutan.

Sebagaimana dikatakan pemimpin spiritual India Mohandas Karamchand Gandhi alias Mahatma Gandhi: kemanusiaan tidak akan menemukan kedamaian tanpa menempuh jalan kasih dan kebenaran.

Papua membutuhkan kasih yang nyata, keadilan yang hidup, dan negara yang hadir dengan hati. Damai di tanah Papua tidak akan lahir hanya dari operasi keamanan, tetapi dari keadilan, ketulusan, dan rasa saling percaya antara negara dan rakyatnya. Hormat.

Habelino Sawaki, SH, M.Si.Han

Anak Papua ; Alumnus Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Jakarta