Analisis Papua Strategis Bedah Perang Amerika-Israel Versus Iran dan Dampaknya Terhadap Dunia

Laus DC Rumayom, S.Sos, M.Si (kiri) Broto Wardoyo, S.Sos, MA, Ph.D (kanan). Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Analisis Papua Strategis (APS), Kamis (5/3) mulai pukul 18.30 WIT menggelar diskusi publik bertajuk Perang Amerika Serikat, Israel vs Iran dan Dampaknya Terhadap Geopolitik Global.

Berdasarkan informasi yang diperoleh menyebutkan, diskusi secara virtual menghadirkan pembicara Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI) Broto Wardoyo, S.Sos, MA, Ph.D.

Diskusi dipandu moderator Laus DC Rumayom, S.Sos, M.Si, yang juga pendiri APS dan APS Center for Development and Global Studies (APS-CDGS) sekaligus dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua.

Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2) melancarkan serangan paling ambisius terhadap Iran yang berujung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meregang nyawa.

Pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar Presiden AS Donald Trump tersebut terjadi setelah orang nomor satu negeri Paman Sam itu berkampanye untuk pemilihan kembali sebagai “presiden perdamaian” dan setelah mengatakan ia lebih menyukai solusi diplomatik untuk kebuntuan dengan Iran.

Trump tidak menyampaikan argumen yang berkelanjutan kepada rakyat Amerika sebelum bertindak, tetapi membahas masalah ini secara singkat dalam pidato kenegaraannya pada Selasa lalu dan kemudian dalam pesan video yang dirilis, Sabtu (28/2).

Trump berulang kali dalam video itu mengatakan, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia mengklaim telah “menghancurkan” program nuklir Iran dalam serangan Juni lalu, tetapi mengatakan, Teheran telah mencoba membangun kembali program tersebut.

“Bayangkan betapa beraninya rezim ini jika mereka pernah memiliki dan benar-benar dipersenjatai dengan senjata nuklir sebagai sarana untuk menyampaikan pesan mereka,” ujar Presiden Trump mengutip Reuters.com di Washington, Sabtu (28/2).

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengungkapkan alasan negaranya menyerang Iran. Rubio tak menampik keinginan melihat tergulingnya rezim di Iran. Namun hal tersebut bukan tujuan utama duet serangan AS-Israel.

“Kami tentu ingin melihat rezim ini digantikan. Seperti yang telah disampaikan Presiden Donald Trump, ia ingin rakyat Iran memanfaatkan momentum ini sebagai kesempatan untuk bangkit dan menyingkirkan para pemimpin tersebut,” ujar Rubio kepada wartawan di Washington, Senin (2/3).

Bulan Sabit Merah Iran menyebut, sedikitnya 555 orang dilaporkan tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang membombardir 131 wilayah administratif di Iran. Data tersebut disampaikan di tengah gelombang serangan intensif terbaru serta serangan balasan Iran terhadap Israel dan aset-aset AS di kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal APS Willem Thobias Fofid mengatakan, awal terbentuknya APS merespons dinamika pembangunan tanah Papua yang saat itu masih dua provinsi yaitu Papua dan Papua Barat sebagai provinsi dengan indeks pembangunan manusia terendah di Indonesia.

APS juga lahir memperhatikan perkembangan Papua selama 20 tahun sejak pelaksanaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua kurun waktu 2001-2021 dalam mencapai tujuan pembangunan serta meningkatkan martabat orang asli Papua dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, perekonomian, infrastruktur, dan kesejahteraan.

“Dengan ide-ide kreatif sesuai profesi masing-masing ditopang posisi Pak Laus sebagai akademisi Universitas Cenderawasih dan latar belakang saya lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, kami menggalang putra-putri Papua di seluruh dunia untuk menggelar Konferensi I APS di Biak 28 April 2022,” ujar Thobias di Jayapura, Papua, Minggu (31/4 2024).

Thobias menambahkan, saat berlangsung konferensi perdana, dibahas isu strategis percepatan pembangunan kesejahteraan di Papua. Pada konferensi pertama tersebut, didukung dua tokoh nasional yaitu Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dan mantan Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI Mar Purn Buyung Lalana.

Menurutnya, APS lahir sebagai jembatan berbagai program kerja pemerintahan dan gerakan sosial di tanah Papua. Wadah ini berisi orang-orang yang mencintai tanah Papua dan masyarakat bumi Cenderawasih. Terminologi APS diakui Thobias lebih mudah diingat karena ringkas. (*)