SUGAPA, ODIYAIWUU.com — Ketua Tim Mediasi Penanganan Konflik Bersenjata di Kabupaten Intan Jaya Yoakim Mujizau mengecam keras aksi penembakan pesawat Cessna di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2) sekitar pukul 10.00 WIT.
Aksi penembakan terhadap pesawat perintis yang dilakukan Kelompok TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo dari Batalyon Kabibal, pimpinan Panglima Brigjen Elkius Kobak serta Komandan Operasi Kopitua Heluka nerujung pilot dan co-pilot meregang nyawa.
Menurut Yoakim, tindakan tersebut sangat tidak manusiawi karena pesawat perintis memiliki peran vital dalam melayani masyarakat di daerah terpencil Papua yang belum sepenuhnya terjangkau pelayanan pemerintah.
“Pesawat perintis itu hadir untuk menjangkau dan melayani masyarakat di kampung-kampung dan distrik-distrik yang belum terlayani. Para pilot ini berani mempertaruhkan keselamatan demi mengantar kebutuhan hidup masyarakat di wilayah pelosok,” ujar Yoakim dari Sugapa, kota Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (12/2).
Yoakim menjelaskan, keberadaan pesawat kecil tersebut sangat membantu masyarakat, terutama dalam distribusi bahan pokok seperti beras, gula, garam, minyak goreng, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Selain itu, pesawat perintis juga menjadi sarana transportasi utama bagi warga yang hendak bepergian dari dan ke daerah terisolir.
“Melalui pesawat kecil inilah masyarakat bisa merasakan pelayanan. Pemerintah kabupaten tidak mungkin menjangkau semua distrik secara langsung. Pesawat perintis menjadi penghubung utama,” kata Yoakim, intelektual muda Papua Tengah.
Yoakim menegaskan, kalau mau berperang, silakan berperang tetapi dengan kombatan karena masing-masing mempertahankan harga diri yaitu antara kelompok Papua merdeka harga mati, NKRI harga mati.
Yoakim menegaskan, oleh karena masing-masing mempertahankan harga diri, ya silakan berperang antara kombatan dengan kombatan. Jangan melibatkan dan jangan meneror, menembaki pilot, tenaga kesehatan, tenaga guru, dan warga sipil lainnya.
Pihaknya meminta agar tindakan serupa tidak terulang dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap perjuangan. Semua TPNPB OPM yang melakukan perlawanan, yang melakukan gerakan-gerakan di daerah gunung harus menjaga aspek kemanusiaan.
“Kemanusiaan itu di atas segala-galanya. Karena mereka juga berjuang mempertahankan diri, mereka mengatakan mereka mau merdeka dan lain-lain, itu semua karena demi kemanusiaan,” ujar Yoakim lebih lanjut.
Yoakim juga mengingatkan agar jangan mengesampingkan aspek kemanusiaan pihak lain. Rakyat sipil, terutama pilot-pilot yang berani masuk ke wilayah terpencil demi menjamin kelangsungan hidup masyarakat tetap harus dilindungi.
“Aksi penembakan pesawat bahkan membunuh pilot dan co-pilot seperti ini berdampak pada perputaran ekonomi, pembangunan dan jalannya pemerintahan di wilayah pegunungan. Kita tahu sendiri, Papua wilayah gunung masih terisolir akibat akses ke wilayah ini hanya melalui jalur udara menggunakan pesawat berkapasitas 9-13 pax,” ujar Yoakim. (*)










