DAERAH  

Dewan Penasehat APS Respon Kunjungan Wapres Gibran ke Papua dan Papua Pegunungan

Theofransus Litaay, Ph.D, Dewan Penasehat Analisis Papua Strategis dan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden 2015-2025. Foto: Istimewa

SALATIGA, ODIYAIWUU.com — Dewan Penasehat Analisis Papua Strategis (APS), Jumat (16/1) menyampaikan respon terkait kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka ke Biak, Provinsi Papua dan Jayawijaya, Papua Pegunungan.

“Wakil Presiden telah melakukan kunjungan ke Papua dan Papua Pegunungan menjalankan tugas dari Presiden untuk memantau kemajuan pembangunan Papua dan Papua Pegunungan,” ujar Anggota Dewan Penasehat Analisis Papua Strategis Theofransus Litaay, Ph.D di Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (16/1).

Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga mengunjungi Kabupaten Biak Numfor dan meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) anak-anak sekolah. Gibran juga melihat langsung kegiatan belajar mengajar di sekolah rakyat menengah di Biak, termasuk pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh.

“Dialog Wakil Presiden dengan para pelajar dan guru di Papua tentu sangat bermanfaat karena beliau menerima informasi langsung dari tangan pertama. Informasi itu mengenai hal-hal apa yang dibutuhkan bagi peningkatan pendidikan di Papua. Dalam kesempatan itu beliau langsung berkomunikasi dengan guru selaku pelaku pendidikan,” kata Litaay.

Dalam kunjungan di tanah Papua, Gibran juga memberikan perhatian pada ekonomi lokal di Biak Numfor, khususnya sektor perikanan. Biak Numfor berada di wilayah adat Saireri yang produk utama ekonomi terbesarnya adalah perikanan.

“Wakil Presiden bisa menyaksikan para nelayan asli Biak berperan sangat penting di Pasar Ikan Fandoi. Pemerintah berperan penting karena telah membangun cold storage yang dibangun era Presiden Jokowi,” kata Litaay, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden 2015-2025.

Menurut Litaay, akademisi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, cold storage tersebut memungkinkan untuk hasil tangkapan dari laut bisa disimpan dalam ruangan pendingin. Dengan demikian, bisa dikirim ke daerah lain atau ke luar negeri.

“Ini merupakan satu kekuatan ekonomi yang sangat besar bagi Papua. Program-program Kementerian Kelautan dan Perikanan turut mendukung kesejahteraan nelayan. Wapres juga membagikan bansos kepada para nelayan yang disambut dengan sukacita oleh nelayan,” ujar Litaay.

Pihak Analisis Papua Strategis juga mengapresiasi Wakil Presiden melakukan kunjungan ke Wamena yang dinilai sangat penting. Wamena adalah pusat dari Pemerintahan Kabupaten Jayawijaya dan Jayawijaya juga sekaligus adalah ibukota dari Papua Pegunungan.

“Wapres memberikan perhatian kepada pembangunan kesejahteraan di Papua Pegunungan. Hal ini penting karena Papua Pegunungan adalah salah satu daerah yang cukup tertinggal pembangunan di masa lalu. Provinsi ini juga terdapat kabupaten-kabupaten dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang tergolong rendah,” kata Litaay.

Menurutnya, strategi pemerintah untuk menjadikan wilayah ini satu provinsi tersendiri diharapkan dapat mendorong penyerapan dan penyaluran anggaran, sehingga fokus untuk IPM melalui pembangunan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi lokal dapat lebih terasa pengaruhnya. Dengan demikian, percepatan pembangunan kesejahteraan dapat dihasilkan.

Wapres juga membangun komunikasi sosial yang sangat baik dengan bahasa olahraga. Olahraga merupakan pendekatan komunikasi yang efektif, di mana generasi muda sangat antusias berolahraga.  Beberapa atlet nasional juga berasal dari provinsi ini.

“Wapres bahkan bermain sepakbola bersama dengan para remaja sekolah sepak bola (SSB) dan pejabat, meskipun kondisi cuaca cukup dingin karena Wamena berada pada ketinggian 1600-1800 meter di atas permukaan laut. Jadi cukup dingin iklimnya untuk main sepakbola bagi orang Jakarta. Namun beliau dapat mengatasi kendala iklim dengan cara bermain sepakbola,” ujarnya.

Kunjungan di Wamena yang disambut baik masyarakat. diharapkan di masa mendatang fasilitas olahraga prestasi di Wamena dapat dibangun sehingga prestasi semakin meningkat. Dalam kunjungan itu Wapres melihat bahwa produk unggulan dari Pegunungan Papua adalah kopi.

“Produk kopi ini nilainya sangat tinggi di Indonesia. Oleh karena itu kita perlu memberikan perhatian besar kepada kopi Papua. Itu sebabnya Wapres bertatap muka dengan para pegiat kopi. Kami berharap dari kegiatan tersebut, banyak hal yang dapat dikembangkan, baik kopi Wamena, kopi Nduga, kopi Yahukimo, dan lain-lain bisa diperluas akses pasarnya. Akses pasar bagi produk hasil bumi juga perlu ditingkatkan melalui udara maupun melalui darat,” katanya.

Dari segi dana otsus sudah diberikan peningkatan dari Undang-undang dan pengelolaannya semakin akuntabel karena diawasi langsung oleh kementerian keuangan. Perhatian juga diberikan kepada kaum perempuan dan masyarakat adat.

“Harapan kami adalah pemerintah bisa lebih memperkuat kinerja pemerintah daerah dengan menyediakan dukungan bagi peningkatan kapasitas aparatur sipil negara, ASN. Para ASN muda diberikan kesempatan untuk dilatih, ìn-house training di daerah-daerah yang pelayanan publiknya sudah bagus di Indonesia,” ujar Litaay.

Selain itu, lanjut Litaay, sektor pendidikan, sektor kesehatan, sektor ekonomi lokal, pelayanan publik serta infrastruktur fisik dan digital dapat terus ditingkatkan. Rumah sakit provinsi perlu diperbaiki dan rumah sakit kabupaten perlu dibangun dengan mutu bagus.

Khusus Papua Pegunungan, kata Litaay, oleh karena sebagian besar penduduk hidup di pedesaan dan berniat dalam bidang pertanian, dan banyak di antara mereka adalah ibu-ibu atau mama-mama di Papua maka penguatan ekonomi desa perlu mendapat perhatian khususnya terhadap kaum perempuan. Peran Kementerian Pertanian dibutuhkan menghadirkan penyuluh pertanian wilayah pegunungan.

“Kita tahu ada banyak produk-produk asupan karbohidrat yang sudah berabad dikonsumsi warga di lembah Baliem Jayawijaya seperti hipere, ubi, dan lain-lain. Kalau perlu pemerintah membangun satu fakultas pertanian khusus bidang pertanian pegunungan di Wamena,” kata Litaay. (*)