CANCAR, ODIYAIWUU.com — Sejumlah anak asli Papua dari Provinsi Papua Tengah saat ini tinggal di Pusat Rehabilitasi Yayasan Damian Cancar, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di tengah ratusan penghuni panti lainnya, mereka dibina, diberdayakan, dan dibantu proses pendidikannya agar kelak mandiri lalu mengabdi di tengah masyarakat. Sebanyak 13 anak asli Papua Papua dari Papua Tengah, tiba pada Juli 2023 di Cancar, Manggarai, tanah Congkasae.
“Kami sebelas anak tiba di Manggarai untuk melanjutkan sekolah. Kami semua diantar Patoga (Pastor) Hubert untuk tinggal Cancar melanjutkan sekolah di sini. Patoga Hubert saya punya bapa ade. Beliau sebentar saja di Cancar lalu beliau kembali melanjutkan tugasnya di Papua,” ujar Bass Minggus Paskah Magai di Cancar, Manggarai, Flores, NTT, Minggu (11/1).
Menurut Minggus, setelah tamat di SMP Negeri 1 Mapia Bomomani, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah ia bersama teman-teman dan adik-adiknya dibawa ke Cancar untuk melanjutkan sekolah di Manggarai.
“Kami naik pesawat dari Bandara Nabire lalu transit di Manokwari, Sorong, Makassar, Bali, lalu tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Pulau Flores. Saya dan tiga teman perempuan masuk di SMK Kesehatan Ruteng. Ada 4 orang masuk SMP, dan SD ada tiga orang. Dua orang memilih kembali ke Papua. Kami senang bisa tinggal di Cancar dan sekolah di sini. Para suster juga mengurus kami seperti keluarga sendiri,” kata Minggus lebih lanjut.
Pendamping anak-anak Pusat Rehabilitas Cancar Yayasan Santo Damian Sr Franselin, SSpS mengatakan, karya pelayanan para Suster Abdi Roh Kudus atau Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) Flores Bagian Barat dijalankan oleh tiga yayasan, yaitu Yayasan Kesehatan, Yayasan Pendidikan, dan Yayasan Sosial Santu Damian.
“Yayasan Santu Damian bergerak di bidang sosial di mana salah satunya menerima anak-anak berkebutuan khusus untuk diatur dan diberdayakan sesuai potensi masing-masing agar kelak mandiri di mana mereka tinggal,” kata Sr Franselin di Cancar, Manggarai, Flores, Minggu (11/1).
Menurut Sr Franselin, Yayasan Santu Damian menerima tiga belas anak berbagai usia dari Papua. Para suster Putri Reihna Rosari (PRR) yang berkarya di Papua menganjurkan anak-anak asli Papua agar tinggal di panti untuk ditampung, dilatih disiplinnya, dibina, dan dibantu kelanjutan pendidikanya agar memiliki masa depan lebih baik. melanjutkan sekolahnya, para suster PRR menganjurkan untuk tujuan ini bisa ke Santu Damian Cancar di Flores, Manggarai.
“Kami dihubungi Pastor Hubert agar anak-anak Papua ini diterima tinggal di Panti Asuhan Cancar agar ditampung, dibina, dan dibantu kelanjutan pendidikan mereka. Kami menerima dengan senang hati,” kata Sr Franselin, biarawati kelahiran Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.
Sr Franselin menjelaskan, Panti Rehabilitasi Cancar berkarya di bidang sosial kemanusiaan dan pemberdayaan, menggerakkan setiap potensi penghuni agar kelak mandiri menjalankan kehidupan selanjutnya di mana mereka tinggal.
“Saat dihubungi Pastor Hubert agar menerima anak-anak di panti ini, kami berpikir anak-anak ini berkebutuhan khusus dalam artian fisiknya tidak kelihatan,” kata Sr Franselin, biarawati yang lima tahun lebih menjadi misionaris di Juba, kota negara Sudan Selatan, benua Afrika.
Namun, menurutnya, anak-anak asli Papua ini memiliki kebutuhan khusus terkait latar belakang orangtua yang melahirkan, keluarga, dan masa depan mereka di bidanf pendidikan.
“Pada Juli 2023 ada 13 anak dari berbagai usia tiba di Cancar diantar Pastor Hubert. Mereka jauh-jauh dari Papua dan kami keluarga besar di panti menerima sepenuh hati sebagai saudara,” ujar Sr Franselin.
Keberangkatan anak-anak dari Papua ke Manggarai tidak hanya dibantu orangtua tetapi juga imam, guru, dan katekis, yang mengenal orang mereka. Saat ini ada sebelas yang sudah betah tinggal dan sekolah. Dua lain meminta ijin kembali ke kampung halaman di Papua Tengah.
Sr Franselin mengaku, saat ini anak-anak sedang menjalani pembinaan sekaligus melanjutkan pendidikan. Ada empat anak duduk di bangku SMK, 4 di SMP, dan tiga di SD. Pihak SSpS dan yayasan berupaya mencari donatur yang berbaik hati untuk membantu meringankan biaya sekolah anak-anak asli Papua ini.
“Anak-anak ini sangat senang bisa melanjutkan sekolah di tangan SSpS Flores Bagian Barat. Meski demikian, dalam perjalanan kami mengalami kesulitan karena ratusan penghuni panti berkebutuhan khusus serta anak-anak lain yang melanjutkan sekolah kami ikut biayai. Kami terus berdoa dan berusaha agar anak-anak dari Papua ini bisa melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi,” ujar Sr Franselin.
Selama ini, kata Sr Franselin, ada donator yang berbaik hati membantu yayasan tetapi tidak rutin. Pihak yayasan juga setia berdoa dan berusaha agar anak-anak asli Papua ini dapat melanjutkan pembinaan, terutama meraih cita-citanya di hari esok.
“Kami semua berdoa dan berharap agar setelah menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, mereka bisa mengabdi di mana saja, terutama di kampung halaman atau tanah Papua umumnya. Mereka ini adalah generasi emas orangtua, masyarakat, pemerintah daerah, bangsa, dan negara,” kata Sr Franselin. (*)










